Tawanan Ceo Liar

Tawanan Ceo Liar
Bab 11. Nindi marah


__ADS_3

"Gak ah! Lu aja sana kalo mau keluar! Sekalian lu usir dia ya dan bilang jangan balik lagi kesini gitu!" suruh Tiara.


"Oh oke, tapi gue kasih tahu juga ya kalo itu yang minta lu?" ucap Rifka.


"Eh jangan jangan!" Tiara langsung mencegah Rifka yang hendak pergi ke depan menemui Galen.


"Hadeh, ada apa lagi sih Tiara?! Tadi lu nyuruh gue keluar temuin pak Galen, terus kenapa sekarang malah lu tahan gue?!" heran Rifka.


"Ya lu jangan bilang kalo disuruh gue lah! Bisa dipecat gue nanti!" ucap Tiara.


"Terus gue harus gimana dong? Masa iya gue bilang itu inisiatif gue sendiri? Gak bakalan percaya deh si bos Galen mah, dia kan orang pintar!" ucap Rifka.


"Huft, yaudah lah gausah bilang begitu! Gapapa biarin aja dia disitu," ucap Tiara pasrah.


"Nah gitu dong, gih sana lu samperin tuh bos lu terus berangkat bareng biar makin deket!" goda Rifka.


"Apa sih lu? Gausah ngada-ngada ya!" kesal Tiara.


"Cie Tiara cie, biasanya yang kayak gini nih awal mula bertumbuhnya rasa cinta," ujar Rifka.


"Dasar gelo!" umpat Tiara.


Tiara pun pergi begitu saja meninggalkan Rifka, ia terpaksa keluar rumah menemui Galen meskipun ia tak ingin pria itu ada disana.


Sementara Rifka justru tertawa kecil melihat reaksi Tiara saat hendak menghampiri Galen, ia pun terus memperhatikan Tiara dari posisinya saat ini.


"Kak Rifka!" panggil Nindi dari belakangnya.


Suara itu sontak membuat Rifka terkejut, ia reflek menoleh lalu menemukan Nindi sedang berdiri menatapnya dari jarak cukup dekat.


"Eh dek Nindi, kamu udah bangun? Mau langsung sarapan apa mandi dulu nih?" tanya Rifka.


"Kak Tiara mana, kak?" Nindi balik bertanya pada Rifka mengenai sang kakak.


"Eee kak Tiara nya baru aja berangkat kerja, kamu disini aja ya sama kak Rifka!" ucap Rifka membujuk gadis itu.


Nindi menatap seolah tak percaya, ia menoleh ke arah jendela dan melihat bayangan kakaknya disana bersama seorang lelaki.


"Itu kak Tiara masih di depan kok, aku mau temuin kak Tiara dulu," ucap Nindi.


"Hah? Jangan Nindi, udah gausah ya! Kakak kamu itu lagi buru-buru, nanti dia bisa telat kalo kamu maksa buat temuin dia!" ucap Rifka menghalangi.


"Kenapa sih kak? Emangnya aku gak boleh ketemu dan ngobrol sebentar sama kakak aku sendiri?" tanya Nindi kesal.

__ADS_1


"Bukan begitu Nindi, cuma kan ini waktunya udah mepet. Kalau kak Tiara sampai telat, dia bisa dipecat loh sayang," jelas Rifka.


"Ah aku gak perduli! Pokoknya aku mau samperin kak Tiara kak depan, kalau enggak aku ngambek selamanya!" geram Nindi.


"Nindi, kamu ngertiin kakak kamu dong sayang!" pinta Rifka menahan tangan Nindi.


"Lepasin kak! Kenapa cuma aku yang harus nurut sama kak Tiara? Kak Tiara aja gak pernah ngertiin aku, buat apa aku ngertiin dia?" protes Nindi.


"Kamu jangan kayak gini Nindi! Yang kakak kamu lakuin itu demi kebaikan kamu, dia sayang sama kamu!" ucap Rifka.


"Kalau dia sayang sama aku, harusnya dia selalu ada dong buat aku! Bukan malah pergi-pergian terus kayak ayah sama bunda!" ujar Nindi.


"Kakak kamu itu kerja buat biaya berobat kamu, supaya kamu bisa sembuh!" ucap Rifka.


Nindi membuang muka sembari mencebikkan bibirnya, lalu menghentakkan tangannya lepas dari cengkraman Rifka.


"Eh Nindi tunggu!" Rifka berteriak berusaha menahan Nindi, tetapi gadis itu sudah menjauh.




Di luar, Tiara mendekati Galen dan membuat pria itu sontak berdiri menghadapnya sambil tersenyum renyah.


Tiara sejujurnya tak mau menemui Galen, namun tak mungkin jika ia mengacuhkan bosnya yang sudah datang pagi-pagi sekali ke rumahnya.


"Ya Tiara, kamu sudah mau berangkat sekarang?" tanya Galen ramah.


"I-iya," lirih Tiara.


"Saya antar ya? Kita bareng-bareng ke kantornya!" ajak Galen.


"Gapapa pak? Nanti gak ada yang curiga di kantor kalau kita berangkat bareng?" tanya Tiara.


"Enggak lah, buat apa mereka curiga? Saya kan cuma mau antar kamu ke tempat kerja, supaya kamu juga bisa datang tepat waktu," jawab Galen.


"Baik pak! Tapi, kali ini aja ya? Saya mohon setelah ini bapak jangan datang kesini lagi!" ucap Tiara.


"Loh kenapa Tiara? Justru saya malah pengennya setiap hari saya kesini, karena saya selalu merasa nyaman tiap kali lihat kamu," ucap Galen.


"Bapak jangan ngada-ngada ya!" ucap Tiara.


"Saya tidak mengada-ada Tiara, memang seperti itulah kenyataan yang saya alami," ucap Galen.

__ADS_1


"Kenapa bapak bisa ngerasain itu? Kita kan baru kenal, masa iya bapak udah nyaman sama saya?" tanya Tiara keheranan.


"Entahlah, mungkin karena kamu berbeda dari wanita pada umumnya," jawab Galen.


"Maksud bapak apa ya? Emang apa yang beda dari saya?" tanya Tiara tak mengerti.


"Nanti akan saya jelaskan di mobil, yuk kita masuk dulu ke mobil! Kalau kita ngobrol terus disini, yang ada kita bisa telat," ucap Galen.


"Iya pak," lirih Tiara.


Galen menyentuh tangan Tiara, menggandengnya dan mengajak gadis itu pergi menuju mobil miliknya yang terparkir di depan sana.


Ceklek


"Kak Tiara tunggu!" tiba-tiba Nindi muncul dan berteriak keras.


Sontak Tiara menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang menatap adiknya.


"Nindi??" ucap Tiara terkejut.


"Kak, aku mau bicara sebentar sama kakak. Jangan pergi dulu kak!" pinta Nindi.


"Nindi, kamu mau bicara apa?" tanya Tiara.


"Kenapa bisa ada cowok ini di rumah kita? Dia mau ngapain sama kakak? Terus pake pegang-pegang tangan kakak segala lagi, mau modus ya?!" sentak Nindi menatap wajah Galen penuh emosi.


Tiara menggeleng dan melepas tangan Galen dari lengannya, lalu mendekati Nindi.


"Kamu salah paham Nindi! Pak Galen ini kan bos kakak, dia kesini karena dia mau ajak kakak berangkat bareng ke kantor," ucap Tiara.


"Buat apa bos datang ke rumah karyawannya kalau gak ada niat lain?" tanya Nindi dengan sinis.


"Nindi, kamu gak boleh bicara begitu sama pak Galen! Itu gak sopan tau!" tegur Tiara.


"Gapapa Tiara, saya wajar kok Nindi bilang begitu ke saya. Justru dia kelihatan lebih imut kalau lagi curiga kayak gini," ucap Galen yang sudah kembali mendekati Tiara.


"Heh! Lo jangan coba-coba deketin kakak gue ya! Gue gak akan setuju kakak gue sama lu!" ucap Nindi dengan nada tinggi.


"Kamu tenang aja Nindi! Saya cuma mau bantu kakak kamu kok, saya gak akan macam-macam sama dia. Oh ya, kondisi kamu gimana? Sudah membaik?" ucap Galen santai.


"Gausah kepo lu!" sinis Nindi.


Tiara langsung melotot ke arah Nindi, ia benar-benar khawatir Galen akan emosi dan memecatnya akibat perkataan Nindi barusan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2