TAKDIRKU

TAKDIRKU
eps 30


__ADS_3

Mata Ais tak berkedip melihat calon istrinya berpenampilan begitu berbeda, begitu cantik dan anggun dengan busana dress perpaduan kain kebaya dan batik serta hijabnya yang agak panjang sampai perut, karena memang Ais tak pernah melihat Anisa memakai makeup, Ais tak kuasa menahan senyumnya, ia terus memandangi Anisa yang menundukkan pandangannya karena malu, ya Anisa memang gadis yang pemalu.


Mulailah acara yang sudah dinantikan yaitu prosesi lamaran, Ais berdiri tegak sambil memegang microphone, Anisa pun terlihat berdiri di depan Ais namun pandangan masih menunduk kebawah.


“Mbak Anisa kelihatannya malu – malu yaa.., mohon diangkat dong pandangannya mbak Anisa, Mas Ais ganteng lo...,” ujar MC. Semua yang hadir tersenyum melihat tingkah Anisa, Ais ikut tersenyum memandang calon istrinya yang terlihat malu – malu.


Dengan wajah yang kemerahan karena malu Anisa mengangkat pandangannya, kini pandangan Anisa tertuju pada


Ais.


“Nah kan lebih gimana gitu yaaa…, baik saya persilahkan kepada Mas Ais untuk mengutarakan maksud dan tujuannya serta kesungguhan hati Mas Ais, dari hati yang paling dalam silahkan utarakan maksudnya karena kita semua ingin mendengarkan, silahkan Mas Ais.”


“Baik Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,Alhamdulillahirobbil’alamin, bahagia sekali rasanya pada pagi hari ini bisa berada disini bersama keluarga besarku dan disambut denga hangat penuh kesan kekeluargaan, teruntuk Anisa wanita cantik dan sederhana yang ada di depanku, awal kita bertemu saat berada di tempat karjamu, awal dimana aku merasakan cinta pada pandangan pertama, namun aku tak berharap lebih karena aku masih tak yakin, dan keyakinan ini semakin kuat setelah kita beberapa kali tak sengaja bertemu, pertama saat kamu mengembalikan KTPku yang tertinggal, ke dua saat ada acara kantor di pantai dan yang terakhir itu disini, dirumahmu saat aku mengantarkan ibumu pulang yang awalnya aku tak tau bahwa ternya beliau adalah ibumu, hari ini di depan keluargaku dan keluargamu aku ingin mengutarakan niatku, tentunya sudah mendapat restu dari kedua oaring tuaku, Anisa apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku, menjadi Istriku, dan menua bersamaku??.”


Mata Anisa berkaca – kaca, ia memegang mic dan mulai berbicara dengan nada sedikit gemetar karena menahan


Air matanya, “ Bismillah..., Insya Allah dengan ridho Allah dan restu Ibu serta keluaraga besarku, Aku menerima lamaran Bang Ais.” Air mata Anisa tak bisa dibendung lagi, ia meneteskan air mata, ibunya berdiri untuk memeluknya.


“Alhamdulillah…, saya berjanji dihadapan ibu, saya akan menjaga dan membahagiakan Anisa,” tambah Ais saat melihat Ibu Anisa memeluk dan menenangkan Anisa, Ibu Anisa yang berlinang Air mata tersenyum dan menganggukkan kepala mendengar ucapan Ais.


Selesai Acara kedua keluarga ini berkumpul menyantap hidangan yang sudah di sediakan sambil bercengkrama


mengenal satu sama lain.


Ibu Ais mendekati Anisa yang sedang duduk bersama Diana dan Ais, sambil tersenyum ibu Ais menyapa calon


menantunya itu, “nak Anisa ternyata lebih cantik aslinya dari pada di foto yang dikirim Ais ya..,” ucap ibu Ais.

__ADS_1


“Eh ibu, silahkan duduk bu,” ujar Anisa sambil bergeser memberi tempat untuk ibu Ais duduk.


“Iya dong Ais pinter kan bu cari istri.” Ucap Ais percaya diri.


“Wadauuu…. PD amat bang,” celetuk Diana, Anisa melirik Ais serta bibir mungilnya sedikit manyun, sedangkan ibu Ais tertawa mendengarnya.


“Ooo iya, gimana perjalanan ke sini bu, saya dengar ini perjalanan jauh pertama ibu?.” Tanya Anisa.


“Iya ini kali pertama ibu perjalanan jauh, lumayan senang, di hotel tempat menginap juga bagus dan nyaman.


“Kalau begitu besok kita jalan – jalan aja bu biar tau daerah sini,” kata Anisa.


“Besok ibu dan keluarga sudah harus pulang nak, karna bapak sama kakaknya Ais sudah harus kerja, mereka tidak ambil libur supaya pas nanti acara nikahan bisa ambil libur agak panjang.”


“Ya sudah nanti aja pas selesai acara nikah kita semua jalan – jalan,” ujar Ais.


“Hehehe…, gak ada ngobrol biasa aja mbak, oiya besok saya dan keluarga langsung pulang ya mbak.”


“Loh…loh…, kok buru – buru to mbak, pindah aja besok gak usah di hotel nginep disini aja, keluarga saya rumahnya deket – deket jadi nanti sore sudah pada balik.”


“Iya maunya juga begitu mbak, cuman suami saya sama kakaknya Ais harus masuk kerja lo mbak.”


“Ooo…alah begitu.”


“Oiya mbak maaf ini kalau lancang saya mau tanya soal bapaknya Anisa, saya dengar dari Ais bapaknya Anisa sudah almahrum, sakit apa mbak?.”


Anisa dan ibunya saling pandang setelah mendengar pertanyaan dari ibunya Ais, “Ooo iya, itu, tidak apa – apa mbak, kan memang mbak harus tau juga sebagai besan, suami saya, yang juga ayahnya Anisa gugur saat bertugas mbak, suami saya Tentara, waktu itu Anisa masih usia 7 tahun.”

__ADS_1


“Innalillahi, jadi ayah Anisa Tentara, sekarang jodohnya tentara juga, Ais…,” ibu Ais tiba – tiba memanggil


anaknya.


“Iya…,”dengan cepat Ais menjawab.


“Kalau sudah jadi suami Anisa, di jaga baik – baik, perlakukan dengan baik juga, memutuskan jadi istri seorang tentara itu tidak mudah karena harus punya jiwa besar untuk menerima segala resiko, iya to mbak.”


Ibu Anisa tersenyum, “ betul mbak.”


“Iya buk Insya Allah Ais akan menjaga dan membahagiakan Anisa sesuai dengan janjiku tadi.”


“Ciiieee…, so sweeettt…,” ledek Diana, Anisa tersipu malu, tibalah waktunya Ais dan keluarganya berpamitan kembali ke hotel dan sekaligus berpamitan kembali ke kampung besok paginya. Keluarga besar Anisa pun sudah mulai berpamitan pulang.


Masih tersisa paman, bibik Anisa serta Diana yang membantu membersihkan sedikit sisa – sisa acara, Anisa juga sudah berganti pakain dan ikut membantu, tak terasa sudah mulai mendekati Magrip, rumah Anisa pun sudah kembali bersih dan rapi seperti semula, Diana berpamitan pulang, setelah itu paman dan bibi Anisa ikut berpamitan pulang.


Selesai mandi dan shalat Magrip, Ibu Anisa istirahat di sofa depan tv sambil menonton acara di TV, sedangkan Anisa memilih rebahan di kamar karena besok dia harus masuk sif pagi.


Cekling, suara pesan masuk di Hp Anisa, ia buka Hpnya, bibirnya mulai tersenyum membaca pesan dari Bang Ais, “istirahat ya…pasti capek habis acara tadi, abang tidur di hotel ni, nemenin bapak sama ibu, soalnya besok selesai subuh langsung berangkat balik.”


“Iya ini Adek lagi rebahan di kamar, besok salamin ya sama bapak dan ibu hati – hati dijalan, besok Adek masuk sif pagi jadi gak bisa nyamperin ke hotel.” Balas Anisa.


“Iya santai aja, ibu sama bapak udah ngerti kok, ya udah adek istirahat ya, nice dream...,”


“Oke, Nice dream juga.” Anisa mengakhiri pesan dengan hati yang berbunga – bunga.


“Ini seperti mimpi, aku udah di lamar, ya ampun… tak lama statusku jadi istri, aaaa…,”Anisa menutupi wajahnya dengan bantal, ia berbicara dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2