
Galen pulang ke rumah, ia langsung disambut oleh sang adik yang sudah tampak rapih dan bersiap untuk pergi menemui teman-temannya.
Melihat itu, Galen sontak menatap heran ke seluruh tubuh Ciara dari atas sampai bawah. Wajahnya terlihat tidak suka mengetahui adiknya memakai pakaian cukup terbuka.
"Eh kakak udah pulang, pas banget aku emang lagi nungguin kakak," ucap Ciara.
"Kamu mau kemana rapih begini? Ketemu sama pacar?" tanya Galen curiga.
"Enggak kok kak, mana punya aku pacar? Aku cuma pengen main sama teman di luar, boleh ya kak?" jawab Ciara.
"Ohh, udah izin mama belum?" tanya Galen.
Ciara menggeleng sembari menggaruk rambutnya.
"Kenapa belum?" tanya Galen lagi.
"Aku males aja harus ke rumah papa Gavin, jauh tau kak dari sini. Mending aku izin sama kakak aja, lagian apa bedanya coba?" jawab Ciara.
"Beda lah Ciara, kamu tetap harus bilang sama mama dulu. Kalau gak bisa datang kesana, kan bisa telpon atau sms!" ujar Galen.
"Ah ribet banget sih kak, aku cuma mau ketemu temen loh," kesal Ciara.
"Emang harus begitu Ciara, aku gak mau mama nanti nyalahin aku kalau terjadi apa-apa sama kamu. Lagian kamu mau ketemu teman kenapa pakaiannya terbuka gini sih? Gak ada pakaian lain apa yang lebih tertutup?" ujar Galen.
"Yah elah, perasaan ini gak terlalu kebuka. Kakak aja yang lebay tau! Udah ah aku mau pergi, minta duit buat jajan dong kak!" ucap Ciara.
"Ciara!" bentak Galen.
Seketika gadis itu terkejut, ia tak mengerti mengapa Galen membentaknya seperti itu.
"Ada apa sih kak??" tanya Ciara heran.
"Kamu itu kenapa ngeyel banget sih? Aku cuma suruh kamu pakai baju yang lebih tertutup, cepet sana masuk dan ganti baju!" tegas Galen.
"Gak mau!" tolak Ciara.
Galen mendengus kesal, kemudian mencengkeram lengan adiknya dengan kuat.
"Kamu ganti baju atau aku kunciin di kamar!" ancam Galen.
"Huh kebiasaan deh, ancaman kakak pasti selalu begitu. Kenapa sih kakak gak bolehin aku keluar pake baju kayak gini? Perasaan anak-anak perempuan lain boleh-boleh aja tuh," protes Ciara.
"Ciara, mama itu nitipin kamu ke aku. Jadi, aku gak mau kecewain mama. Kamu tolong dong nurut sama aku Ciara!" ucap Galen.
"Iya iya, aku ganti baju. Tapi lepasin dulu tangan aku dong sakit tau!" ucap Ciara.
Akhirnya Galen melepaskan lengan adiknya, membiarkan sang adik masuk kembali untuk berganti pakaian.
"Saya bodoh apa gimana ya? Saya gak mau adik saya tersakiti, tapi saya malah berniat menyakiti perempuan lain. Hadeh Galen, ada-ada aja kamu!" gumam Galen.
__ADS_1
Pria itu pun menyusul masuk ke dalam.
•
•
Sementara itu, Leon mengantar Tiara serta adiknya pulang ke rumah setelah Nindi dibolehkan untuk keluar dari rumah sakit oleh dokter.
Sebenarnya Tiara tak mau menerima tawaran Leon, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain karena uangnya sedang menipis.
"Ini rumah kamu Tiara?" tanya Leon.
"I-iya pak, terimakasih ya udah mau anterin aku sama adik aku!" jawab Tiara.
"Sama-sama Tiara, saya senang kok antar kalian. Semoga cepat sembuh ya Nindi! Kamu harus sehat biar kakak kamu gak sedih!" ucap Leon.
"Iya kak Leon, makasih banyak ya tumpangannya! Kapan-kapan kalo aku berobat, kak Leon bisa antar aku lagi kan?" ucap Nindi.
"Nindi!" Tiara langsung menegur adiknya dan memberikan tatapan tajam.
"Kenapa kak? Aku bicara begitu supaya kakak juga gak perlu keluar ongkos buat bawa aku ke rumah sakit," ucap Nindi.
"Ya tapi—"
"Tiara, udah gapapa kok. Yang dibilang adik kamu itu benar, saya siap kok antar kalian kalau kalian butuh. Tapi, mungkin lain waktu yang antar kalian itu pak bos Galen," sela Leon.
"Pak bos Galen? Itu siapa kak Leon?" tanya Nindi penasaran.
"Ohh, cowok yang nyebelin itu? Ih kalo sama dia mah aku gak mau kak!" ketus Nindi.
"Nindi, kamu bicara apa sih? Gak baik ngomong kayak gitu!" ucap Tiara.
"Emang kenapa kak? Bener kok dia nyebelin, sok banget jadi orang! Beda sama kak Leon yang baik dan asyik," ujar Nindi.
"Pak bos gak begitu kok Nindi, beliau orangnya juga baik. Mungkin kamu salah mengartikan ucapan beliau aja," ucap Leon.
"Iya, udah yuk Nindi kita turun!" ajak Tiara.
"Kak Leon ikut ke dalam kan?" tanya Nindi.
"Eee..."
"Nindi, biarin pak Leon nya pulang. Ini kan sudah malam, gak elok juga kalau ada laki-laki main ke rumah kita. Kapan-kapan aja ya," ucap Tiara.
"Tapi kak, aku masih pengen ngobrol sama kak Leon. Boleh ya kak Leon mampir sebentar? Kasihan tau kak Leon haus tuh pasti, minimal kakak kasih minum lah buat dia!" ucap Nindi.
"Gapapa Nindi, saya gak haus kok. Kamu masuk aja ke rumah bareng kakak kamu, nanti kapan-kapan deh saya mampir," ucap Leon.
"Yah kak!" Nindi tampak kecewa.
__ADS_1
"Pak, kayaknya gapapa deh kalau bapak mampir sebentar ke dalam," ucap Tiara.
"Nah gitu dong kak! Ayo kak Leon ikut sama kita ke dalam!" ucap Nindi.
"Ah iya iya," singkat Leon.
Akhirnya Leon pun ikut bersama Tiara dan Nindi masuk ke dalam rumah itu.
•
•
Kini Tiara, Nindi serta Leon sudah berada di dalam. Rifka yang kebetulan masih terjaga pun tampak menghampiri mereka untuk menanyakan kondisi sang adik dari sahabatnya itu.
"Tiara, kalian udah pulang? Gue kira Nindi harus dirawat inap di rumah sakit, tapi syukurlah kalau enggak!" ucap Rifka.
"Iya Rif, Alhamdulillah Nindi boleh pulang! Kata dokter kondisi Nindi udah membaik, ya semoga aja terus begini!" ucap Tiara.
"Aamiin! Eh ini siapa Ra? Perasaan yang tadi nganter lu bukan dia deh, kok sekarang malah dia?" tanya Rifka menatap ke arah Leon.
"Eee iya, ini pak Leon, asisten bos gue yang tadi nganterin kita ke rumah sakit. Lu kenalan aja dulu gih!" jawab Tiara.
"Oh okay!" ucap Rifka dengan antusias.
Rifka mendekati Leon dan mengulurkan tangannya ke arah pria itu.
"Hai pak Leon! Saya Rifka temannya Tiara yang selama ini bantu jagain Nindi kalau Tiara lagi pergi kerja," ucap Rifka.
"Ah iya, saya Leon. Salam kenal ya Rifka!" ucap Leon menjabat tangan Rifka.
"Yaudah, kita duduk yuk! Eee pak Leon mau minum apa? Biar saya bikinin," ucap Tiara.
"Apa aja Tiara," ucap Leon.
"Baik pak! Saya antar Nindi ke kamar dulu, Rifka lu temenin pak Leon dulu ya disini!" ucap Tiara.
"Siap Ra!" ucap Rifka.
"Kak, aku masih mau ngobrol sama kak Leon. Nanti aja ya ke kamarnya?" ucap Nindi.
"Nindi, kamu lupa sama kata-kata dokter tadi? Begitu sampai di rumah, kamu harus langsung istirahat!" ucap Tiara.
"Iya Nindi, kamu istirahat gih! Kan kapan-kapan kita masih bisa ngobrol lagi," timpal Leon.
"Huft, iya deh aku istirahat. Bye kak Leon!" ucap Nindi sambil tersenyum.
"Bye!" balas Leon.
Tiara pun membawa Nindi ke kamar, sedangkan Leon duduk di sofa ruang tamu bersama Rifka yang menemaninya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...