TAKDIRKU

TAKDIRKU
eps 32


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


Setelah serangkaian urusan nikah kantor Anisa dan Ais finish, kini tibalah acara pernikahan Anisa yang sebelumnya sudah di dahului oleh teman Anisa yaitu Diana.


Acara demi acara mereka lalui, tangis, tawa, dan haru bercampur menjadi satu. kini Anisa sudah sah menjadi istri seorang Tentara.


Mereka tinggal di rumah ibu Anisa, sedangkan keluarga Ais kembali ke hotel tempat mereka menginap, hari semakin larut dan acara resepsi pernikahan pun telah usai.


"Sudah, kalian istirahat sana, pasti capek seharian menerima tamu." kata ibu Anisa


"Iya sana kalian cepat istirahat, kita juga sudah mau istirahat sudah malam capek banget," tambah bibik Anisa yang malam itu menginap di rumah Anisa bersama anaknya yang masih balita dan juga Om Hadi suami bibiknya Anisa.


Ais dan Anisa agak canggung, Anisa masih malu untuk masuk ke kamar bersama Ais. "Sebentar bu, aku masih pengen duduk bareng kalian," kata Anisa.


"Kalau begitu saya pamit mandi dulu, badan saya lengket karna berkringat," ucap Ais sambil membenarkan kerah bajunya.


"Iya nak, sudah tau kan kamar mandinya??, oiya tas bajunya langsung aja dibawa ke kamar Anisa, itu jadi kamar kalian berdua sekarang," ujar ibu Anisa.


Anisa hanya terdiam tersipu malu


"Iya saya tau bu, yang dekat dapur ya," jawab Ais, ia berdiri sambil membawa koper yang berisi pakaiannya.


"Langsung aja di kamar Anisa, di dalam ada kamar mandinya kok, Anisa kamu Antar suamimu sana," kata ibu Anisa.


"Iya...iya..., ya sudah Anisa sekalian pamit istirahat ya, yuk bang," kata Anisa sambil berjalan meninggalkan ibu, bibik dan pamannya


Ais tersenyum dan menganggukan kepala memberi isyarat permisi pada keluarga Anisa. Ia mengikuti Anisa dari blakang, Anisa membuka pintu kamarnya.


"Silahkan masuk bang," Anisa berjalan masuk kamar di ikuti dengan Ais.


"Nah disana kamar mandinya, abang yakin mau mandi, ini udah malem banget lo...,"


"Kenapa? mau malam pertama dulu baru abang mandi ?."


"Iih apaan si abang, udah...udah... mandi sana," Anisa sedikit mendorong badan Ais.


"Waahhh...udah mulai mau pegang badan abang ya," ejek Ais


Wajah Anisa memerah karna malu, "Abaaaanggg..., cepet sana."


Ais tertawa melihat tingkah Anisa yang menggemaskan, "hahaha...., Adek...adek..., ya sudah abang mandi dulu," Ais mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Ya ampun biasanya aku tidur sendiri dikasur kesayanganku ini, sekarang aku tidur berdua sama bang Ais, ya ammpuuunnnn....," gumam Anisa yang sedang berbaring di kasur.


setelah 10 menit Ais keluar dari kamar mandi, kini ia merasa badannya segar tidak lengket lagi karena keringat.


"Dek kamu gak mandi??." Ais berhenti berbicara, ia meletakkan handuk dan menghampiri Anisa yang tertidur pulas di atas kasur dengan memeluk bantal guling, terlihat Anisa capek sekali usai acara.


Ais tersenyum melihat Anisa yang tertidur masih menggunakan pakaian gamis dan jilbab yang masih terpasang, ia sedikit memperbaiki posisi Anisa tidur, Anisa benar - benar merasa capek sampai tak merasakan tangan Ais yang memegangnya.


Ais berjalan mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur, ia memakaikan selimut pada Anisa dan berbaring di samping Anisa, akhirnya Ais pun ikut tertidur.


"Adek..., bangun sudah mau masuk subuh." Ais mencoba membangunkan Anisa, namun Anisa masih tak bergeming, Ais mendekati Anisa dan duduk di dekat Anisa tidur, ia menempelkan tangannya ke pipi Anisa.


"Adek bangun, sudah mau subuh."


Anisa seketika bangun dari tidurnya, ia terkejut, "Ya Allah," triak Anisa.


Ais mengerutkan keningnya, "Adek kenapa terkejut gitu, lupa kalau kita ini sudah nikah?." ujar Ais.


"A-abang semalam abang tidur disini ?," tanya Anisa.


"Iya lah trus mau tidur dimana?, Adek si ketiduran, udah sana mandi kita shalat subuh, bentar lagi masuk subuh."


"Iya Adek, kenapa? kamu bayangin yang gak engak ya..., liat pakaianmu saja masih lengkap dengan jilbab, Abang gak akan macam- macam sebelum tanya dulu sama adek," kata Ais tersenyum sambil mengelus kepala Anisa yang masih terbalut jilbab.


Anisa meringis, ia turun dari ranjangnya, ia ambil handuk dan masuk ke kamar mandi, Ais menyiapkan dua sajadah untuk shalat subuh.


15 menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, Anisa keluar dari kamar mandi menggunakan gamis yang ia kenakan sebelum mandi dan masih menggunakan jilbab.


"Loh adek gak mandi?." tanya Ais, karena Anisa masih menggunakan baju yang semalam.


"Udah dong bang, emng gak kliatan apa kalau udah mandi."


"Ooo...habisnya masih pakek baju yang sama,"


"Trus mau gimana dong masak iya pakek handuk aja,"


"Ya gak apa lah, kita kan udah suami istri, adek bisa ambil baju dilemari adek, itu baju dari kemarin lo, emang gak bau."


"Hehehe...bau si, tapi kan malu bang, ya sudah abang jangan lihat ke arah adek, adek mau ganti baju, oke."


"hemmm... oke." kata Ais. Ais membalikkan badannya, dengan cepat Anisa mengambil baju di lemari dan mengganti pakaiannya, ia ambil juga jilbab yang langsung pakai.

__ADS_1


"Sudah bang," kata Anisa.


Ais berbalik, ia bertanya tanya mengapa Anisa masih memakai jilbabnya, padahal merek sudah suami istri.


"Adek masih malu ya sama Abang, dari semalam adek gak lepas jilbabnya, abang kan pengen lihat adek."


"Eeemmm..., iya adek belum terbiasa bang, maaf ya bang."


Ais membalas dengan senyuman, "yuk shalat sudah selesai Azan."


"Iya," Anisa memakai mukenanya, ia berdiri di belakang Ais, "sekarang aku udah punya imam," gumam Anisa dalam hati sambil menatap Ais yang berdiri di depannya.


Selesai shalat Anisa mencium tangan Ais, ia sedikit malu - malu, Ais lalu memegang kepala Anisa dan mencium kening Anisa, Anisa mengedip - kedipkan matanya di depan Ais.


"Adek, abang boleh minta sesuatu gak?."


Anisa mendengar perkataan Ais langsung memegang rukuhnya dan sedikit mundur, Ais tartawa kecil.


"Adek, bukan itu ya Allah adek,"


"Terus apa??,"


"Boleh sekarang abang lihat adek tanpa jilbab,"


Anisa terdiam beberapa saat.


"Ya sudah tidak pa - pa kalau adek belum siap abang lihat," Ais tersenyum. Ais beranjak dari tempat duduknya.


"Eehh...,tunggu bang, Anisa sudah siap kok,"


mendengar itu, Ais kembali duduk di depan Anisa, Anisa membuka mukena yang ia kenakan, lalu membuka jilbabnya. terlihat rambutnya yang lurus berwarna hitam, panjangnya sampai bahu.


"Masya Allah, Adek cantik," ungkap Ais, Ais memegang tangan Anisa dan memeluk Anisa, ia berbisik "Abang, sayang adek Anisa,"


Jantung Anisa berdegup kencang, wajah Anisa memerah, ia gugup hingga tak tau mau bicara apa, Ais melepaskan pelukannya. ia tersenyum melihat ekspresi wajah Anisa yang memerah karna malu.


Tamat


Terimakasi yang sudah mampir membaca, authornya ucapkan terimakasi banyak untuk semuanya


love you guys... tunggu karya aku yang lainnya ya

__ADS_1


__ADS_2