
Tiara pamit pada adiknya untuk kembali pergi, namun ia tidak bilang yang sejujurnya kalau ia ingin pergi melayani Galen di apartemennya.
Tentu saja Tiara tak mau Nindi mengetahui apa yang ia lakukan nantinya, ia hanya berkata kalau ia hendak pergi mencari uang untuk biayanya berobat.
"Nindi, kakak pergi lagi ya? Kamu baik-baik disini sama kak Rifka, jangan nakal!" ucap Tiara.
"Aku udah gede kak, gak perlu lah pake dibilangin kayak gitu terus setiap hari!" kesal Nindi.
"Iya Nindi, kakak kan cuma kasih tahu. Bagus deh kalau emang kamu gak nakal!" ucap Tiara.
"Tenang aja Tiara, adik lu ini baik kok, dia nurut sama gue dan gak bandel!" ucap Rifka.
"Syukurlah! Gue titip Nindi lagi ya Rifka? Oh ya, malam ini kayaknya gue gak pulang ke rumah, lu tolong nginep disini ya!" ucap Tiara.
"Siap Ra! Tapi, emang lu mau tidur dimana nanti?" tanya Rifka penasaran.
"Di tempat kerjanya ada kok, yaudah ya gue harus cabut sekarang. Thanks ya Rif, kalau ada apa-apa nanti kabarin gue aja!" ucap Tiara.
"Oke Ra!" singkat Rifka.
Tiara kembali menatap adiknya, menangkup wajah gadis manis itu dan tersenyum ke arahnya.
"Apaan sih kak?!" protes Nindi.
"Kamu gapapa kan kakak tinggal sampai besok?" tanya Tiara tampak ragu.
"Iya, kan udah biasa. Kakak hati-hati aja di luar sana!" jawab Nindi.
"Itu sih pasti, kakak bakal jaga diri. Kamu jangan lupa minum obat dan istirahat yang cukup ya! Kakak sayang kamu!" ucap Tiara.
"Aku juga sayang kakak," balas Nindi disertai senyum manisnya.
Tiara langsung membawa Nindi ke dalam pelukannya, mengusap lembut punggung sang adik.
"Maafin aku ya kak, kemarin-kemarin aku udah marah-marah sama kakak! Harusnya aku gak begitu, aku benar-benar nyesel udah marahin kakak dan salah paham begitu!" ucap Nindi terisak.
"Gak masalah sayang, kakak paham kok dengan kondisi kamu. Kakak tau kamu cuma pengen kakak ada disisi kamu terus, tapi apa daya kakak gak bisa sayang," ucap Tiara.
"Iya kak, sekarang aku ngerti kok. Kakak hati-hati ya kerjanya!" ucap Nindi.
"Pasti Nindi, kakak janji!" ucap Tiara.
Mereka melepas pelukan dan sama-sama menyeka air mata di wajah masing-masing, Tiara terus menatap adiknya dengan bimbang.
"Kakak pergi ya?" pamit Tiara.
"I-iya kak, hati-hati di jalan jangan sampai kakak kenapa-napa!" ucap Nindi.
Tiara manggut-manggut tersenyum.
"Rifka, gue titip adik gue sama lu ya?" ucap Tiara kembali.
"Santai aja Ra! Lu gak perlu cemas gitu, Nindi aman kok sama gue!" ucap Rifka.
__ADS_1
"Sip deh, gue percaya sama lu! Yaudah, gue pergi dulu ya? Bye!" ucap Tiara.
"Bye Ra!" balas Rifka melambaikan tangan.
Jujur Tiara tampak berat meninggalkan adiknya, apalagi saat ini ia akan pergi ke apartemen Galen dan menyerahkan tubuhnya pada pria itu.
Namun, Tiara tak memiliki pilihan lain selain menurut pada Galen karena ia memang butuh biaya tersebut untuk sang adik.
"Let's go Tiara! Kamu pasti bisa! Jadilah kakak yang berguna buat Nindi!" batin Tiara.
Gadis itu keluar dari rumahnya memakai pakaian seperti biasa, ia tidak ingin membuat Rifka dan Nindi curiga.
Itu sebabnya ia membawa baju seksinya di dalam tas, ia berniat pergi ke suatu tempat lebih dulu sebelum datang ke apartemen Galen.
Taksinya pun tiba, tanpa menunggu lama Tiara bergegas memasuki taksi tersebut dan pergi dari rumahnya.
•
•
Beberapa saat kemudian, Galen yang sudah menunggu cukup lama dikejutkan dengan sebuah suara bel dari arah luar.
Galen mengira yang datang adalah Tiara, ia pun tampak tersenyum lebar dan spontan bangkit untuk membuka pintu.
Ting nong ting nong
"Iya sebentar!" Galen berteriak keras, merapihkan sejenak kemejanya sebelum melangkah.
"Welcome to my house, honey!" sapa Galen.
Dan benar saja dugaan Galen tadi, memang Tiara lah yang datang ke apartemennya saat ini. Gadis itu bahkan terlihat sangat cantik dengan balutan dress terbuka berwarna biru tua.
"Terimakasih pak, maaf saya lama soalnya tadi ada kendala sedikit!" ucap Tiara pelan.
"No problem, yang penting sekarang kamu sudah datang dan saya sangat senang," ucap Galen.
Galen langsung melebarkan pintu, memberi jalan bagi Tiara untuk memasuki apartemen yang akan menjadi saksi bisu adegan panas mereka.
"Baiklah, silahkan masuk honey!" ucap Galen.
"Makasih pak!" singkat Tiara.
Perlahan Tiara melangkahkan kakinya ke dalam apartemen itu, disusul Galen dari belakang sembari mengunci pintu.
"Kamu sangat cantik honey! Saya sampai pangling lihat kamu yang secantik ini," puji Galen.
Tiara benar-benar kaget saat tiba-tiba Galen sudah berada di belakangnya, memegang kedua bahunya dan mencium pundaknya lembut.
Cup!
Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Itu sukses membuat Tiara menegang merasakan kecupan manis di bahu terbuka miliknya.
"Pak, boleh saya numpang ke kamar mandi?" tanya Tiara menghentikan aksi bosnya.
__ADS_1
"It's okay, asalkan jangan lama-lama! Saya gak sabar menikmati tubuh kamu honey!" jawab Galen.
"Gak lama kok pak, saya cuma mau siap-siap sebentar sebelum kita mulai. Supaya bapak bisa makin puas nanti," ucap Tiara.
Galen mengangguk mengiyakan, melepas gadis itu dan membiarkan dia pergi ke toilet sejenak.
Di dalam toilet, Tiara berpikir keras untuk bisa lepas dari Galen tanpa membuatnya marah.
"Haish, kenapa gue mendadak jadi ragu gini sih? Padahal tadi aman-aman aja kok, apa karena pak Galen yang langsung agresif gitu?" batin Tiara.
Ia terus menggigit jarinya, ia benar-benar bingung harus bagaimana saat ini.
TOK TOK TOK...
"Sudah belum honey? Ayo keluar dong, saya beli kamu bukan untuk mencoba kamar mandi apartemen saya kan?" tiba-tiba Galen bersuara seraya mengetuk pintu memanggilnya.
"I-iya pak, sebentar lagi saya selesai kok. Tunggu aja di depan ya pak!" balas Tiara.
"Oke honey! Tapi buruan ya, saya udah gak tahan nih!" pinta Galen.
"Tenang aja pak!" ucap Tiara menenangkan.
Galen pun pergi dan tidak lagi mengganggu Tiara di dalam toilet, namun gadis itu sudah tidak bisa fokus untuk berpikir saat ini.
"Huft, kayaknya gue emang harus serahin diri ke pak Galen!" batinnya pasrah.
Akhirnya Tiara keluar dari dalam kamar mandi, ia menatap Galen yang sedang terduduk di pinggir ranjang sembari menahan hasratnya.
Tiara pun berjalan pelan menghampiri bosnya, senyum merekah di bibirnya seraya mengedipkan mata bermaksud menggoda Galen.
"Pak, saya sudah siap!" ucap Tiara lembut.
Galen tersenyum lebar, menarik lengan Tiara hingga duduk di pangkuannya dan langsung menyerbu leher gadis itu.
"Mmhhh pak!" Tiara melenguh pelan.
"Jangan panggil saya bapak kalau kita lagi seperti ini, sebut nama saja!" pinta Galen.
"Akkhh Galen!!" Tiara memekik kaget saat pria itu sudah mere-mas bola kenyal miliknya.
"Malam ini akan saya habisi kamu Tiara!" ucap Galen penuh hasrat.
"Lakukanlah!" ucap Tiara tanpa ragu.
Sedetik kemudian, bibir mereka sudah saling beradu. Ini adalah ciuman pertama bagi Tiara, namun dia tidak kesulitan untuk membuat Galen merasakan kenikmatan dalam berciuman.
"Engghh sungguh nikmat! Bibir kamu sepertinya akan jadi candu bagi saya Tiara!" racau Galen.
"Mmppphhh teruusshh!!" de-sah Tiara di sela-sela aksi mereka berdua.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1