
Mereka pun mendekat ke arah Galen serta Tiara yang sedang asyik saling menyuapi satu sama lain cukup mesra.
"Galen!" panggil Nadira pelan.
Sontak Galen menoleh, ia tersenyum lebar melihat bundanya datang bersama ayah tirinya.
Tiara yang melihat itu langsung terkejut, ia spontan menjauh membuang muka dan salah tingkah.
"Eh mama?" Galen bangkit dari duduknya, lalu mencium tangan mamanya.
"Galen, tangan papa kamu dicium juga dong! Kamu gimana sih?" suruh Nadira.
"Udah gapapa," lirih Gavin.
"Gak bisa gitu mas, ayo Gavin cepat salim sama papa kamu!" titah Nadira.
"Iya ma," Galen menurut dan mencium tangan papanya dengan terpaksa.
Gavin tersenyum tipis sembari mengusap punggung putranya.
"Ini pacar kamu?" tanya Nadira menunjuk ke arah Tiara.
"Hah?" Tiara tersentak kaget mendengarnya.
"Ah iya ma, ini—"
"Bu-bukan tante, saya cuma karyawannya pak Galen di kantor. Mana mungkin lah saya bisa jadi pacarnya pemilik perusahaan tempat saya bekerja?" potong Tiara dengan cepat.
"Oh ya? Jadi kamu kerja sama anak saya?" tanya Nadira.
"Benar tante, eee maaf ya tante saya permisi kesana dulu!" ucap Tiara gugup.
"Eh jangan dong cantik! Udah kamu disini aja, saya yakin Galen masih mau berduaan sama kamu! Lanjut aja dulu makannya!" ucap Nadira.
"Iya Tiara, jangan ngada-ngada deh!" sahut Galen.
"Nama gadis ini Tiara?" tanya Nadira.
"Iya ma, cantik kan? Sesuai lah sama orangnya," jawab Galen sambil tersenyum.
Tiara dibuat tersipu dan menundukkan kepalanya begitu mendengar pujian yang dilontarkan Galen kepadanya.
"Ahaha, iya iya kamu benar. Yaudah Tiara, duduk aja lagi!" ucap Nadira.
Tiara terlihat sangat canggung, terasa seperti ia sedang bertatapan langsung dengan calon mertuanya.
"Yuk Tiara, mama sama papa saya gak bakal ganggu kita kok!" ucap Galen.
"I-i-iya pak," gugup Tiara yang kembali duduk di tempatnya dan mengurungkan niatnya.
"Kalo gitu mama mau antar papa kamu ke depan dulu ya? Kalian senang-senang aja berdua!" ucap Nadira.
"Loh emang papa mau kemana?" tanya Galen.
__ADS_1
"Papa ada kerjaan di kantor, maaf ya papa gak bisa lama-lama sama kamu!" jawab Gavin.
"Oh bagus," ucap Galen ketus.
Gavin terhenyak, namun Nadira langsung menenangkan dirinya agar tidak terpancing dengan ucapan Galen.
"Yasudah, mama sama papa duluan ya? Nanti mama balik lagi kok," ucap Nadira.
"Oke ma!" ucap Galen tersenyum tipis.
"Tiara, sebentar ya?" Nadira beralih menatap Tiara.
"Iya tante,"
Nadira serta Gavin pun melangkah keluar restoran, membiarkan putra mereka berduaan dengan Tiara di dalam sana.
"Mau lanjut lagi?" tanya Galen pada gadisnya.
"Apa sih pak? Tadi kenapa bapak pake bilang saya cantik segala di depan orang tua bapak? Itu maksudnya apa coba? Kalau mereka sampai salah paham gimana?" geram Tiara.
"Emang kenapa? Lagian saya cuma muji kamu kok, salahnya dimana coba?" heran Galen.
"Ya gak salah, tapi tetap aja harusnya bapak gak kayak gitu di depan orang tua bapak!" ujar Tiara.
"Udah deh, kamu diam aja Tiara! Saya tahu apa yang saya lakukan dan menurut saya itu masih dalam batas wajar," ucap Galen.
"Wajar darimana? Emang ada seorang bos muji karyawannya kayak gitu?" tanya Tiara.
"Ada, kalo gak percaya coba aja kamu baca-baca novel tentang CEO di aplikasi noveltoon. Disitu kamu bisa tau," jawab Galen.
Galen tersenyum, satu tangannya meraih dan menggenggam pergelangan tangan Tiara sembari membelai rambut gadis itu.
"Jangan ngambek cantik!" bujuk Galen.
"Duh, aku kok jadi gugup gini ya?" batin Tiara.
•
•
Singkat cerita, Tiara telah kembali ke kantor bersama Galen serta teman-temannya.
Galen turut mengantar Tiara sampai ke meja kerjanya dan membuat orang-orang bingung.
"Pak, bapak kenapa ikut kesini sih?" bisik Tiara.
"Apa salah kalau saya mau antar kamu sampai ke meja kerja kamu? Ayolah Tiara, kamu gausah canggung gitu sama saya!" ucap Galen.
"Bukan gitu, emang bapak gak lihat apa daritadi tuh orang-orang pada ngeliatin kita kayak gak suka gitu? Aku takutnya mereka salah paham sama hubungan kita," ucap Tiara.
"Gausah khawatir cantik, mereka itu kan karyawan saya juga. Kalau mereka macam-macam sama kamu, biar langsung saya pecat!" ucap Galen.
"Ya ampun, harusnya aku emang gak terima tawaran bapak waktu itu! Sekarang malah jadi kayak gini urusannya," ucap Tiara.
__ADS_1
"Kamu nyesel Tiara?" tanya Galen.
"Dibilang nyesel sih iya, tapi mau gimana lagi? Aku gak punya pilihan lain juga," jawab Tiara.
"Itu betul, jadi sekarang kamu nurut aja sama saya dan jangan bantah Tiara!" titah Galen.
"Iya pak iya," singkat Tiara.
"Bagus!" puji Galen seraya mengusap wajahnya.
Tindakan Galen itu dilihat langsung oleh Mimin dan Edwin, kebetulan mereka memang masih disana memperhatikan Galen serta Tiara.
"Pak, udah dong jangan kayak gini! Aku gak mau Mimin sama kak Edwin curiga," pinta Tiara.
"Santai aja Tiara, mereka gak mungkin bisa apa-apa," ucap Galen.
Tiara mendengus kesal mendengarnya, setelah itu Galen pun mengecup kening Tiara tepat di hadapan Mimin serta Edwin.
Cup!
Sontak Tiara terbelalak lebar, begitupun dengan Mimin dan Edwin. Ketiganya sama-sama terkejut pada apa yang dilakukan Galen tadi.
"Bapak apaan sih? Ngapain cium-cium aku?" protes Tiara dengan suara pelan.
"Suka-suka saya, kan saya udah bilang kalau kamu milik saya," ucap Galen.
"Tapi gak di depan mereka juga kali pak, nanti aku bingung jelasinnya!" ucap Tiara emosi.
Galen tersenyum tipis, lalu menyudahi aktivitasnya di rambut gadis itu. Kini ia menatap kedua mata Tiara dan izin pamit padanya.
"Saya permisi dulu ya? Kamu bisa lanjut kerja, semangat!" ucap Galen.
"I-i-iya pak, bapak juga. Makasih ya udah traktir aku sama teman-teman tadi!" ucap Tiara.
"Sama-sama cantik," singkat Galen.
Setelahnya, Galen pun beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan ketiga karyawannya yang masih sama-sama terkejut itu.
"Ra, lu sama pak Galen sebenarnya ada hubungan apa sih? Kok kalian dekat banget kayak gitu? Tadi di cafe kalian suap-suapan, terus barusan pak Galen kecup kening lu," heran Mimin.
"Kamu ngomong apa sih Min? Pak Galen begitu ya mungkin reflek aja kali," ujar Tiara.
"Gak mungkin Ra, gue yakin pasti ada sesuatu diantara lu berdua. Ya kan Ra?" ucap Mimin.
"Gue juga yakin begitu, soalnya kalian kelihatan kayak orang lagi pacaran tau," timpal Edwin.
Tiara dibuat kebingungan dengan pertanyaan dari kedua sahabatnya itu, ia tak tahu harus bagaimana menjawabnya saat ini.
"Aduh! Gimana ini cara aku jawabnya?" batin Tiara.
Di lain sisi, Galen tampak memperhatikan mereka dari jarak lumayan jauh. Ia tersenyum miring melihat Tiara tengah bingung menghadapi sahabatnya disana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...VOTE+RATE JUGA BOLEH...