
Ais yang sedang libur dari tugas jaga menghubungi kedua orang tuannya di kampung melalui telfon.
Terdengar suara bapaknya Ais, “kamu yakin dengan pilihanmu? Bukannya lebih enak sama Farah.” Kata bapaknya Ais. Flash back, Farah adalah nama wanita yang di jodohkan dengan Ais.
“Dia kan sudah kenal lama sama kamu, sudah dari kecil,” sambung bapaknya Ais.
“Justru karena sudah kenal dari kecil pak, aku gak bisa nikah sama Farah, dia sudah aku anggap saudara, aku yakin dengan Anisa meskipun aku belum kenal lama, aku jugu sudah kenal dengan ibunya dan pamannya Anisa, beliau seniorku pak, orangnya juga baik serta banyak membantuku disini,” kata Ais meyakinkan bapaknya.
“Ya sudah lah pak, kalau memang itu keputusan Ais kita dukung saja, nanti kita minta maaf sama orang tuanya Farah, daripada dipaksakan juga tidak baik nanti hasilnya,” Kata ibunya Ais yang juga ikut mendengarkan suara Ais di telfon.
“Terimakasi bu, Ais sayang sama ibu, aku yakin ibu akan suka dengan Anisa, dia anaknya sederhana bu, pemalu dan dandanannya juga natural, dia perawat di salah satu Puskesmas,” Ujar Ais.
“Baik kalau begitu, kapan bapak sama ibuk bisa kesana melamarkan Anisa untukmu?,” tanya bapaknya Ais.
“Kemarin aku sudah kerumah Anisa meminta izin dengan ibunya untuk melamar Anisa pak, ibunya menyerahkan pada kita kapan mau melamar secara resminya,” jawab Ais.
“kalu begitu secepatnya saja, bagaimana kalau 3 hari lagi bapak, ibuk, kakak dan adikmu berangkat kesana,” kata bapaknya Ais.
“Oke nanti Ais kasi kabar ke keluarga Anisa dulu ya pak, terimakasi bapak, ibuk sudah memberi restu padaku dan Anisa, dan juga sampaikan permintaan maaf Ais pada keluarga Farah ya pak,” kata Ais.
“Iya Insya Allah bapak sampaikan, munkin nanti malam bapak dan ibuk pergi ke rumah Farah, ya sudah bapak tutup dulu telfonnya, selalu jaga kesehatan, jangan aneh – aneh di tempat orang,” ujar bapak Ais.
“Siap pak, Insya Allah aku gak aneh – aneh pak, ya sudah bapak sama ibu juga slalu jaga kesehatan.
“Iya, Wa’alaikumsalam.” Telfon di matikan bapak Ais.
Ais melihat kea rah jam diding, jam menunjukkan pukul 13.30. “wah bentar lagi waktu Anisa pulang, dia bilang lagi jaga pagi jam 14.00 pulang, aku susulin ah..., sekalian langsung kerumah Anisa ketemu ibunya, tapi shalat dulu,” gumam Ais.
Saat keluar dari kamar asrama Ais berpapasan dengan Rizal, “mau kemana?, rapi amat,” tanya Rizal.
“Mau kerumah Anisa mumpung libur,” jawab Rizal.
“Wah… wah…, makin lancar aja ni kelihatannya,” kata Rizal.
“Doain dong lancar supaya aku gak kalah sama yang bentar lagi jadi pengantin baru, hihihi…,” ujar Ais menepuk -nepuk punggung Rizal.
“Gak mau kalah ni yeee….,” tambah Rizal.
__ADS_1
“Ah kamu, sudah ah… aku berangkat dulu, Assalamu’alaikum,” kata Ais sambil berlalu.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Rizal.
Ais mengendarai motornya, ia berhenti di pendagang bakso depan Puskesmas, setelah memesan ia mengirim pesan pada Anisa.
“Adek, abang tunggu di warung bakso depan Puskesmas, kalau sudah pulang langsung kesini ya…,” tulis Ais.
Kling.., Hp Anisa berbunyi, Anisa yang sedang mengisi absen pulang mengeluarkan Hpnya dari saku bajunya. Ia tersenyum dan membalas pesan Ais.
“Oke, bentar lagi ya masih isi absen pulang,” jawab Anisa.
Anisa mengambil motor, ia langsung pergi ke warung bakso, Anisa juga memesan satu magkuk bakso dan es teh lalu menghampiri Ais yang sedang menikmati bakso.
“Assalamu’alaikum bang, enak nih baksonya ya,” ujar Anisa dari belakang Ais.
“Adek, udah dating, udah pesan bakso belum, pesan aja dulu, abang sudah pesan duluan hehehe…,” kata Ais sedikit terkejut.
“Sudah kok, tinggal nunggu di antar,” jawab Anisa.
“Abang tumben kesini, lagi pengen bakso ya?,” kata Anisa.
Anisa tersenyum mendengar ucapan Ais, ia sedikit menundukkan kepalanya, pipinya terlihat kemerahan karena malu.
“Oiya adek inget gak, abang pernah mau traktir adek disini, tapi adek gak mau,” tambah Ais.
“Ooo.. yang waktu aku mengembalikan KTP bang Ais kan, hehehe…,” ujar Anisa.
“Betul, kalau boleh tau kenapa si dulu adek nolak ajakan abang, padahal abang kan mentraktir adek sebagai ucapan terimakasi karena sudah mengembalikan KTP abang,”
“Eeemmm…, itu karena abang sok akrab, belum kenal udah ngajak makan, kesannya seperti ada maunya gitu,” kata Anisa.
Ais tertawa mendengar perkataan Anisa. Bakso pesanan Anisa datang, ia langsung menikmati baksonya sampai habis.
“Lapeerrr… neng, gitu amat kalau makan,” ejek Ais, melihat Anisa makan sedikit cepat.
“Abang!!, bukan gitu, kan biar cepet habis terus pulang, katanya abang mau ketemu ibu,” ujar Anisa, ia mengambil
__ADS_1
tisu didepannya dan membersihkan mulutnya.
“Hehehe…, abang bayar dulu ya.” Ais berdiri berjalan ke penjual bakso dan membayar.
“Udah yuk balik dek,” tambah Ais.
Anisa berdiri dari tempat duduknya, mereka menaiki motor masing – masing, sampailah mereka di rumah Anisa.
“Assalamu’alaikum buu... ibuu…, ada bang Ais ni…, abang duduk dulu ya, Anisa panggil ibu, mungkin ibu gak denger.” Anisa melepas sepatunya.
“Iya nyantai aja, kalau ibu lagi tidur gak usah dibangunin ya, biar nanti sore aja abang balik lagi, abang lagi libur jadi santai aja,” kata Ais.
“Oke.” Jawab Anisa seraya tangan Anisa membentuk huruf O.
Anisa masuk kedalam rumah, ia buka pintu kamar ibunya ternyata kosong, “ibu gak ada di kamar,” gumam Anisa. Ia menuju ke halaman belakang.
“Disini ternyata, Assalamu’alaikum…,” ujar Anisa.
“Wa’alaikumsalam…, udah pulang nak,” jawab ibu Anisa yang sedang sibuk dengan kebunnya di belakang rumah.
“Sudah, di depan ada bang Ais mau ketemu sama ibu,” kata Anisa.
“Loh kalian barengan tadi?,” tanya ibu Anisa.
“Iya barengan kesininya, tadi bang Ais jemput Anisa, tapi kita beda motor kok,” jawab Anisa.
“Ibu kedepan temuin bang Ais, biar Anisa aja yang bikin minumnya,” imbuh Anisa.
“Ibu cuci tangan dulu,” kata ibu Anisa. Ibu Anisa membasuh tangannya di keran dekat kebun, setelah itu menemui
Ais yang duduk di sofa depan rumah.
"Ais," kata ibu Anisa.
Ais berdiri dari tempat duduk, " Assalamua'laikum bu, maaf saya mengganggu, ibu lagi istirahat ya," kata Ais.
"Gak nak, ibu lagi ngerapiin kebun belakang, banyak yang sudah kering tanamannya," ujar ibu Anisa.
__ADS_1
"Ooo..., begini bu, saya sudah menelfon orang tua saya, mereka bilang 3 hari lagi mau datang kesini untuk melamarkan Anisa, nah bagaimana menerut ibu?," kata Ais.
Bersambung...