
Davin tersenyum miring, lalu merangkul pundak Ciara seraya merapatkan tubuh mereka. Ciara pun tersentak tapi hanya diam tak mengelak.
Mereka melangkah menuju mobil, duduk berdampingan di kursi depan dan Davin mulai melajukan mobilnya.
"Om, kangen ya sama aku?" tanya Ciara menggoda.
"Bisa dibilang iya, kita kan udah jarang banget ketemu. Kamu sendiri gimana? Kangen juga gak sama om?" ujar Davin.
"Umm gimana ya? Mungkin kalau om kasih aku uang, aku bisa bilang kangen," ucap Ciara.
"Hadeh, bisa tekor dong om kalau dimintain uang terus sama kamu. Tapi gapapa, yang penting kamu kangen sama om," kekeh Davin.
"Ahaha, enggak om itu aku cuma bercanda. Iya iya aku kangen sama om," ucap Ciara tersenyum.
"Serius nih? Kamu gak terpaksa kan bilang begitu sama om?" tanya Davin memastikan.
"Gak lah om, masa iya aku terpaksa? Beneran kok aku kangen sama om, kan udah lama juga aku gak ketemu sama om," jawab Ciara.
Davin tersenyum lebar, mencolek pipi Ciara dengan telunjuknya lalu memberikan kecupan tiba-tiba.
Cup!
Ciara terkejut bukan main, ia sontak memegangi pipinya dan menatap Davin dengan wajah bingung seolah tak percaya.
"Ini barusan om Davin cium aku? Oh Tuhan, kenapa aku jadi gugup gini sih abis dicium sama om Davin? Ayo dong Ciara, kamu tahan diri kamu!" gumam Ciara dalam hati.
Davin kembali tersenyum, ia tetap fokus menyetir dikala Ciara tengah gugup bukan main setelah dicium olehnya.
"Om, kenapa om cium pipi aku? Tiba-tiba banget lagi, aku kan jadi..." Ciara menggantung ucapannya.
"Jadi apa? Kamu gak suka dicium sama om? Emang gak boleh om kamu yang ganteng ini cium kamu?" sela Davin.
"Ih om pede banget sih, padahal om tuh biasa aja gak ganteng-ganteng banget!" ujar Ciara.
"Parah banget sih kamu, kalo ngomong jangan jujur-jujur banget lah!" ujar Davin.
"Hehe, bercanda om. Om Davin itu ganteng kok, mirip oppa oppa Korea gitu deh," ucap Ciara.
"Oh ya? Ah paling ini mah cuma akal-akalan kamu doang, biar supaya om kasih kamu uang jajan ya kan?" ujar Davin.
"Gak kok om, ya tapi kalo om emang mau kasih aku uang gapapa sih. Aku bakal terima dengan sepenuh hati," ucap Ciara.
__ADS_1
"Hm, itu mah maunya kamu. Om gak akan kasih dalam bentu uang, tapi apapun yang kamu mau nanti tinggal bilang aja oke!" ucap Davin.
"Waw serius om? Berarti kalo aku minta mobil, om juga bakal beliin gitu?" tanya Ciara.
"Ya enggak gitu juga kali Ciara, uang darimana om bisa beliin kamu mobil? Kalau mau, kamu minta aja tuh sama papa kamu!" ucap Davin.
"Hahaha, aku bercanda om. Eee kita tuh mau kemana sih om? Om gak bakal ajak aku ke tempat yang aneh-aneh kan?" tanya Ciara.
Davin menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, sampai Ciara terkejut dan tubuhnya terdorong ke depan.
"Ish, om kalo ngerem jangan dadakan dong! Aku kan jadi kaget tau," protes Ciara.
"Maaf sayang, om cuma mau jawab pertanyaan kamu kan. Om ini tadinya sih pengen bawa kamu ke apartemen om, kira-kira kamu mau gak?" ucap Davin menyeringai.
Ciara meneguk saliva nya dengan susah payah, ucapan serta tatapan pamannya itu amat membuat ia sulit bernafas.
"Om udah gak waras ya?" ujar Ciara.
Pria itu mendekati wajah Ciara dan menuju ke telinga ponakannya, ia selipkan rambut gadis itu lalu meniup daun telinganya hingga sang empu tampak gelisah.
"Mmhhh apaan sih om? Jangan disitu ah geli tau!" ucap Ciara sedikit menjauh.
Ciara sontak terkejut, matanya melongok lebar dan sulit untuk bernafas dengan tenang. Apalagi Davin semakin iseng bermain di telinganya.
•
•
Sementara itu, Tiara mendapat kabar dari dokter yang selama ini menangani Nindi alias adiknya setelah memeriksa kembali kondisi gadis itu.
Tiara sangat penasaran dan tidak sabar ingin mendengar perkataan dokter, ia berharap adiknya telah sembuh seutuhnya dari penyakitnya.
"Dok, jadi gimana soal adik saya? Apa ada kemajuan?" tanya Tiara.
Dokter itu tersenyum lebar, "Syukurlah Tiara, setelah proses operasi kita hari itu, kini kondisi Nindi semakin membaik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan terlalu berlebihan," jawabnya.
Sontak Tiara terperangah, ini yang sedari tadi ia harapkan dari jawaban sang dokter. Ia sangat bahagia tentu mendengarnya.
"Serius dok? Berarti adik saya udah sembuh dong dari penyakitnya?" tanya Tiara memastikan.
"Insyaallah Tiara, tapi tetap saja kami masih harus terus memantau kondisi Nindi sampai kami dapat memastikan bahwa penyakit itu telah benar-benar hilang dari tubuh Nindi," jawab dokter itu.
__ADS_1
"Oh syukurlah, saya senang banget dengarnya dok! Makasih ya dokter selama ini udah mau bantu saya untuk menyembuhkan adik saya, jujur aja saya khawatir banget adik saya kenapa-napa!" ucap Tiara tampak senang.
"Itu sudah tugas saya Tiara, seorang dokter akan selalu membantu pasiennya yang membutuhkan. Bawa selalu Nindi kemari jika dia merasakan keluhan seperti biasanya," ujar dokter itu.
"Baik dok, kalau begitu saya permisi dulu. Sekali lagi terimakasih atas waktunya!" ucap Tiara.
"Sama-sama Tiara, semoga Nindi sehat selalu ya!" ucap dokter itu.
Tiara pun bangkit dari duduknya, lalu melangkah keluar dari ruangan dokter tersebut. Di luar, sudah terdapat Galen yang menunggunya dan langsung tersenyum begitu melihat Tiara keluar. Tiara pun menghampirinya dengan wajah bahagia.
"Gimana Tiara? Apa kata dokter itu soal adik kamu?" tanya Galen penasaran.
"Eee Alhamdulillah pak, dokter bilang kalau Nindi kondisinya semakin membaik. Aku senang banget loh pak!" jawab Tiara.
"Ya bagus deh, tapi bisa gak sih kamu jangan panggil saya pak terus!" kesal Galen.
"I-i-iya, aku lupa Galen. Aku kan udah terbiasa panggil kamu pak soalnya," ucap Tiara.
"Mulai hari ini, kamu biasakan panggil saya sayang! Mengerti?" pinta Galen.
"Dih kenapa gitu? Aku gak mau ya panggil kamu sayang," elak Tiara.
"Harus mau dong sayang, kalau enggak nanti saya akan bikin kamu hamil. Emang kamu mau hamil di luar nikah?" ancam Galen.
"Aku gak mau lah, tapi aku juga gak mau panggil sayang ke kamu. Aku—"
Galen langsung membungkam mulut Tiara dengan bibirnya, ia mencium ganas bibir Tiara sembari mencengkram erat kedua tangan gadis itu dan mendorongnya ke dinding.
Setelah puas, barulah Galen melepaskan tautan bibirnya dan menatap Tiara yang masih terlihat ngos-ngosan akibat ciuman paksa yang dilakukan Galen barusan.
"Gimana? Masih gak mau nurut sama saya, hm?" tanya Galen sembari mengusap bibir gadisnya.
"Okay, aku mau panggil kamu sayang. Kamu senang kan?" ucap Tiara tersenyum.
"Nah gitu dong, kan enak kalo kamu mau panggil saya sayang dan nurut sama saya. Abis ini kita segera langsungkan pernikahan ya?" ucap Galen.
"Hah??" Tiara tersentak bukan main.
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1