Tawanan Ceo Liar

Tawanan Ceo Liar
Bab 23. Come and touch me!


__ADS_3

Setelah mendapat cuti di hari sebelumnya, Tiara kini kembali bekerja seperti biasa sebagai karyawan magang di kantor milik Galen.


Ia datang lebih awal, namun disana sudah terdapat Mimin yang memang rajin dan suka sekali datang pagi-pagi meskipun belum ada orang disana.


"Pagi Min!" sapa Tiara sambil tersenyum.


"Eh, pagi juga Tiara! Kemarin lu kemana? Kok gak masuk?" tanya Mimin.


"Eee gue kan udah izin Min, gue sakit jadi gue gak bisa masuk kerja," jawab Tiara.


"Oh gitu, tapi sekarang udah baikan kan?" tanya Mimin.


"Udah dong, buktinya gue ada disini," jawab Tiara.


"Syukurlah! Lu udah sarapan belum? Kalau belum, ke kantin dulu gih sana!" tanya Mimin.


"Tadi sih udah sarapan di rumah, tapi cuma sedikit. Gue lagi gak enak buat makan juga," jawab Tiara.


"Loh gimana sih Tiara? Makan tuh yang banyak, biar tubuh lu tetap kuat dan sehat!" ucap Mimin.


"Iya Min, gue emang gak biasa makan banyak sih. Kadang kalau kebanyakan malah suka mual, jadi gue selalu makan dikit-dikit. Ya yang penting perut keisi lah," ucap Tiara.


"Pantes aja lu kurus begini, eh tapi gue kagum sih sama body yang kayak gini," ucap Mimin.


"Bisa aja lu Min, badan kurus kering kayak gini apanya yang dikagumin?" ucap Tiara.


"Justru itu Tiara, lu kan lihat sendiri badan gue kayak gimana? Gue pengen bisa langsing kayak lu, tapi sekalinya makan sebakul sendiri," ujar Mimin.


"Hahaha, ada-ada aja lu Min! Oh ya, kak Edwin belum datang ya?" ucap Tiara.


"Ah dia mah selalu datang paling akhir, alasannya macet lah ini lah. Padahal kan bisa berangkat lebih awal biar gak kena macet," ucap Mimin.


"Iya tuh, buktinya barusan gue terhindar dari macet karena berangkat lebih pagi," ucap Tiara.


"Biarin aja, kalau terus-terusan kayak gitu nanti juga dipecat sama pak Gibran," ucap Mimin.


"Ih parah lu Min! Emang lu siap kehilangan kak Edwin kalau dia dipecat dari sini?" ujar Tiara.


"Yah elah kenapa gue harus gak siap coba? Emang dia siapa gue?" ucap Mimin.


"Kali aja gitu kan? Toh lu sama kak Edwin udah temenan dari lama, nanti kalau dia dipecat pasti lu bakal merasa kehilangan," ucap Tiara.


"Ngaco aja lu! Gue ada roti nih, lu mau gak?" ucap Mimin mengalihkan pembicaraan.


"Wih kayaknya enak tuh! Itu dijual apa dikasih gratis?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Gratis lah kalo buat lu mah, mau gak?" ucap Mimin.


"Mau mau," Tiara bergerak cepat mengambil dua bungkus roti dari tangan Mimin.


Mimin sampai terbelalak melihat Tiara yang begitu lahap memakan dua roti di tangannya sampai tak bersisa.


"Buset dah Tiara! Itu lu laper apa doyan?" ujar Mimin geleng-geleng kepala.


"Dua-duanya Min, ini soalnya enak banget. Terus kebetulan gue juga lagi lapar," ucap Tiara.


"Hahaha, yaudah telan dulu gih biar gak belepotan tuh mulut!" ucap Mimin.


Tak lama kemudian, Galen muncul menghampiri mereka dan menatap Tiara dengan senyuman merekah di bibirnya.


Tiara cukup kaget dengan kehadiran bosnya itu, bahkan Mimin juga bingung hendak apa Galen datang kesana.


"Eh ada pak bos, selamat pagi bos!" sapa Mimin.


"Ya pagi! Selamat bekerja!" singkat Galen.


Galen pun beralih menatap Tiara, saat itu juga Tiara merasa bimbang dan bingung.


"Tiara, ayo ikut saya!" pinta Galen.


Glekk


Akhirnya Tiara pun bangkit dari tempat duduk, lalu pergi bersama Galen ke suatu tempat.




Singkat cerita, Galen dan Tiara tiba di ruangan pribadi pria itu.


Tiara benar-benar tak mengerti untuk apa Galen membawanya kesana di jam masuk kerja.


"Pak, ada apa ya?" tanya Tiara.


"Sssttt masih aja kamu panggil saya pak! Kita lagi berdua Tiara, kayak biasa aja kali, santai!" tegur Galen.


"Ini kan masih di area kantor pak, jadi saya gak berani panggil bapak dengan sebutan nama aja. Takut ada yang dengar, nanti bisa berabe lagi urusannya," ucap Tiara.


"Gapapa Tiara, ruangan saya ini kedap suara. Jadi, obrolan kita berdua disini gak akan kedengaran sama siapapun di luar sana," ucap Galen.


"Iya deh pak," singkat Tiara.

__ADS_1


"Loh kok pak lagi? Panggil saya Galen aja, Galen! Kamu ngerti kan Tiara cantik?" pinta Galen.


"Iya Galen yang ganteng dan kaya," ucap Tiara.


Galen tersenyum lalu mencubit dua pipi Tiara, tak lupa ia mengecup singkat bibirnya karena gemas dengan ekspresi gadis itu.


"Kamu sangat imut baby, saya rasanya ingin mengulang malam tadi sekarang juga!" ujar Galen.


"Jangan Galen! Aku gak mau kita ketahuan, ini kan wilayah kantor. Kamu harus bisa tahan diri kalau disini, hubungan kita cuma berlaku di luar kantor. Kamu paham kan Galen?" ucap Tiara.


"Enggak, kamu gak bisa atur-atur saya kayak gitu. Kamu yang harus nurut sama saya, bukan sebaliknya! Kamu lupa siapa yang udah bayar biaya rumah sakitnya adik kamu?" ucap Galen.


"Iya Galen, terserah kamu deh. Kalau ada yang tahu tentang kita gimana?" ucap Tiara.


"Gak mungkin sayang, saya kan sudah bilang ruangan ini kedap suara. Lagian siapa juga yang berani masuk kesini tanpa seizin saya?" ujar Galen.


"Lalu, kamu mau apa dari aku sekarang? Aku gak bisa layani kamu seperti semalam disini," ucap Tiara.


"Kenapa begitu? Kamu gak perlu khawatir Tiara, kita gak akan ketahuan!" ucap Galen.


"Ini bukan soal itu, tapi aku gak mau pakaian aku lecek. Abis ini kan aku harus kerja lagi, gimana kalau ada yang curiga?" ucap Tiara.


"Ya jangan dibikin lecek dong! Kamu lepas aja semua pakaian kamu, terus puasin saya deh disini!" ucap Galen.


"Huft, kamu tuh pemaksa banget ya. Oke deh, kali ini aku turuti kemauan kamu," ucap Tiara pasrah.


"Memang seharusnya begitu baby, kamu gak boleh menolak saya! Nasib adik kamu itu ada di tangan saya, jadi kamu jangan main-main dengan saya!" ucap Galen seraya mengusap wajah Tiara.


Tiara anggap itu adalah sebuah ancaman, ia pun menelan saliva nya susah payah dan mulai melucuti pakaiannya sendiri di depan pria itu.


"Waw saya suka!" ujar Galen.


Tak butuh waktu lama, Tiara sudah melepas seluruh pakaiannya. Kini ia polos tanpa sehelai benangpun dan berjalan mendekati Galen.


"Ini kan yang kamu mau Galen? Lalu, apa yang kamu tunggu sekarang?" goda Tiara.


"I want you to come and touch me, Tiara!" bisik Galen di cuping telinga wanitanya.


Tubuh Tiara seketika menegang saat Galen menjilat sekilas telinganya, dapat ia rasakan pula hembusan nafas pria itu di lehernya.


"If that's what you want, then I will do it!" ucap Tiara dengan lantang dan mendorong tubuh Galen hingga terduduk di kursinya.


"Wow! Lakukan baby!" ucap Galen tak sabaran.


Tiara pun duduk di pangkuan Galen dan mulai bercumbu mesra bersama pria itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2