
“Selamat kembali di Puskesmas Anisa dan Diana,” kata salah satu teman Nakes.
Anisa dan Diana kali ini tidak bertugas jaga melainkan melihat jadwal jaga yang baru, karena tugas mereka di perkemahan sudah berakhir.
Anisa dan Diana nyengir, Anisa menoleh ke arah kanan dan kiri, ia bertanya pada salah satu teman Nakes.
“Mbak dapet liat Dokter Andre gak?,” tanya Anisa.
“Dokter Andre..., tadi sudah datang, dia lihat jadwal trus langsung keluar,” jawab teman Anisa.
“Keluar?? Tapi mobilnya masih ada di parkiran mbak?,” tanya Anisa lagi.
“Maksudku bukan keluar Puskesmas, tapi keluar ruangan Nis, mungkin lagi di Poli atau di ruangan lain,” jawab teman Anisa.
“Ooo…begitu, oke..oke.. maksi ya,” kata Anisa.
Diana menarik tangan Anisa, agak menjauh dari teman – temanya, Diana berbisik dengan Anisa agar tak di dengar teman yang lain.
“Jangan terlalu bertanya sama temen – temen Nis, nanti mereka cari tau lo… kenapa kamu nanya – nanya Dokter Andre, karena gak biasanya kamu kayak gitu,” ujar Diana mengingatkan Anisa.
“Ah, iya juga ya, duuhh… untung kamu ingetin aku, makasi ya,” kata Anisa.
“Sekarang kita lihat jadwal aja, terus ambil satu jadwlnya dan langsung pulang aja,” kata Diana lagi.
“Oke…, tapi aku harus ngubah jadwalku kalau ada yang satu sift dengan Dokter Andre,” Anisa agak menyesal karena mengatakan pada Dokter Andre, ia akan mengubah jadwalnya jika satu sift dengan Dokter Andre.
“Gak usah, kan gak semua satu sift sama Dokter Andre, tinggal kamu tukar sama temen lain aja kalau pas satu sift dengan Dokter Andre, tinggal cari alasan untuk kamu tuker,” kata Diana.
“Eemm…, bagus juga, oke lah, yuk ambil jadwal. ” kata Anisa.
__ADS_1
Diana dan Anisa pergi ke ruangan untuk mengambil jadwal dan langsung pulang, di parkiran Puskesmas, mereka bertemu dengan Dokter Andre, namun Dokter Andre berpura – pura tak melihat, ia langsung masuk kedalam mobilnya dan langsung pergi.
Anisa dan Diana hanya bisa bengong melihat Dokter Andre pergi tanpa menyapa mereka sama sekali. Mereka saling bertatapan dan mengerutkan alis.
“Aaahh… sudah lah yuk kita pulang,” ujar Diana.
“Heemm…,” gumam Anisa yang kecewa dengan sikap Dokter Andre, meskipun Anisa sadar itu karena kesalahannya.
Keesokan harinya Anisa sudah mulai masuk kerja, ia mendapat sift pagi namun kali ini tidak satu sift dengan Diana. Pagi ini suasana di tempat kerja sama seperti hari – hari biasanya, taka da yang berubah.
Saat sift pagi biasanya UGD lebih ramai, ada pasien kontrol luka, pasien terluka, dan lain – lain, begitu juga hari ini, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, waktunya istirahat siang, petugas UGD bergantian beristirahat, makan, dan shalat bagi yang muslim.
Saat Anisa makan di ruang istirahat datang Dokter April, ia duduk di sebelah Anisa.
“Eh.. Dokter April, makan Dok,” Ujar Anisa menawarkan makanan yang ada di depannya.
“Makasi, saya sudah ada kok,” kata Dokter April sedikit ketus.
“Anisa, kamu bener nolak Dokter Andre,” tanya Dokter April, kebetulan di ruang istirahat sedang sepi hanya ada Anisa dan Dokter April.
Anisa berhenti makan, ia menoleh, sejenak Anisa terdiam seperti tampak berfikir, lalu menjawab pertanyaan Dokter April.
“Maaf Dok, Dokter April tau dari mana,?” Anisa balik bertanya.
“Kamu tau kan saya dan Dokter Andre udah kenal dari kecil, udah pasti dia lah cerita sama saya, Cuma saya kaget aja, dia gak pernah cerita kalau dia suka sama kamu tapi tiba – tiba dia bilang ke saya habis ditolak sama kamu,” jawab Dokter April.
Anisa mengawasi sekitaran ruangan, ia takut ada teman – teman lain mendengar.
“Begini Dok, memang benar saya menolak Dokter Andre, saya punya alasan sendiri, saya tidak bisa memaksakan diri saya untuk menerima Dokter Andre karena saya sejauh ini hanya sebatas kagum saja dengan Dokter Andre tidak lebih, saya minta maaf Dok jika Dokter April sebagai teman dekat Dokter Andre merasa tidak suka dengan apa yang saya lakukan, maaaf banget Dok,” kata Anisa.
__ADS_1
“Ya saya memang awalnya kecewa kenapa Andre suka sama kamu, tapi mendengar kamu menolak Andre, aku seneng banget,” ujar Dokter April, raut muka yang tadinya ketus berubah sumringah.
Anisa kaget dengan ekspresi Dokter April, Anisa kira Dokter April akan marah – marah dengannya, ia penasaran dan bertanya dengan Dokter April.
“Maaf Dok, maksud Dokter gimana ya, saya kira Dokter April bakal marah sama saya, kok malah seneng Dok?, jangan – jangan Dokter April suka sama Dokter Andre?,” tanya Anisa sambil melanjutkan makan makanan yang ada didepannya.
“Jangan kasi tau siapa – siapa ya, cukup kamu yang tau, saya memang suka dengan Dokter Andre, dan perasaan ini sudah sejak lama, sejak kita masih SMA.” Kata Dokter April.
“Apa…??, lama banget Dok, memangnya Dokter April tidak pernah menyatakan perasaan Dokter April.” Tanya Anisa.
“Iya saya memang belum pernah bilang ke Andre, saya takut setelah saya bilang terus dia tidak memiliki rasa yang sama dengan saya,nanti dia menjauh dan hubungan pertemananku jadi hancur, sama seperti kamu dan dia saat ini, iya kan?,” ujar Dokter April.
Anisa mengangguk – angguk, “ Iya Dok, dia cerita juga ya sama Dokter April soal dia tidak mau bertemu saya dulu?, jadi sekarang saya harus tukar jaga kalau ada yang satu sift sama Dokter Andre, heemm… ,” Anisa menghela nafas.
“Sabar Nis, dia itu baik kok, Cuma mungkin karena kecewa banget jadi dia memutuskan seperti itu,” kata Dokter April.
“Terus Dokter April gak ada rencana gitu buat ngungkapi perasaan Dokter, takutnya nanti Dokter Andre sama orang lain lagi lo Dok,” ujar Anisa.
“Saya sudah ada rencana kok, tapi gak dalam waktu dekat ini karena dia masih kecewa sama kamu,” kata Dokter April.
Anisa meringis, ada teman lain yang masuk untuk makan siang, Anisa dan Dokter April menghentikan obrolannya.
“Dok saya duluan ya, saya sudah selesai makannya, mau gentian sama teman lain.” Kata Anisa.
“Iya… iya… silahkan,” kata Dokter April sambil memakan makanan siangnya.
Anisa kembali ke ruang UGD, ia duduk sambil bergumam, “ternyata Dokter April suka sama Dokter Andre, waaahhh… untung saja aku tidak menerima Dokter Andre, kalau aku terima sudah pasti Dokter April benci sama aku,” kata Anisa berbicara dalam hati.
"Anisa!! bengong aja." kata salah satu teman jaga Anisa, Anisa terkejut, ia nyengir lalu mengambil segulung kasa untuk di potong kecil dan di lipat, setelah selesai dilipat nantinya akan di masukkan ke alat steril.
__ADS_1
Bersambung….