
Galen dan Tiara tiba di rumah gadis itu, mereka sama-sama turun dari mobil dengan langkah tergesa untuk bisa segera masuk ke rumah.
Tiara baru mendapat kabar dari Rifka, tetangganya yang ia mintai pertolongan untuk menjaga adiknya yang sedang sakit kalau saat ini sang adik kembali drop dan membutuhkan penanganan segera.
Begitu memasuki rumah, Tiara langsung dihadang oleh Rifka yang terlihat amat panik.
"Nah Tiara, baguslah lu udah sampe! Cepetan kita harus bawa adik lu ke rumah sakit, dia drop lagi Ra!" ucap Rifka panik.
"Iya, kamu panggil taksi sekarang!" suruh Tiara.
Rifka mengangguk dan berjalan keluar, sedangkan Tiara masuk ke kamar menemui adiknya.
Namun, Galen menghadang langkah Rifka dengan telapak tangannya.
"Eh tunggu!" ucap Galen.
"Duh, ada apa sih? Kamu siapa coba?" tanya Rifka.
"Saya temannya Tiara, kamu gak perlu panggil taksi. Biar nanti saya yang bantu bawa adiknya Tiara pakai mobil saya," jawab Galen.
"Oh gitu, yaudah kalo gitu gue ke dalam dulu ya? Gue mau bantu Tiara bawa adiknya," ucap Rifka.
"Saya ikut," pinta Galen.
"Yaudah ayo!" ajak Rifka.
Keduanya pun sama-sama masuk ke dalam menyusul Tiara yang sudah lebih dulu disana.
Tampak Tiara sangat syok melihat kondisi adiknya saat ini, sang adik terlihat pingsan dengan wajah cukup pucat dan menyedihkan.
"Nindi! Ya ampun, kamu kenapa sayang? Bangun dong Nindi, ini ada kakak disini! Kamu harus sadar dan bertahan!" tangis Tiara pecah seketika.
"Tiara, kita harus segera bawa adik kamu! Biar saya bantu ya?" ucap Galen.
Tiara terkejut mendengar itu, dia menoleh melihat ke arah Galen yang tengah berdiri di belakangnya bersama Rifka.
"Rifka, mana taksinya? Lu udah dapet belum?" Tiara malah mengabaikan Galen dan bertanya pada Rifka.
"Eee gue gak jadi nyari taksi Ra, kan udah ada teman lu yang mau bantu," jawab Rifka.
"Duh, lu apaan sih Rifka? Gue tuh gak mau punya hutang budi sama dia, udah deh sekarang lu tolong cari taksi di depan! Gue harus bawa Nindi ke rumah sakit!" sentak Tiara.
"Oke Ra!" baru saja Rifka hendak pergi, Galen kembali menahannya.
__ADS_1
"Gak ada waktu lagi Tiara, udah ya kamu biarin aja saya bantu kamu! Saya gak akan anggap ini sebagai hutang, kamu tenang aja!" ucap Galen.
"Tapi pak—"
"Kamu dengarkan saya Tiara, jangan membantah jika kamu gak mau dipecat!" sela Galen.
Pria itu langsung bergerak ke depan melewati Tiara, ia perlahan membopong tubuh Nindi lalu membawanya keluar.
Tiara masih berdiam diri di tempat, ia bingung apakah ia harus menerima bantuan Galen atau tidak?
"Ra, lu kenapa diem aja? Ayo Ra kita ikut antar Nindi ke rumah sakit!" ucap Rifka.
"Eee iya iya, lu disini aja ya Rif! Biar gue sama pak Galen aja yang bawa Nindi ke rumah sakit, nanti kalo ada apa-apa pasti gue kabarin lu kok!" ucap Tiara.
"Oh oke, kabarin gue ya Ra!" ucap Rifka.
"Pasti!" singkat Tiara.
Setelahnya, Tiara pun bergerak cepat menyusul Galen keluar dari rumahnya untuk segera pergi ke rumah sakit.
Saat di luar, Galen sudah menunggu Tiara cukup lama. Pria itu menghampiri Tiara dengan tatapan tajam seolah hendak marah.
"Kamu ngapain aja sih? Kok lama?" tanya Galen.
Tiara langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Nindi, sedangkan Galen tampak menggelengkan kepalanya.
•
•
Saat di rumah sakit, Tiara terlihat panik dan terus memikirkan kesehatan adiknya. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Nindi sang adik.
Sementara Galen langsung menghampiri Tiara dan memegang kedua pundaknya, ia berniat membujuk gadis itu untuk menerima tawarannya.
"Tiara, bisa kita bicara sebentar?" ucap Galen.
"Bicara apa pak?" tanya Tiara.
"Kita duduk dulu yuk! Saya mau kamu santai dan jangan panik!" pinta Galen.
"Langsung aja bicara disini pak! Saya gak bisa santai selagi Nindi masih diperiksa di dalam, saya khawatir sama kondisi Nindi pak! Saya takut dia kenapa-napa!" ucap Tiara.
"Dia gak akan kenapa-napa, kamu harus percaya itu dong Tiara!" ucap Galen.
__ADS_1
"Yaudah, terus bapak mau bicara apa? Jangan kebanyakan basa-basi deh pak!" kesal Tiara.
"Saya mau kamu pikirin lagi soal tawaran saya tadi, ini semua demi keselamatan adik kamu loh. Apa kamu mau dia sakit-sakitan terus?" ucap Galen.
"Pak, bapak tahu apa sih soal adik saya? Bapak gausah maksa saya buat terima tawaran bapak deh! Saya yakin niat bapak bukan untuk bantu saya, tapi karena bapak terobsesi kan dengan tubuh saya?!" ucap Tiara.
"Kalau iya kenapa? Yang penting kita sama-sama diuntungkan disini," ujar Galen.
"Diuntungkan darimana nya pak? Jelas-jelas saya rugi disini, saya harus kehilangan mahkota yang selama ini saya jaga. Sebaiknya bapak stop kasih tawaran itu ke saya!" ucap Tiara tegas.
"Kenapa sih Tiara? Kamu gak mau adik kamu selamat? Kondisinya akan terus begini jika dia tidak terus diobati Tiara," ucap Galen.
"Saya akan terus usahakan yang terbaik untuk adik saya, dan bapak pasti tau itu. Tapi, saya gak mungkin terima tawaran bapak yang sangat tidak menguntungkan itu!" kesal Tiara.
"Terserah kamu, yang penting saya sudah menawarkan bantuan untuk kamu," ucap Galen.
Tiara hanya diam memalingkan wajahnya.
"Tapi kalau menurut saya, ada baiknya kamu pikirkan lagi tawaran itu! Saya akan jamin keselamatan adik kamu, kamu bisa percaya sama saya Tiara!" ucap Galen.
"Bapak bukan Tuhan yang bisa menjamin sesuatu, jadi jangan bicara begitu pak!" ujar Tiara.
"Ya ya ya, tapi setidaknya saya bisa bantu mengusahakan yang terbaik untuk adik kamu. Daripada kamu bingung terus kan?" ucap Galen.
"Saya gak butuh itu! Saya bisa urus adik saya sendiri tanpa bantuan bapak!" sentak Tiara.
"Kamu keras kepala sekali ya Tiara, apa kamu gak takut akan menyesal di kemudian hari?" ujar Galen.
"Saya lebih menyesal jika saya menyerahkan diri saya ke bapak, karena itu akan membuat saya hancur sehancur-hancurnya!" ucap Tiara.
"Ohh, lalu apa kamu tidak memikirkan adik kamu? Bukannya dia keluarga kamu satu-satunya saat ini?" tanya Galen.
Tiara terdiam, dia benar-benar dibuat bingung dan tidak tahu harus mengambil keputusan apa.
"Dengar ya Tiara, kesempatan tidak datang dua kali. Cuma dengan ini kamu bisa menyembuhkan adik kamu, dia butuh kamu Tiara. Kamu gak mau kan kehilangan orang yang kamu sayangi lagi?" ucap Galen.
"Cukup pak! Tolong jangan bahas ini lagi sekarang, saya mau fokus dengan Nindi! Kita bisa bicarakan ini lain kali, sekarang bapak lebih baik pergi dan jangan ganggu saya!" tegas Tiara.
"Saya akan tetap disini temani kamu Tiara," ucap Galen.
Pria itu langsung mendekap Tiara dengan erat sembari mengusap punggung nya, mengecup ceruk leher Tiara bermaksud menenangkan nya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...