
Leon bergerak semakin mendekati mereka, ia menatap tajam ke arah Erland sembari mengepalkan tangannya.
"Lepasin Nindi, jangan main-main dengan saya!" perintah Leon.
"Gue gak bakal lepasin Nindi, karena dia itu punya gue! Lo pergi sana!" ujar Erland tegas.
"Baiklah, kamu sendiri yang minta dikasarin. Jangan salahkan saya kalau terjadi apa-apa sama kamu bocah SMP sialan!" ucap Leon.
"Oh ya? Hahaha, emangnya lu bisa apa sih orang tua?!" ledek Erland.
"Kamu nantangin saya? Nindi, kamu tenang ya jangan panik!" ucap Leon santai.
"Iya kak, tapi cepetan bebasin aku! Aku takut banget!" ucap Nindi.
Erland menyeringai dan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Nindi, sedangkan Leon langsung bergerak cepat menarik paksa Nindi lepas dari dekapan pria itu.
Setelah berusaha maksimal, Leon pun berhasil melepaskan Nindi dan membawanya ke belakang dengan aman.
"Sial! Lu bener-bener minta dihajar!" umpat Erland.
Erland yang marah pun bergerak maju dan berniat memukul Leon, tapi dengan mudah ditangkis serta dibalikan oleh Leon.
"Kamu itu masih bocah, jangan sok melawan saya! Belajar saja yang pintar di sekolah!" ucap Leon.
"Cih lepas!" berontak Erland.
Leon mendorong tubuh Erland hingga pria itu tersungkur, lalu Erland pun berlari menjauh dari Leon karena ketakutan.
Nindi merasa lega karena Erland telah pergi, ia tersenyum menghampiri Leon yang baru saja menolongnya.
"Kak, makasih ya!" ucap Nindi.
Leon terkejut hebat saat merasakan Nindi memeluknya dari belakang.
"Kamu apa-apaan Nindi?" heran Leon.
"Kenapa kak? Aku gak boleh peluk kak Leon? Padahal aku cuma pengen ucapin terimakasih karena kamu udah tolongin aku," ucap Nindi.
"Siapa bilang gak boleh? Saya cuma kaget aja tadi, terus juga khawatir ada orang yang lihat. Kamu lepas dulu ya pelukannya!" pinta Leon.
Nindi cemberut dan terpaksa melepaskan pelukannya dari Leon.
"Hey, kok cemberut gitu sih? Kamu marah sama saya ya? Jangan dong cantik, saya gak bisa tau lihat kamu marah!" tanya Leon.
"Aku gak marah, aku cuma kecewa. Abisnya kak Leon kelihatan gak seneng gitu dipeluk sama aku," jawab Nindi.
"Ohh, saya senang kok dipeluk kamu. Tapi nanti aja ya setelah kita pergi dari sini? Soalnya disini kan rame Nindi," ucap Leon.
__ADS_1
"Emang kenapa kalo rame?" tanya Nindi.
"Ya gak enak aja dilihat orang-orang, nanti pada mikirnya saya ini pedofil karena dipeluk sama anak SMP," jawab Leon.
"Ngapain mikir gitu sih? Aku emang masih SMP, tapi kan kamu juga gak tua-tua banget. Jadi, kamu gak dihitung pedofil lah," ujar Nindi.
"Iya sih, lagian diantara kita juga gak ada apa-apa kan. Kenapa saya harus malu ya?" ucap Leon.
Nindi terdiam menundukkan kepalanya, entah mengapa ia merasa sakit hati mendengar ucapan Leon barusan.
"Kok diem sih Nindi? Ada apa? Masih kepikiran cowok tadi" tanya Leon heran.
"Eh eee enggak kak, bukan kok. Aku cuma mau langsung pulang, bisa kan kak?" jawab Nindi.
"Oh bisa, yuk kita langsung ke mobil aja! Eh tapi, saya masih heran deh. Cowok tadi itu siapa sih? Kok dia bisa-bisanya gituin kamu?" ujar Leon.
"Dia namanya Erland kak, dia emang begitu. Di sekolah aja dia selalu gangguin bahkan lecehin setiap perempuan," ucap Nindi.
"Hah? Anak SMP jaman sekarang emang banyak yang gak bener ya?" kaget Leon.
"Tapi aku benar kan kak?" tanya Nindi.
"Hahaha, ya kamu mah anak baik-baik kok. Yaudah, yuk kita balik!" jawab Leon.
Nindi menganggukkan kepalanya, lalu melangkah menuju mobil dengan bantuan Leon.
•
•
Tiara merasa apa yang dilakukan Galen itu akan berakibat buruk pada kehidupannya nanti, tapi tentu Galen tidak perduli.
"Pak, bapak kenapa bilang begitu sih tadi sama Mimin dan kak Edwin?!" heran Tiara.
"Kenapa sayang? Emang saya bilang apa sih?" ucap Galen pura-pura tidak tahu.
"Bapak gausah kayak gitu deh, tadi kan bapak bilang ke mereka kalo kita ini pacaran. Padahal nyatanya kan enggak, orang kita cuma partner di ranjang kok," kesal Tiara.
"Ohh, terus kamu mau gak kalo kita pacaran beneran?" tanya Galen.
Jantung Tiara seolah berhenti berdetak mendengar pertanyaan Galen itu, tidak ada yang menyangka bahwa Galen akan mengatakannya.
"Bagaimana Tiara? Kamu mau atau tidak?" Galen mengulangi pertanyaannya.
"Eee kamu ngomong apa sih? Mana mungkin kita pacaran beneran coba?" jawab Tiara.
"Loh kenapa gak mungkin sayang?" ujar Galen.
__ADS_1
"Ya karena diantara kita itu berbeda, aku cuma seorang perempuan biasa yang gak punya apa-apa. Mana bisa aku jadi pacar bos besar kayak kamu Galen?" ucap Tiara.
"Itu bukan masalah sayang, sejak kapan cinta memandang kasta?" ucap Galen.
"Tetap aja aku gak mau, aku takut jadi bahan gunjingan orang-orang kalo aku pacaran sama kamu," ucap Tiara.
"Siapapun yang berani begitu sama kamu, bakal saya hukum. Udah kamu gausah cemas sayangku!" ucap Galen.
"Ah pokoknya aku gak mau, hubungan kita cukup kayak biasa aja. Nanti kalo kita pacaran, tiap kali kamu minta jatah gak mau bayar lagi," ujar Tiara.
"Ohh, kamu selama ini gak mau saya ajak pacaran karena takut saya gak bayar sehabis saya minta jatah gitu?" tanya Galen.
Tiara mengiyakan saja ucapan Galen, karena memang itulah yang ia takutkan.
"Tenang aja sayang, meskipun saya jadi pacar kamu pasti saya akan tetap tanggung biaya rumah sakitnya Nindi kok! Kamu gak perlu takut lagi ya Tiara cantik!" bujuk Galen.
"Lagian kenapa kamu ngebet banget sih pacaran sama aku? Apa coba istimewanya aku di mata kamu?" tanya Tiara keheranan.
"Gak tahu juga sih, saya gak bisa deskripsikan dengan jelas apa alasan saya menginginkan kamu jadi milik saya. Yang pasti saya mau kamu terima cinta saya," jawab Galen.
"Ih pemaksa, aku gak suka ya cowok pemaksa. Kamu cari yang lain aja sana!" ucap Tiara.
"Mungkin memang ada wanita secantik kamu di luaran sana, tapi yang baik dan pengertian seperti kamu itu jarang loh," ucap Galen.
"Emang aku baik apa ke kamu coba?" tanya Tiara.
"Banyak, contohnya kamu selalu mau patuh dengan saya dan bikin saya puas," jawab Galen menyeringai.
Tiara menggeleng perlahan dan berpikir mesum sekali pria di sebelahnya itu.
Lalu, tiba-tiba saja sebuah mobil menyalip mereka dan berhenti di depan menghalangi jalan.
Tiiinnn
Galen langsung membunyikan klakson panjang sembari menginjak rem secara mendadak.
"Aih mau apa sih tuh mobil?!" geram Galen.
"Haaahhh dia siapa pak?" panik Tiara.
"Gak tahu saya juga bingung," jawab Galen.
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik keluar dari mobil tersebut dan berhasil membuat Galen terkejut bukan main.
"I-itu kan.."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...