TAKDIRKU

TAKDIRKU
eps 22


__ADS_3

“Mas, saya mau tanya tolong jawab dengan jujur ya, waktu mas Ais berangkat pulang kampung, mas Ais kirim pesan ke Anisa?,” tanya Dokter Andre ingin memastikan.


“Kok mas Andre tau?, Anisa bilang sama mas Andre?.” Ais balik tanya.


“Gak mas, Cuma nebak aja, ya sudah saya balik duluan, mas Ais nunggu mas Rizal?,” kata Dokter Andre.


“Iya mas, dia lagi nemuin calonnya, hehehe…, hati – hati mas,” ujar Ais. Ais berpura – pura tak tahu kalau Dokter Andre di tolak Anisa.


Dokter Andre meninggalkan tempat perkemahan, tak lama Anisa, Diana, dan Rizal muncul.


“Ais, lagi liatin apa?,” tanya Rizal.


“Eehh…, gak ada kok, lagi nunggu kalian lama sekali keluarnya,” kata Ais.


Anisa mengenali mobil yang Ais lihat, Anisa mengerutkan Alisnya sambil melihat ke arah Ais. Ais pun ikut mengerutkan Alis.


“Yuk jadi makan siang dimana ni?,” tanya Rizal.


“Gimana kalau makan siangnya di deket sini aja, di warung lesehan,” kata Diana.


“Oke, aku ngikut aja,” ujar Anisa.


“Aku juga ikut aja, hehehe…,” kata Ais.


Anisa berboncengan dengan Diana, sedangkan Rizal berboncengan dengan Ais.


Sampailah mereka di warung lesehan, mereka  duduk dan memesan, sembari menunggu pesanan mereka mengobrol soal acara pernikahan Diana dan Rizal yang sebentar lagi akan dilangsungkan.


“Seperti yang aku bilang Nis, untuk resepsi keluargaku dan keluarga bang Rizal sepakat nyewa gedung aja, nanti kamu jadi penerima tamunya ya, bang Ais juga penerima tamu cowoknya, untuk ibuk suruh dateng aja nemenin orang tuaku gak usah repot ngerjain apa-apa oke,” kata Diana.


“Iya kita nyewa gedung yang deket sama kantor, lumayan luas tempatnya,” tambah Rizal.


“Siap!, berarti aku dan ibuku cuman datang aja ya, gak perlu bantu-bantu,” kata Anisa.


“Ya bantulah dek, kan kamu disuruh jadi penerima tamu,” ujar bang Ais.


“hehehe…, iya ya,” kata Anisa.

__ADS_1


Setelah itu mereka menghentikan obrolan mereka karena pesanan sudah datang, Anisa, Ais, Diana dan Rizal menikmati makanan yang mereka pesan.


Selesai makan mereka langsung pulang, di parkiran Ais mengatakn pada Anisa bahwa Ia akan bertamu ke rumah Anisa untuk membicarakan soal lamaran Ais pada ibu Anisa.


Sampai di rumah Anisa mengatakan pada ibunya. “ Ibu bang Ais nanti sore mau kerumah, mau ketemu sama ibu,” kata Anisa.


“Ooh ya??, apa ibu panggil bibik dan pamanmu juga ya?,” tanya ibunya Anisa.


“Jangan dulu bu, ini kan masih belum lamaran yang beneran, bang Ais baru mau minta izin ibu dulu, nanti kalau bang Ais sudah mau bawa orang tuannya baru kita ajak bibi dan paman.” Kata Anisa.


“Ooo… begitu, ya sudah, akhirnya anak ibu sudah ada yang meminang, Ayah pasti bahagia melihat anaknya ini menikah dengan seorang tentara seperti Ayah.” Ibunya Anisa mengusap – usap punggung Anisa.


“Ibuuuu…,” rengek Anisa sambil memeluk ibunya.


Sore harinya Ais datang sambil membawa bingkisan. “ Assalamu’alaikum…,” Ais mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam…,” jawab ibunya Anisa.


“Loh nak Ais, ayok duduk dulu, sini masuk duduk di dalam aja ya,” ibu mempersilahkan Ais masuk.


“Iya bu, oo… iya ini ada oleh – oleh dari kampung buat ibu,” kata Ais.


“Alhamdulillah, sehat semua bu,” jawab Ais sembari tersenyum.


“Alhamdulillah kalau begitu, sebentar ibu panggilkan Anisa  ya, tadi lagi mandi,” kata ibunya Anisa.


“Iya bu,” jawab Ais, sedikit menganggukkan kepala.


Ibu masuk ke dalam kamar Anisa, “ Nis…sudah selesai, Ais nunggu tu di depan,” kata ibunya Anisa.


“Sudah datang ya?, lagi bentar bu tinggal pakek jilbab aja,” jawab Anisa.


Tak lama Anisa keluar dari kamar, duduk di sofa ruang tamu, Anisa duduk di dekat ibunya, Ais memulai pembicaraan.


“Maaf bu, kedatangan saya hari ini mau minta izin pada ibu, sebelumnya saya sudah bertanya sama Anisa, tapi Anisa maunya saya izin sama ibu juga, saya izin ingin melamar dan menikahi Anisa bu,” kata Ais agak gerogi.


“Ibu juga sudah diberi tahu sama Anisa soal nak Ais melamar Anisa, ibu tidak banyak komentar karena ibu juga sudah banyak di ceritakan soal Ais sama pamannya Anisa, ibu senang nak Ais mau menjadi pendamping Anisa, ibu harap Ais bisa menjaga dan menyayangi Anisa seperti ibu dan almahrum ayahnya.” Kata ibu.

__ADS_1


“Alahmdulillah, Insya Allah bu, saya akan menjaga dan menyayangi Anisa,” ujar Ais dengan senyumnya yang lebar.


Anisa juga terlihat tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya, ia tersenyum dan memegang tangan ibunya, mata Anisa sedikit berkaca – kaca.


“Kira – kira kapan saya bisa bawa orang tua saya bu untuk melamar secara resmi?,” tanya Ais.


“Masalah itu saya serahkan ke nak Ais saja, silahkan berunding dengan keluarga nak Ais kapan mau datang kesini, nanti tinggal info ke ibu atau Anisa saja untuk kepastiannya supaya kita bisa siap – siap,” Jawab ibunya Anisa.


“Baik bu, nanti saya kabarin orang tua saya,” kata Ais bersemangat.


Tak lama Ais pamit karena harus bertugas jaga malam. Anisa tak lupa memberi tahu Diana, ia mengirim pesan pada Diana.


“Din, hari ini bang Ais kerumah, dia sudah meminta izin sama ibu untuk melamarku,” tulis Anisa.


Diana membalas dengan cepat, “bener ni Nis, kamu gak lagi bohongin aku kan??,” balas Diana.


“Iya Diana, aku gak lagi bohong, baru aja bang Ais pamit pulang,” kata Diana.


“Terus gimana, kamu nerima lamarannya kan?,” tanya Diana.


“Kasi tau gak yaaa… .”


“Ayolah Anisa, jangan bilang kamu nolak bang Ais karena prinsipmu itu, kamu kan sudah janji gak bakal ngikutin prinsip itu lagi,” ujar Diana.


“Iya… iya…, aku terima lamaran bang Ais kok,” jawab Anisa.


“Alhamdulillah…, Eemm… apa nih yang membuat kamu memutuskan nerima bang Ais secepat ini, kamu bilang mau minta waktu sampai hubunganmu dengan Dokter Andre membaik,” tanya Diana penasaran.


“Ituu…, karena bang Ais harus ngasih kepastian sama kedua orang tuanya, kamu inget gak waktu bang Ais cuti pulang kampung waktu itu, ternyata dia di jodohkan sama kedua orang tuanya dengan anak temen bapaknya


bang Ais,” jawab Anisa.


“Oooo… jadi ceritanya kamu gak mau ketikung ya, hahaha…,” kata Diana.


“Mulai dah, candain aja candain, udah kebal aku. Bang Ais bilang kalau aku gak ngasih kepastian, bang Ais terpaksa mau tidak mau harus menerima perjodohan itu, nah hatiku tergerak dong untuk nerima bang Ais, hihihi… .”


“Aseeekkk…, gitu dong cari kebahagianmu jangan terbawa masa lalu terus, masa lalu boleh diingat tapi tidak di jadikan alasan untuk tidak maju ke depan.”

__ADS_1


“Waahh… tuben banget kata – katamu bijak Din, ya udah istirahat yuk, sampai ketemu besok pagi di Puskesmas.”


“Mungkin karena aku habis makan capcay kalik ya hehehe…, oke sampai ketemu besok, siapkan mentalmu bertemu Dokter Andre, hihihi… .”


__ADS_2