
Dan tanpa Tiara sadari, Mimin serta Edwin kini sudah berada di dekatnya dan menatap ke arah Tiara dengan tak percaya.
"Tiara!" panggil Mimin pelan.
Sontak Tiara menoleh, ia terkejut melihat kehadiran kedua temannya itu disana.
"Mimin, kak Edwin?" kaget Tiara.
"Pantas aja tadi lu minta izin balik duluan, ternyata udah diajak pulang sama pak bos Galen," cibir Mimin sambil tersenyum kecil.
"Apa sih ih? Gue tadi gak sengaja aja ketemu pak Galen pas mau pulang, terus dia paksa gue buat bareng. Ya yaudah deh gue terima aja, daripada gue dimarahin," elak Tiara.
"Ah masih ngeles aja lu, perasaan kita tadi lihat sendiri lu yang nyamperin pak Galen disini," ucap Mimin.
"Iya tuh, kita juga lihat lu mesra banget sama pak Galen. Bahkan, tadi pak Galen bukain pintu mobil buat lu," sahut Edwin.
"Loh emang kenapa kalo pak Galen kayak gitu? Salah?" tanya Tiara heran.
"Gak salah, cuma kan biasanya kalo yang kayak gitu tuh berarti tandanya ada apa-apa," jawab Mimin.
"Kalian jangan salah paham dong! Gue sama pak Galen gak ada hubungan apa-apa kok," ucap Tiara terus mengelak.
"Halah ngaku aja deh lu Ra, lu sama pak Galen pacaran kan!" ucap Mimin.
Tiara terdiam saat itu juga, ia dilanda kebingungan yang amat sangat ketika Mimin bertanya seperti itu.
"Ya, saya dan Tiara memang berpacaran."
Suara itu mengejutkan ketiganya, Tiara langsung terbelalak lebar mengetahui Galen sudah kembali dan muncul di dekatnya.
"Pak Galen??" ucap Mimin dan Edwin.
"Iya Mimin, tebakan kamu yang tadi itu benar. Saya memang ada hubungan dengan Tiara, dan kami sudah dari lama merahasiakan ini. Maafkan kami ya kalau kalian jadi terganggu!" ucap Galen.
"Eee enggak kok pak, ya gak ada begitu lah. Kita cuma penasaran aja tadi," ucap Mimin.
Tiara pun menyusul keluar dan berniat membantah omongan Galen, karena memang diantara dirinya dan pria itu tidak ada hubungan apapun.
"Enggak, itu gak bener. Bapak jangan bikin berita hoax deh!" sangkal Tiara.
"Udah lah Tiara, kamu akui aja semuanya! Kita berdua kan emang udah pacaran," ucap Galen.
"Mana ada? Bapak gausah ngada-ngada ya, diantara kita itu gak ada apa-apa!" ucap Tiara.
"Tiara, mau sampai kapan kamu sembunyikan semua ini dari mereka? Sudahlah katakan saja yang sebenarnya!" ucap Galen.
"Tapi pak—"
__ADS_1
"Cukup ya Tiara, kalau kamu bantah terus nanti saya justru akan umumkan ke seluruh karyawan di kantor kalau kamu itu pacar saya!" sela Galen.
Tiara sontak kaget dan cemas mendengar ancaman Galen, akhirnya ia tak memiliki pilihan lain selain menurut saja dengan pria itu.
"Ja-jangan pak! Iya deh, aku ngaku kalau kita emang ada hubungan," ucap Tiara pasrah.
"Nah, itu lebih baik sayang. Sekarang gak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi diantara kita, kalian berdua juga udah tahu semuanya kan? Tolong bantu jaga rahasia ya!" ucap Galen merangkul Tiara.
"I-i-iya pak, kita pasti bisa jaga rahasia kok. Kita gak akan kasih tau siapapun tentang ini," ucap Mimin.
"Bagus! Kamu dengar sendiri kan Tiara? Teman-teman kamu ini bisa dipercaya kok, jadi kamu gausah cemas lagi!" ucap Galen.
Tiara mengangguk pelan tanpa berbicara.
"Yaudah, saya sama pacar saya pamit dulu ya? Kalian juga bisa pulang sekarang, hati-hati di jalan!" ucap Galen pamit.
"Siap pak, hati-hati juga ya pak! Tiara, sampai ketemu besok!" ucap Mimin.
"Iya Min, bye!" balas Tiara.
Tiara pun pergi bersama Galen dengan mobil pria itu, sedangkan Mimin dan Edwin masih tetap disana berdiri tak percaya.
•
•
"Berhenti Nindi, kamu gak perlu buang-buang tenaga kamu kayak gini!" ucap Erland.
"Enggak, gue gak bakal berhenti. Lo pergi aja sana jangan ganggu gue!" sentak Nindi.
Lama-kelamaan, kepala Nindi mulai terasa pusing dan jantungnya berdebar kencang. Ia mulai kehilangan pandangan akibat kelelahan.
"Awhh aku gak boleh pingsan disini, aku harus kabur dulu dari dia!" batin Nindi.
Melihat Nindi yang mulai lemas, Erland menyeringai lalu mempercepat langkahnya mendekati gadis itu.
Sedetik kemudian, Erland pun berhasil menangkap tubuh Nindi dan mendekapnya cukup kuat sehingga Nindi tak bisa lepas.
"Ih lepas, lepasin!" ucap Nindi berontak.
"Ahaha, lu sekarang udah gak bisa kemana-mana lagi Nindi. Gue bakal bawa lu pergi dari sini, setelah ini lu resmi jadi milik gue. Ayo kita cabut dan nikmati waktu berdua!" ucap Erland.
"Gak mau, lepasin gue! Toloongg siapapun tolong gue!" teriak Nindi terus meronta-ronta.
Erland hanya terkekeh kecil, kemudian menyeret paksa Nindi pergi dari tempat itu tanpa mendengarkan ocehan Nindi.
"Hey, lepaskan dia!" suara lantang tersebut mengagetkan Erland serta Nindi.
__ADS_1
Erland menghentikan langkahnya, lalu menatap ke asal suara dan menemukan seorang pria berdiri disana mendekatinya.
Nindi juga coba melihat siapa yang berteriak tadi, sontak ia tersenyum lega saat mengetahui Leon lah yang datang untuknya.
"Kak Leon? Kak, tolongin aku kak! Orang ini mau jahatin aku," rengek Nindi.
"Diam kamu Nindi, jangan coba-coba kamu kabur dari aku!" sentak Erland.
"Ish lepas, kak Leon tolong aku! Aku gak mau sama dia!" ucap Nindi terus meronta-ronta.
Leon bergerak semakin mendekati mereka, ia menatap tajam ke arah Erland sembari mengepalkan tangannya.
"Lepasin Nindi, jangan main-main dengan saya!" perintah Leon.
"Gue gak bakal lepasin Nindi, karena dia itu punya gue! Lo pergi sana!" ujar Erland tegas.
"Baiklah, kamu sendiri yang minta dikasarin. Jangan salahkan saya kalau terjadi apa-apa sama kamu bocah SMP sialan!" ucap Leon.
"Oh ya? Hahaha, emangnya lu bisa apa sih orang tua?!" ledek Erland.
"Kamu nantangin saya? Nindi, kamu tenang ya jangan panik!" ucap Leon santai.
"Iya kak, tapi cepetan bebasin aku! Aku takut banget!" ucap Nindi.
Erland menyeringai dan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Nindi, sedangkan Leon langsung bergerak cepat menarik paksa Nindi lepas dari dekapan pria itu.
Setelah berusaha maksimal, Leon pun berhasil melepaskan Nindi dan membawanya ke belakang dengan aman.
"Sial! Lu bener-bener minta dihajar!" umpat Erland.
Erland yang marah pun bergerak maju dan berniat memukul Leon, tapi dengan mudah ditangkis serta dibalikan oleh Leon.
"Kamu itu masih bocah, jangan sok melawan saya! Belajar saja yang pintar di sekolah!" ucap Leon.
"Cih lepas!" berontak Erland.
Leon mendorong tubuh Erland hingga pria itu tersungkur, lalu Erland pun berlari menjauh dari Leon karena ketakutan.
Nindi merasa lega karena Erland telah pergi, ia tersenyum menghampiri Leon yang baru saja menolongnya.
"Kak, makasih ya!" ucap Nindi.
Leon terkejut hebat saat merasakan Nindi memeluknya dari belakang.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1