
“Baiklah, kita sudh sepakat, ibu dan Anisa serta keluarga besar Insya Allah akan senang menyambut keluarga nak Ais,” kata ibu Anisa.
“Baik bu, semoga semua lancar ya bu,” ujar Ais.
“Amiin…,” jawab Anisa dan ibunya.
Setelah berbincang – bincang Ais berpamitan pulang.
“Anisa, nanti sore kita kerumah pamanmu ya, sekalian disana kita hubungi keluarga besar, supaya bisa hadir.” Ujar ibu Anisa.
“Iya bu,” jawab Anisa.
Ibu Anisa memegang tangan Anisa dan menatapnya, “Andai Ayah masih ada, Ayah pasti bangga padamu nak, keinginan Ayah menjadikanmu seorang tenaga kesehatan sudah tercapai dan sekarang anak perempuannya akan segera menjadi pendamping seorang Tentara sama seperti Ayah.”
“Ibuuu….,” Anisa memeluk ibunya.
Anisa tak lupa memberi kabar Diana, Ia masuk
dalam kamar, Ia ambil Hp dan menelfon Diana.
“Halo Din, lagi sibuk kah?,” tanya Anisa di telfon.
“Gak, cuman baringan aja, aku masih libur besok baru mulai jaga pagi, ada apa?,” jawab Diana.
“Aku mau ngasih kabar hehehe…,” Kata Anisa.
“Kabar apa? Belum ngasih tau dah mringis aja,” Ujar Diana.
“Hihihi…, abis aku lagi seneng nih, tadi bang Ais ke rumah, dia bilang keluarganya kesini tiga hari lagi untuk melamar,” kata Anisa.
“Waaaooo…., keren bang Ais, slamat ya Anisa akhirnya jadi juga kamu sama bang Ais, so… kita ini memang saudara kembar yang berbeda orang tua, apa – apa hambir bersamaan, sekarang suami pun sama – sama seorang Tentara, hahahaha… .”
“Hahahaha…, kalau di pikir – pikir emang iya si…,” ujar Anisa, Anisa ikut tertawa.
“Terus gimana sama Dokter Andre, kamu bilang akan berbaikan dulu sama dia sebelum menjalin hubungan dengan bang Ais,”
__ADS_1
“Ituu…, aku juga bingung, tapi kamu tau tidak ternyata,” Anisa berhenti bicara, ia baru ingat kalau Dokter April menyuruhnya untuk merahasiakan denga siapapun tentang perasaan Dokter April pada Dokter Andre.
“Tau apa Nis?, kok berhenti?,” tanya Diana penasaran.
“Emm… itu… maksudku kamu tau tidak caranya supaya aku bisa baikan sama Dokter Andre?,” ujar Anisa mengalihkan topik.
“Oooo…, gimana ya, menurutku si mending kamu ketemu sama Dokter Andre bicara secara langsung, jelasin semuanya, terus minta maaf, nah setelah itu kamu gak ada urusan lagi dah sama Dokter Andre, misal dia masih marah atau gimana sama kamu ya biarin aja yang penting kamu udah berusaha berbaikan sama dia, kalaupun misal jaga UGD ketemu Dokter Andre
dan dia masih gak mau jaga sama kamu, ya udah biar dia aja yang ganti jadwal, jelas kan,” Ujar Diana.
“Gitu ya…, oke aku coba deh, ya udah istirahat yuk Din, tar sore aku nemenin ibu kerumah paman.”
“Oke…,”
Sepulang dari rumah Anisa, Ais tidak langsung kembali ke Asrama melainkan bertemu dengan Dokter Andre, Ais membuat janji dengan Dokter Andre saat di rumah Anisa melalui chat. Mereka bertemu di kedai Coffee.
“Maaf telat Mas,” kata Dokter Andre yang baru datang.
“Santai aja Mas Andre, saya juga belum lama kok, mau coffee apa?,” tanya Ais.
“Oke, saya pesan dulu ya,” Ais pergi memesan dan tak lama kembali ke tempat duduknya.
“Maaf ya Mas Andre saya mengganggu waktunya,” ucap Ais.
“Ah… tidak kok mas, saya masih libur jaga, masih free mangkanya bisa datang.” Ujar Ais.
“Begini mas Andre, sebelumnya saya meminta maaf dan saya harap mas Andre mendengarkan penjelasan saya sampai selesai supaya tidak
terjadi kesalah pahaman,” ucap Ais.
“Waduh.. sepertinya yang akan dibahas berat ni,” celetuk Dokter Andre.
Ais tersenyum dan melanjutkan pembicaraan, “Ya…, bisa dibilang seperti itu Mas hehehe…, ini soal Anisa mas, saya bicara sama Mas Andre karna saya tau Anisa pasti susah menjelaskan pada Mas Andre, saya dan Anisa akan bertunangan dan mungkin secepatnya mengatur pernikahan.”
“Sebentar.” Dokter Andre memotong pembicaraan. Wajah Dokter Andre terkejut sekaligus kecewa.
__ADS_1
“Jadi Anisa memilih Mas Ais?, sejak kapan? Sejak saya ditolak?.” Lanjut Dokter Andre, Ia berbicara agak kesal dan bernada tinggi.
“Saya tau mas Andre pasti kecawa dan kesal sekali, Anisa juga merasa bersalah Mas, awalnya Anisa memang ingin sekali menerima Mas Andre dan menghilangkan perasaannya pada saya, ketika saya menyatakan perasaan saya pada Anisa, saya langsung ditolak, Mas Andre pasti sudah tau soal Ayah Anisa, karena alasan itulah dia berusaha keras ingin menjauhi saya dengan memberi kesempatan Mas Andre dekat dengan Anisa, namun seiring berjalannya waktu Anisa tidak lagi bisa melanjutkan, Anisa ingin berhenti memberi harapan pada Mas Andre.” Kata Ais.
Ais melanjutkan penjelasannya, “nah… kedua Oran Tua saya juga menunggu kepastian dari saya karena mereka memiliki calon buat saya, setelah saya kembali dari kampung saya dan Anisa bertemu, Anisa bercerita tenyata Anisa sudah menolak Mas Andre dan saya waktu itu terkejut dengan pernyataan Anisa, saat itulah saya bertanya pada Anisa mau menerima saya
atau tidak, jika tidak saya terpaksa harus menerima calon dari kedua Oran Tua saya, dan ternyata Anisa menerima saya, saya harap Mas Andre bisa mengerti dan tidak lagi membenci Anisa,” ungkap Ais.
Dokter Andre terdiam, menatap kerah kopi di depannya, Ais tampak membiarkan, memberikan waktu pada Dokter Andre untuk
berfikir, kemudian Dokter Andre mengangkat kopinya menyeruput perlahan dan terlihat masih berfikir.
“Apa ini permintaan Anisa?,” tanya Dokter Andre.
“Maksud Mas Andre, saya bertemu Mas Andre
karena disuruh Anisa?, tentu saja tidak, ini keinginan saya sendiri, saya tau ini pasti sulit buat Anisa jadi saya memutuskan untuk menjelaskan semuanya pada Mas Andre, Anisa pun tidak mengetahui pertemuan kita Mas,” Kata Ais.
“Saya dan Anisa benar – benar meninta maaf dan saya harap hubungan pertemanan kita tidak putus,” tambah Ais.
“Hemmm…, baiklah mendengar penjelasan
Mas Ais sepertinya memang tak ada kesempatan buat saya, Oke! Saya akan merelakannya, saya juga memaafkan kalian, semoga lancer semua rencana kalian ya.” Ucap Dokter Andre sambil tersenyum.
“Wahh… leganya, makasi ya Mas Andre, semoga Mas Andre mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik dan secepatnya, Amiin..,” Ujar Ais.
“Amiin…, jangan lupa undangannya ya Mas Ais.”
“Siap Mas, Insya Allah tidak akan lupa.”
Ais dan Dokter Andre tersenyum bersama, gelas kopi sudah kosong mereka beranjak dari tempat duduk dan langsung pulang, Ais merasa lega karena sudah menjelaskan hubungannya dengan Anisa, Dokter Andre pun sudah mengiklaskan dan menerima dengan lapang hati, terlihat dari senyumnya yang manis.
Di kediaman paman Anisa.
Anisa dan ibunya berdiskusi dengan Paman serta Bibiknya untuk persiapan menyambut keluarga Ais, Paman dan Bibi Anisa tidak terkejut dengan kabar Anisa yang akan di lamar Ais karena memang dari awal mereka ingin menjodohkan Anisa dengan Ais.
__ADS_1