
"Alhamdulillah sudah beres ya, untuk makanan kita ketring saja supaya tidak repot, nanti saya bantu untuk biayanya mbak," kata paman Hadi kepada ibu Anisa.
"Tidak usah, mbak masih ada kok, Insya Allah cukup," ujar ibu Anisa.
"Tidak apa - apa mbak, aku juga kan pengen bantuin mbak dan keponakanku ini," kata bibik Anisa yang duduk berdekatan dengan Anisa. Anisa tersenyum mendengar perkataan bibinya.
"Ya sudah, mbak ucapkan terimakasi kalau begitu," ucap ibu Anisa.
Setelah melakukan obrolan yang serius, Anisa dan ibunya berpamitan pulang.
Malamnya sebelum tidur Anisa mengecek jadwalnya untuk besok, ia menghelakan nafas.
"Heemm..., besok jadwalku bertemu dengan Dokter Andre, sudah lah aku harus menghadapi semuanya, semangat untuk besok," gumam Anisa. Ia menutup kertas jadwal dan pergi tidur.
Esoknya di siang hari, Anisa bersiap untuk jaga. pesan masuk di HP Anisa.
"Semangat ya..., jangan lupa makan siang, hati - hati di jalan," tulis pesan dari Ais.
Anisa tersenyum dan membalas pesan Ais, "kayaknya bakal ada yang ngabsen ni tiap hari hehehe..., siap laksanakan."
"Ibu Anis berangkat, Assalamu'alaikum," Anisa berpamitan.
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu Anisa.
Sampai di Puskesmas, Anisa bertemu dengan Diana, mereka bertukar jaga.
"Nis hari ini kamu jaga dengan Dokter Andre kan?, semangat ya..., bersikap saja seperti biasa, oke," bisik Diana.
"Iya aku tau, aku sudah menyiapkan mentalku dari semalam, trus tadi sebelun berangkat juga sudah dapet pesan semangat dari bang Ais." Kata Anisa ikut berbisik sembari tersenyum.
Diana ikut tersenyum, "asiikkk sekarang udah ada yang perhatian ni... ."
"Ssuuuttt..., jangan keras - keras," kata Anisa.
Diana meringis sembari menutup mulutnya, "sudah ya operannya, aku balik dulu."
"Oke..., hati - hati, " ujar Anisa melambaikan tangan pada Diana.
Dari pintu belakang UGD ada yang masuk, Anisa sontak melihat ke belakang, ternyata itu Dokter Andre yang baru datang, Anisa mencoba menenangkan diri, Dokter Andre tak melihat ke arah Anisa sama sekali, Dokter Andre sibuk operan dengan Dokter jaga pagi.
"Nis... sudah waktunya ngasih obat ni ke pasien rawat inap," kata teman perawat yang berjaga dengan Anisa.
"Ooo... iya, yuk sepertinya obatnya sudah di siapkan tinggal kita antar saja," ucap Anisa.
__ADS_1
Anisa dan temannya berjalan ke ruang pasien, memberikan obat, salah satu pasien mengeluh mual.
"Mbak perawat saya kok mual ya," kata pasien.
"Mual ya bu, makan siangnya sudah dimakan bu, loh kok masih utuh?." Anisa balik bertanya pada pasien karena makan siang pasien masih utuh terbungkus.
"Iya mbak, saya mual jadi gak enak mau makan," jawab pasien.
"Tadi pas perawat lain mengukur tensi, ibu sudah merasa mual?," tanya Anisa lagi.
"Belum mbak, baru kok mualnya," jawab pasien lagi.
"Baik saya sampaikan dulu ke Dokter yang jaga ya bu, kalau begitu obatnya jangan diminum dulu karena ibu belum makan, sekalian tunggu Dokternya ya bu," ujar Anisa.
"Iya mbak, trimakasi," kata pasien.
"Sama - sama bu," ucap Anisa.
Anisa dan temannya kembali ke ruang UGD, Anisa melaporkan keluhan pasien pada Dokter Andre, Anisa tampak agak gelisah namun ia harus tetap menyampaikan keluhan pasien.
"Maaf Dok, pasien atas nama Ibu X mengeluh mual, tidak ***** makan," kata Anisa melaporkan.
Dokter Andre yang tadinya fokus membaca buku pasien langsung mengangkat kepalanya menatap Anisa.
Anisa terkejut mendengar Dokter Andre berbicara dengan santai seperti tak terjadi apa - apa.
"Eeee... i... itu..., baru saja Dok, maksud saya keluhannya baru Dok." jawab Anisa agak terbata karena gugup.
"Ya sudah yuk kita lihat," Dokter Andre mengambil stetoskop yang terletak di atas meja.
"Aku temeni Dokter dulu ya, minta tolong tambahin keluhannya di buku pasien ibu X," ujar Anisa pada temannya.
"Oke..," jawab teman Anisa.
Anisa berjalan agak jauh di belakang Dokter Andre, Ia bergumam dalam hati " kenapa Dokter Andre seperti biasa saja ya, aku pikir dia akan marah karena aku tidak menukar jaga, atau mungkin karena ada teman - teman lain jadi dia bersikap biasa saja supaya tidak ada yang tau masalahnya denganku, ah sudah lah," Anisa menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Siang ibu, gimana ? apa yang dirasakan sekarang?," tanya Dokter Andre pada pasien.
"Siang Dok, saya merasa mual saja Dok," jawab pasien.
"Saya periksa dulu ya, maaf saya periksa perut ibu ya."
Dokter Andre menekan pelan di perut pasien, mengetuk - ngetuk perut pasien dengan jari dan terakhir memeriksa dengan stetoskop.
__ADS_1
"Ibu, ibu tidak apa - apa hanya masuk angin saja nanti kalau pakek kipas angin jangan di arahkan ke ibu ya, saya kasi obat masuk anginnya, setelah ini mbak perawatnya bawakan obatnya ya bu," kata Dokter Andre menjelaskan.
"Oo... begitu, terimaksi Dok," ucap pasien merasa lega karena hanya masuk angin.
"Iya sama - sama bu," jawab Dokter Andre.
Anisa dan Dokter Andre kembali ke ruang UGD.
"Nis, ambilkan obat untuk masuk angin, edukasi pasien, setelah minum obat tunggu 5 menit suruh pasien makan walaupun dikit, lalu lanjutkan minum obat yang jadwal siang." Kata Dokter Andre.
"Baik Dok," Anisa masih penasaran dengan sikap Dokter Andre, namun Anisa tak berani menanyakan.
Anisa kembali ke ruang pasien, ia menjelaskan sesuai dengan perintah Dokter Andre, tak lama Anisa kembali ke ruang UGD dan melanjutkan mencatat obat yang ditambahkan di buku pasien ibu X.
Di bagian Poli, petugas sudah sepi karna sudah waktu pulang, tinggal petugas UGD dan driver ambulance yang masih di Puskesmas.
melihat semua sudah beres dan tidak ada pasien, Dokter Andre keluar dari ruang UGD, Anisa memperhatikan Dokter Andre yang berjalan keluar.
"Dia mau kemana, apa karna ada aku dia tidak nyaman di ruangan," gumam Anisa dalam hati.
tak lama Hp Anisa bergetar, Anisa mengeluarkan Hp dan ternyata ada pesan masuk dari Doktet Andre.
"Kalau tidak sibuk, temui saya di Poli di ruang Dokter Umum," tulis Dokter Andre.
"Hah, ada apa ni, pasti dia mau marah - marah karna aku tidak tukar jaga," Anisa bergumam lagi sambil menatap tulisan yang ada di Hpnya.
"Mbak, aku ke poli dulu ya, aku dipanggil Dokter Andre sepertinya aku ada kesalahan ni," kata Anisa, berharap temanya tak curiga.
"Hah..., kamu bikin salah apa?," tanya teman Anisa.
"Kurang tau juga mbak, ini saya dikirimi pesan suruh menghadap, aku ditunggu di poli," kata Anisa lagi.
"Kalau begitu cepat sana, sebelum Dokter Andre tambah marah, nanti kalau ada pasien aku miscall deh," ujar teman Anisa.
"Iya mbak, saya kesana dulu ya," kata Anisa sambil berjalan keluar ruang UGD.
"Kasihan Anisa, Dokter Andre jarang marah tapi kalau ada yg melakukan kesalahan ngomelnya lama," Kata teman Anisa pada dua bidan yang berjaga.
"Betul itu," ujar salah satu bidan.
Bersambung....
terimakasi yang sudah ngikutin terus...
__ADS_1
dukungan kalian penyemangatku.