
Beberapa hari telah berlalu, Tiara kini tengah berada di dalam ruang kerja Galen karena pria itu memanggilnya saat sedang sibuk bekerja.
Tiara kembali dipaksa oleh Galen untuk mau menerima tawarannya, dan kali ini Tiara tidak lagi menolak namun menerima semuanya dengan lapang dada.
"Bagaimana Tiara? Kamu mau kan terima tawaran saya ini?" tanya Galen untuk kesekian kalinya.
"Iya pak, saya mau. Tapi, gak setiap hari kan saya harus melayani bapak?" jawab Tiara tampak lesu.
"Tergantung, intinya kamu harus siap setiap kali saya menginginkan kamu," ucap Galen.
Tiara terdiam sesaat, menundukkan kepalanya menatap lembar kertas di depannya yang menanti untuk ditandatangani. Ia masih sedikit ragu untuk melakukannya, tapi semua ini demi sang adik.
"Ayolah Tiara, ini demi adik kamu dan kebahagiaan dia! Kamu gak mau kan dia sakit-sakitan terus seperti sekarang?" ucap Galen.
"Saya mengerti pak," lirih Tiara.
"Baguslah Tiara! Lalu tunggu apa lagi? Cepat kamu tandatangani surat itu!" ucap Galen.
"Baik pak!" ucap Tiara penuh yakin.
Galen menyeringai mendengarnya, perlahan Tiara mendekatkan pulpen yang ia pegang ke arah kolom tandatangan di kertas tersebut.
Setelah memejamkan mata dan berpikir keras, akhirnya Tiara mulai menandatangani surat itu dan kini dirinya resmi menjadi milik pria di hadapannya.
"Sudah pak, saya sudah tandatangani ini. Bisa kan saya minta dananya sekarang?" ucap Tiara.
"Sure, saya akan transfer ke rekening kamu saat ini juga. Tidak perlu takut Tiara!" ucap Galen.
Tiara mengangguk, sedangkan Galen mengambil ponsel dari saku celana untuk mentransfer dana yang diminta Tiara ke rekeningnya.
"Saya sudah transfer uangnya, kamu bisa cek sekarang!" ucap Galen.
"Iya pak," singkat Tiara. Ia langsung mengecek isi rekeningnya melalui ponsel.
"Terimakasih pak, ini sudah masuk!" sambungnya.
"Sama-sama, malam ini saya tunggu kamu di apartemen saya! Saya akan shareloc lokasinya ke ponsel kamu," ucap Galen.
"Baik pak! Saya akan usahakan datang sesuai perintah bapak dan tidak mengecewakan bapak," ucap Tiara.
"Kamu harus datang Tiara, pakai pakaian yang seksi agar semakin menarik minat saya! Saya sudah gak sabar untuk mencicipi tubuh indah kamu ini," ucap Galen yang bangkit dari duduknya dan membelai wajah Tiara.
"Sabar pak, malam hanya tinggal beberapa jam lagi! Ini masih di kantor, tolong jangan lakukan hal tidak senonoh! Saya gak mau sampai ada yang tahu tentang ini," ucap Tiara.
__ADS_1
"Kamu tenang aja baby! Cukup nurut sama saya, maka itu akan jadi rahasia kita!" ucap Galen.
"Iya pak, saya nurut kok," ucap Tiara.
Tiara tersenyum saat Galen menarik dagunya dan mengecup kedua pipinya, namun di dalam hatinya saat ini ia tengah menangis cukup deras.
"Kamu bisa kembali bekerja, selesaikan jam kerja kamu dan kita ketemu lagi di apartemen saya nanti!" ucap Galen.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu untuk lanjut bekerja!" ucap Tiara pamit.
"Okay, tapi jangan sampai kamu lupa ya tentang perjanjian yang tertera di surat itu tadi! Mungkin kamu bisa foto supaya kamu gak lupa dan gak harus bayar denda nantinya," ucap Galen.
"Tidak perlu pak, saya bisa mengingat semuanya karena saya memiliki memori yang baik," ucap Tiara.
"Coba sebutkan!" pinta Galen.
"Pertama, saya tidak boleh dekat dengan laki-laki lain selama perjanjian ini berlangsung. Kedua, saya harus selalu siap melayani bapak kapanpun dan di manapun bapak minta. Ketiga, saya harus menuruti perintah bapak dan tidak boleh membantah. Terakhir, periode perjanjian ini berlangsung selama lima tahun," ucap Tiara dengan lantang.
"Good girl!" puji Galen.
•
•
Singkat cerita, Tiara telah bersiap untuk pulang karena jam kantor sudah berakhir. Ia melihat sekilas ke depan dan menemukan Galen disana.
"Ini malam pertama gue, semoga berjalan lancar!" batin Tiara.
Akhirnya Tiara meraih tasnya dan bersiap pulang, namun tiba-tiba Edwin muncul merangkul pundaknya dari belakang secara mendadak.
"Tiara pulang bareng yuk!" ajak Edwin.
"Hah kak Edwin??" Tiara tersentak kaget.
"Iya, ayo aku antar kamu pulang ke rumah! Kamu mau kan Tiara?" ucap Edwin.
"Duh maaf kak! Aku kayaknya mau pulang sendiri aja, sorry ya!" ucap Tiara menolak.
"Kenapa Tiara? Kamu takut si Mimin lihat kita pulang berdua gitu?" tanya Edwin.
"Gak gitu, aku cuma—"
"Ayolah Tiara, kali ini aja kok! Kamu mau ya, please!" potong Edwin membujuk gadis itu.
__ADS_1
"Maaf kak, tapi beneran gak bisa!" tolak Tiara.
Tiara melepas rangkulan Edwin dari pundaknya, lalu melirik ke arah ia menemukan Galen tadi. Tampak pria itu masih disana, menatapnya dengan tajam seakan hendak marah.
"Kenapa sih Tiara? Kamu kayak menghindar gitu dari aku, ada apa?" tanya Edwin keheranan.
"Enggak kok, aku buru-buru kak harus pulang dan cek adik aku. Sekali lagi maaf ya tolong jangan paksa aku buat pulang bareng kamu!" jawab Tiara.
"Baiklah, aku gak akan paksa kamu lagi. Tapi, jelasin dong alasannya Tiara!" ucap Edwin.
"Alasan apa kak? Emang aku gak bisa pulang bareng kamu, mending kamu coba ajak kak Mimin aja sana!" ucap Tiara.
"Aku gak suka sama dia, aku sukanya kamu Tiara!" ucap Edwin seraya menggenggam tangan Tiara.
"Kak, please jangan kayak gini! Aku gak mau ada yang lihat kita dan salah paham nantinya! Ini masih wilayah kantor kak!" pinta Tiara.
"Salahnya dimana? Kita sama-sama single kan? Aku suka sama kamu, dan aku harap kamu juga gitu Tiara!" ucap Edwin.
Tiara kembali melirik Galen di depan sana, ia benar-benar khawatir saat ini.
"Maaf kak! Tapi, aku gak suka sama kamu. Aku cuma anggap kamu teman aja gak lebih, lagipun aku udah punya seseorang yang aku sukai dan itu bukan kamu!" ucap Tiara melepas genggaman Edwin.
"Aku juga harus pulang sekarang, maaf banget ya kak aku gak bisa balas perasaan kamu karena aku emang gak suka sama kamu!" sambungnya.
Edwin hanya terdiam memandangi Tiara, perasaannya betul-betul hancur saat ini. Lagi dan lagi ia gagal dalam urusan cinta, padahal ia sangat berharap Tiara akan mencintainya.
"Sudah ya kak, aku pulang duluan? Permisi, assalamualaikum!" pamit Tiara.
"Waalaikumsallam.."
Tiara langsung melangkah pergi dari tempat itu meninggalkan Edwin yang masih melamun tak bergerak sedikitpun.
Setelah Tiara pergi, Galen pun ikut menyusul pergi dan berniat menghampiri gadis itu untuk bicara sebentar dengannya.
Benar saja Galen saat ini sudah ada di hadapan Tiara, ia mencegat gadis tersebut dan menatapnya penuh emosi akibat kejadian Tiara.
"Tiara tunggu, saya mau bicara sama kamu!" ucap Galen tegas.
"Maaf pak! Yang tadi itu saya beneran gak sengaja, saya udah berusaha menghindar dari kak Edwin, tapi dia tetap maksa saya pak," ucap Tiara.
"Ya saya tahu, saya cuma senang dengan sikap kamu tadi! Terus begitu ya Tiara, jangan dekati lelaki lain!" ucap Galen tersenyum.
Tiara merasa lega karena Galen tidak jadi memarahinya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...