Tawanan Ceo Liar

Tawanan Ceo Liar
Bab 12. Rasa saudara


__ADS_3

Setelah sekitar sepuluh menit Tiara mencoba meyakinkan Nindi, akhirnya kini Tiara sudah bersama Galen di dalam mobil menuju kantor.


Tiara sedikit lega setelah Galen berkata bahwa ia tidak memasukkan perkataan Nindi ke dalam hatinya, ia menganggap Nindi hanya sedang emosi sesaat.


"Pak, sekali lagi saya minta maaf ya atas kelakuan adik saya tadi!" ucap Tiara pelan.


"Gak perlu minta maaf, wajar Nindi bicara seperti itu, emosinya masih belum stabil," ucap Galen.


"Ternyata bapak baik juga ya? Bapak bisa paham situasi Nindi," ucap Tiara.


"Saya paham karena saya juga punya adik perempuan, sikap Nindi dan adik saya itu mirip-mirip lah. Mereka sama-sama gampang emosi dan susah diatur, itu sebabnya saya gak terlalu anggap serius ucapan Nindi tadi," jelas Galen.


"Oh begitu, adik bapak namanya siapa?" tanya Tiara penasaran.


"Ciara, itu namanya," jawab Galen sambil tersenyum.


"Wah dari namanya aja udah cantik, pasti orangnya juga cantik!" ucap Tiara.


"Sebenarnya iya sih dia cantik, cuma sikapnya itu yang selalu bikin saya kesal," kekeh Galen.


"Ahaha," Tiara terkekeh pelan.


"Kamu mau ketemu sama adik saya?" tanya Galen.


"Eee boleh aja sih pak, tapi dimana emangnya saya bisa ketemu adik bapak?" ucap Tiara heran.


"Di rumah saya dong," ucap Galen.


Tiara tersentak kaget, matanya terbelalak lebar mengira Galen akan mengajaknya datang ke rumah pria itu.


"Ru-rumah bapak??" kaget Tiara.


"Ya Tiara, kenapa kamu kok kayak kaget gitu?" tanya Galen keheranan.


"Eee sa-saya..."


"Kamu mau kan main ke rumah saya kapan-kapan? Adik saya pasti senang kalau dikenalin sama perempuan secantik kamu," ucap Galen.


"Ta-tapi pak, saya ini kan cuma karyawan magang biasa. Dan saya juga gak mungkin datang ke rumah bapak tanpa alasan yang jelas," ucap Tiara.


"Alasan kamu cukup jelas kok Tiara, saya kan yang minta," ujar Galen.


"Ya tapi tetap aja saya gak bisa datang ke rumah bapak untuk saat ini, saya takut adik bapak salah paham nantinya," ucap Tiara.


"Gak perlu takut Tiara, adik saya anaknya asyik kok dan dia pasti suka ketemu kamu. Sudahlah tenang aja Tiara!" ucap Galen.


"Apa kalau saya tetap menolak, bapak akan memecat saya?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Jika kamu mau begitu, baiklah akan saya lakukan Tiara," jawab Galen sambil tersenyum.


"Hah? Ja-jangan pak, iya deh saya ngikut aja sama yang bapak minta! Saya mau datang ke rumah bapak, tapi jangan hari ini ya pak!" ucap Tiara ketakutan.


"Kenapa emangnya kalau hari ini? Kamu gak bisa?" tanya Galen.


"Iya pak, saya kan harus pulang tepat waktu supaya adik saya gak marah lagi," jawab Tiara.


"It's okay Tiara, saya tadi kan juga bilang kapan-kapan gak harus sekarang. Kalau kamu bisa dan siap, bilang aja sama saya ya! Saat itu juga aku bawa kamu ke rumah dan saya kenalin sama orang disana sebagai kekasih," ujar Galen.


Tiara terbelalak seketika, matanya tak percaya dengan apa yang diucapkan Galen. Tapi ia sadar bahwa Galen mungkin hanya bercanda.


"Bapak mah suka bercanda mulu!" kekeh Tiara.


"Iyalah, biar kamu gak terlalu kaku kalau sama saya. Asal kamu tahu aja, saya ini orangnya asyik kok. Jadi, kamu gak perlu takut gitu tiap kali berduaan sama saya!" ucap Galen.


"I-iya pak, tapi jalan ke kantor kayaknya udah kelewat deh pak," ucap Tiara.


"Hah masa sih??" Galen langsung terkejut bukan main.




Saat sampai di kantor, Tiara lebih dulu pergi meninggalkan Galen karena tak ingin ada siapapun yang tahu bahwa ia datang bersama pria itu.


"Pagi Tiara!" sapa Mimin sambil tersenyum.


"Iya, pagi Mimin!" balas Tiara seraya melambaikan tangan ke arah Mimin dan duduk di tempatnya.


"Kamu ceria banget kayaknya, ada apa nih?" tanya Mimin penasaran.


"Ah pake ditanya, udah jelas Tiara senang karena bisa ketemu gue lagi," serobot Edwin.


"Yeh kepedean banget lo!" cibir Mimin.


"Hehe..."


Tiara ikut terkekeh menyaksikan perdebatan kedua sahabat di kantornya itu.


"Enggak kak Edwin, aku senang bukan karena bisa ketemu kamu. Aku itu emang lagi bahagia juga, tapi gak tahu kenapa sih," jawab Tiara.


"Lah kok gitu? Emang bisa ya bahagia tanpa sebab?" tanya Mimin keheranan.


"Ya buktinya aku bisa, aku juga bingung kenapa aku kayak gini," jawab Tiara.


"Ini pasti ada penyebabnya nih, kamu jangan-jangan abis dapat sesuatu ya dari pak bos Galen?" tebak Mimin.

__ADS_1


"Ih apa sih Mimin?! Aku gak dikasih apa-apa kok sama dia, dan aku juga gak ngarep. Kamu ngada-ngada aja deh!" elak Tiara.


"Hahaha, yakali aja kan gitu? Siapa tahu pak bos Galen lagi bolong hatinya terus tiba-tiba baik dan kasih sesuatu ke kamu," ucap Mimin.


"Enggak, bukan itu Mimin. Mungkin aku senang karena adik aku udah baikan kali ya," ujar Tiara.


"Oh adik kamu udah baikan? Alhamdulillah dong!" ucap Mimin.


"Iya Alhamdulillah, dia emang udah membaik dari sebelumnya!" ucap Tiara.


"Syukurlah! Eh kapan-kapan boleh kali gue mampir ke rumah lu buat ketemu adik lu, eh maaf ini ya ngomongnya jadi lu-gue soalnya udah kebiasaan!" ucap Mimin.


"Ya gapapa Min, jujur sih aku juga lebih biasa ngomong pake lu-gue. Cuman karena kamu lebih senior disini, aku gak enak lah ngomong pake begitu," ucap Tiara.


"Yah elah pake gak enak segala, santai aja kali! Ya gak Win?" ucap Mimin menatap ke arah Edwin.


"Iyalah Tiara, buat apa gak enak? Kita disini mah biasa aja udah kayak saudara, jadi kamu nyantai aja ngomongnya gausah kaku!" ucap Edwin.


"Iya deh," singkat Tiara.


"Terus gimana? Gue boleh gak mampir ke rumah lu?" tanya Mimin.


"Boleh dong Mimin, datang aja!" jawab Tiara.


"Oke! Nanti sore gue ke rumah lu ya? Lu jangan ngilang lagi kayak kemarin, katanya mau balik bareng malah ninggalin!" cibir Mimin.


"Hah? Oh ya, maaf ya Mimin! Kemarin itu aku diajak pulang bareng sama pak Galen, dan aku gak sempat bilang ke kamu. Maaf banget ya aku benar-benar gak sengaja!" ucap Tiara.


"Seriusan lu diantar pulang sama pak Galen? Kok bisa sih?" tanya Mimin sangat kaget.


"Iya serius Min, aku juga gak nyangka sih bisa begitu, tapi nyatanya emang kayak gitu. Aku heran deh sama pak Galen itu," jawab Tiara.


"Kenapa heran Tiara? Bukannya harusnya lu senang ya?" ujar Mimin.


"Hooh, kan enak dapat tumpangan gratis," timpal Edwin.


"Ya emang enak, tapi gak enak aja rasanya kalo aku pulang bareng bos. Apalagi aku kan masih baru disini," ucap Tiara.


"Iya sih, lagian biasanya juga pak Galen gak pernah tuh kayak gitu sama karyawan yang lain. Baru kali ini dia ngajakin orang pulang bareng," ucap Mimin.


"Betul! Mungkin karena kamu cantik Tiara, jadi pak Galen tertarik sama kamu," ucap Edwin.


Tiara hanya menggeleng sambil tersenyum tipis, memang benar yang diucapkan Edwin bahwa Galen tertarik padanya dan ingin menjadikannya partner di ranjang.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2