
“Anisa ikut saya ngecek ibu X, kita lihat keluhannya sudah berkurang atau belum?,” kata Dokter Andre sambil
berjalan.
Teman – teman Anisa menatap Anisa, Anisa meringis, “Hehehe…, gak apa – apa kok, aku ke ruang pasien dulu ya,” ujar Anisa.
Mereka mengangguk, namun masih penasaran apa yang terjadi antara Anisa dan Dokter Andre, Anisa menyusul Dokter Andre, di lorong menuju ruangan pasien Dokter Andre berhenti, Anisa yang berada di belakangnya juga sontak ikut berhenti.
“Kenpa Dokter Andre behenti,” gumam Anisa dalam hati.
Dokter Andre berbalik badan dan mendekati Anisa, Anisa terkejut ia melihat seklilingnya dan saat Dokter Andre sudah berada di depan Anisa, Anisa menatap Dokter Andre.
“Cepat katakan siapa yang diam – diam suka dengan saya?,” tanya Dokter Andre sembari menatap tajam Anisa.
“Hah, itu nanti saya beri tau Dokter sekarang kita lihat pasien dulu ya Dok,” ujar Anisa.
“Kamu kira saya benar – benar mau lihat pasiennya? Kamu ini, ini itu belum waktunya, masih 15 menit lagi Anisaaa…, hahahah… .” Dokter Andre tertawa dengan kepolosan Anisa.
“Ya ampun Dokter.” Raut muka Anisa sedikit cemberut karna kesal.
“Sudah cepat jawab pertanyaan saya, jangan suruh saya ngulang – ngulang pertanyaan yang sama.”
“Tapi Dokter janji dulu sama saya, janji jangan bilang sama dia kalau saya memberi tau Dokter Andre.”
“Kenapa harus begitu?, kalau begitu harusnya kamu gak perlu kasih tau saya dong,”
“Iya harusnya begitu, tapi saya pikir – pikir lebih baik Dokter tau, karena kasihan juga kalau dia terus - terusan menyukai tapi yang disukai tidak tau, janji ya Dok kalau gak mau janji ya sudah saya tidak kasi tau.”
“Oke… oke…, saya janji.”
“Dia menyukai Dokter Andre sudah sejak lama, dia itu Dokter April.”
“A-APA!!, apa kamu bilang?.” Betapa terkejutnya Dokter Andre hingga tak mampu menahan suaranya, ia bicara agak keras.
“Ssuutt…, jangan keras – keras Dok, nanti pasiennya pada denger,” Anisa menarik lengan baju Dokter Andre untuk masuk ke ruang pasien yang kosong, Anisa takut ada keluarga pasien yang melihat. Dokter Andre masih tampak terkejut.
“Dok, Dokter bengong?.”
“Sebentar… sebentar…, April suka sama saya?, gak mungkin, gak... gak, itu gak mungkin.” Dokter Andre masih tak percaya dengan apa yang barusan Anisa katakan.
__ADS_1
Dokter Andre terdiam cukup lama, Anisa ikut terdiam memberi waktu Dokter Andre untuk memikirkan apa yang Anisa katakana padanya. Sudah hamper 3 menitan Dokter Andre terdiam, Anisa berniat untuk izin kembali ke ruang UGD namun Dokter Andre tiba-tiba berdiri tegak dari yang awalnya bersandar, Anisa sedikit bergerak mundur karena terkejut, “ya ampun ngagetin aja, heemm...,” gumam Anisa dalam hati.
“Yuk kita keruangan ibu X,” ucap Dokter Andre.
“Dokter sudah tidak apa – apa? Dokter akan bicara soal ini ke Dokter April?.”
“Masih saya fikirkan, yuk jalan.”
Di ruang ibu X, Dokter Andre menanyakan keluhannya dan memeriksa ulang, hasilnya keluhan sudah berkurang, mereka kembali ke ruang UGD, sampai di UGD melihat tidak ada pasien Dokter Andre langsung masuk ke ruang istirahat kusus untuk Dokter, sedangkan Anisa bergabung dengan teman – temannya.
“Nis kok lama, keluhannya gak berkurang ya?,” tanya teman perawat Anisa.
“Sudah berkurang kok, tinggal nurunin Kadar Gula Darahnya aja, tadi mungkin ngobrol sama pasiennya yang lama.” Ujar Anisa sambil menuliskan hasil pemeriksaan ke dalam buku pasien.
“Nis, gimana tadi, kamu ditegur gara – gara apa?,” tanya salah satu bidan.
“Eemmm…, gak penting – penting amat kok, itu dia menanyakan soal Diana yang mau nikah, Dokter nanyain kapan trus ngajuin cutinya kapan gitu.”
“Aduuhhh…maaf ya Diana, kamu aku jadikan alasan,” Anisa bicara dalam hati.
“Ya elah cuman itu aja kamu dipanggil kesana, disini juga gak apa – apa kalik, toh udah pada tau juga,” ujar teman perawat Anisa.
Beberapa jam kemudian.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 selesai magrip Anisa dan teman perawatnya serta Dokter Andre hendak ke ruang pasien untuk melakukan pemeriksaan TTV sebelum pergantian sif jaga.
“Mbak kita tinggal dulu keruang perawat ya,” ujar Anisa pada teman bidan, dua bidan menganggukkan kepala.
Saat Anisa melakukan pemeriksaan, datang seorang pemuda dengan badan tegap, kulitnya putih, wajahnya manis memakai seragam Tentara dan membawa bingkisan ditangannya.
“Permisi… .” suara pemuda itu membuat dua bidan yang tengah duduk di ruangan itu langsung menoleh tak berkedip melihat si pemuda yang tak lain adalah Ais.
“I-iya Mas ada yang bisa di bantu,” ucap salah satu bidan.
“Maaf mbak saya cari Anisa ada?.”
“Ooo… Anisa, dia sedang ke ruang pasien Mas, mau nunggu dulu mungkin sebentar lagi selesai.”
“Iya mbak kalau begitu saya tunggu di kursi depan UGD ya mbak, makasi mbak,” ucap Ais dengan senyum manisnya.
__ADS_1
“Iya Mas, silahkan.”
“Ya Ampun manis banget Mas Tentaranya, siapanya Anisa ya? Pacarnya atau saudaranya?,” kata bidan yang satu lagi.
“Iya kamu betul banget, manisnyaaa… .”
“Heh apanya yang manis.” Dokter Andre mengejutkan kedua bidan yang asik melihat Ais tanpa menyadari kehadiran Dokter Andre.
“Ya ampun Dokter mengejutkan aja, itu Mas Tentara yang di depan, katanya lagi nyari Anisa.”
Dokter Andre melihat ke arah luar UGD, ia tersenyum dan menghampiri Ais, Ais yang melihat Dokter Andre berjalan mendekatinya bangun dari tempat duduknya dan tersenyum.
“Nyari Anisa Mas?.”
“Iya Mas Andre, wah… lagi jaga juga ya, gimana sudah baikan sama Anisa Mas?.”
“Sudah dong, nah itu yang dicari sudah selesai Mas, saya tinggal masuk dulu ya,”
“Iya Mas, makasi ya Mas sudah berbaikan sama Anisa.”
Dokter Andre tersenyum dan menganggukan kepala, ia berjalan masuk ke ruang istirahat Dokter, Anisa yang sudah diberi tau teman bidan langsungsung berjalan ke luar UGD setelah meletakkan alat – alat yang di gunakan untuk pemeriksaan TTV.
“Abang, kenapa kesini?baru pulang jaga ya atau mau berangkat?.”
“Nih… abang belikan ice cream, abang mau berangkat jaga, hari ini abang dapet sif malam.” Ais tersenyum melihat Anisa.
“Makasiii… Abang, Oiya abang kok gak ngasih tau Anisa kalau abang ketemuan sama Dokter Andre?.”
“Emang sengaja supaya semua beres, Abang tau Adik pasti bingung mau ngasih tau Dokter Andre, jadi Abang inisiatif bicara langsung sama Dokter Andre, supaya Adik juga tenang kerjanya gak kepikiran terus.”
“Hehehe…, makasi ya Abang sudah bantuin adik.”
“Iya sama – sama, Abang berangkat ya, teman – teman Adik dari tadi ngliatin kesini terus hehehe…, nanti hati – hati pulangnya.”
Anisa melihat kearah teman – temannya dan benar saja mereka memang melihat ke arah dimana dia dan Ais berdiri.
“Oke, Abang juga hati – hati ya.”
Ais beranjak pergi, sedangkan Anisa kembali masuk ke ruang UGD, Ia melihat tatapan mata teman – temanya kepadanya yang terlihat penasaran dengan pemuda yang menemuinya itu.
__ADS_1
Bersambung….