Tawanan Ceo Liar

Tawanan Ceo Liar
Bab 17. Sekolah


__ADS_3

Nindi merasakan sebuah tangan bergerak masuk ke dalam roknya saat ia sedang asyik mencatat apa yang disampaikan oleh gurunya di depan sana.


Itu adalah perbuatan Erland, si cowok tampan di kelasnya yang selalu berbuat usil pada setiap wanita disana dengan tingkah mesumnya.


Sontak Nindi menoleh ke arah pria tersebut, menatapnya bengis seakan menyuruh pria itu untuk menyingkirkan tangannya.


Memang sial bagi Nindi, gadis itu harus duduk bersebelahan dengan Erland sehingga pria tersebut seringkali mengusili nya.


"Erland, awas tangan lu!" sentak Nindi.


"Sssttt diam aja Nindi! Kalau kamu berisik, nanti Bu Tiwi dengar tau!" ucap Erland.


"Lu bener-bener ya!" kesal Nindi.


Erland tersenyum menyeringai, ia semakin bergerak ke dalam menyusuri paha Nindi dan menyibak roknya.


"Erland!" sentak Nindi.


"Ada apa Nindi?" Bu Tiwi yang tengah mengajar tak sengaja mendengar suara tersebut, ia sontak menoleh lalu bertanya pada Nindi untuk memastikan apakah dia baik-baik saja atau tidak.


Sedangkan Erland sudah menarik tangannya keluar dari dalam rok Nindi dan berpura-pura tidak terjadi apapun.


"Eee gak ada kok Bu, saya gak kenapa-napa," jawab Nindi berbohong.


"Terus kenapa tadi kamu teriak sebut nama Erland? Ada masalah?" tanya Bu Tiwi lagi.


"Enggak Bu, saya cuma kesal karena Erland berisik banget daritadi," jawab Nindi.


"Ohh, Erland kamu jangan berisik ya! Kamu dengerin saya dan diam!" titah Bu Tiwi.


"Baik Bu!" ucap Erland dengan santai.


"Yasudah, yang lainnya juga diam dan perhatikan! Ini materi yang cukup sulit, jadi kalian harus benar-benar memperhatikan!" ucap Bu Tiwi.


"Iya Bu," sahut semua siswa di kelas itu.


Bu Tiwi pun kembali menulis di papan sambil berbicara menjelaskan materi tersebut.


"Nindi, lihat aja nanti istirahat lu bakal gue hukum karena lu gak mau nurut sama gue!" Erland berbisik dan mengancam Nindi.


Seketika tubuh Nindi merinding, ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Erland padanya nanti.


"Duh, gue harus gimana dong? Si Erland mau ngapain ya nanti?" batin Nindi.


Salsa, teman sebangku Nindi pun mendekati gadis itu bermaksud menenangkan nya. Ia tahu apa yang dilakukan Erland tadi, namun ia juga tidak berani menegur pria tersebut.


"Eh Nindi, lu yang sabar ya! Lu kan tahu sendiri si Erland orangnya kayak gitu," bisik Salsa.

__ADS_1


"Iya Sal, tapi gue takut banget! Dia nanti bakal apain gue ya?" ujar Nindi.


"Santai aja! Dia emang mesum, tapi dia gak berani berbuat macam-macam kok di sekolah. Lu gausah takut!" ucap Salsa.


"Lo yakin? Gimana kalau dia nanti apa-apain gue?" tanya Nindi ketakutan.


"Lu gak perlu takut, nanti gue temenin lu kok biar lu gak sendirian!" jawab Salsa.


"Bener ya? Awas lu kalo gak mau temenin gue!" ucap Nindi.


"Iya, kakak lu kan selalu nitipin lu ke gue. Jadi, gue bakal jagain lu semampu gue. Lagian di sekolah kan ramai tau," ucap Salsa.


"Lu kayak gak tahu si Erland aja, dia mana perduli sama keramaian? Buktinya barusan aja dia berani masukin tangannya ke rok gue," ucap Nindi.


"Harusnya tadi lu teriak, biar dia ketahuan dan kapok!" ucap Salsa.


"Gila lu! Itu aja gue udah diancam, gimana kalau gue teriak tadi? Yang ada dia bisa lebih parah dari sekedar masukin tangan ke rok gue," ucap Nindi.


"Tuh anak emang gak waras! Dia kayaknya harus dilaporin deh ke guru BK," ucap Salsa.


"Siapa yang berani laporin dia?" tanya Nindi.


Salsa menggeleng cepat, membuat Nindi menunduk merasa cemas.




"Assalamualaikum, Nindi ini kakak pulang!" ucap Tiara sembari mengetuk pintu rumahnya.


Ya saat ini Tiara dan Galen telah tiba di depan rumah gadis itu, mereka berniat menemui Nindi sesuai permintaan Galen.


"Kemana ya orang-orang? Kok kayak sepi banget nih rumah?" gumam Tiara.


"Mungkin Nindi lagi istirahat, biasanya dia jam segini tidur kali," tebak Galen.


"Iya kali ya? Tapi, Rifka kemana? Dia kan harusnya stay disini buat jaga Nindi," ujar Tiara.


"Entahlah, coba kamu telpon ke nomornya! Siapa tau dia lagi pulang dulu atau kemana gitu," usul Galen.


"Iya deh," Tiara setuju dan mengambil ponselnya berniat menghubungi Rifka.


Ceklek


Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Tiara serta Galen terkejut dan kompak menoleh ke arah pintu.


"Tiara? Lu dah pulang?" ucap Rifka.

__ADS_1


"Eh Rifka, jadi daritadi lu di dalam? Kenapa gak nyaut sih pas gue panggil? Gue pikir lu lagi keluar atau balik gitu," ucap Tiara.


"Hehe, iya sorry Ra! Soalnya gue gak dengar tadi, gue lagi di dapur," ucap Rifka.


"Oh gitu, terus Nindi kemana? Tidur ya?" tanya Tiara.


"Hah? Enggak, dia tadi udah berangkat sekolah. Gue pikir lu tau loh, soalnya dia bilang katanya udah dapat izin dari lu," jawab Rifka.


"Apa sih Rifka? Gue gak ada izinin Nindi sekolah loh, dia kan masih sakit. Emang lu gak coba larang dia tadi?" ujar Tiara.


"Gue pikir lu udah kasih izin, gue gak tahu kalau Nindi bohong," ucap Rifka.


"Aduh! Lu gimana sih Rifka? Nindi kan masih sakit, harusnya dia jangan sekolah dulu!" ucap Tiara.


"Maafin gue ya Ra! Gue bener-bener gak tahu kalo ternyata Nindi bohong sama gue, tolong jangan marahin gue Ra!" ucap Rifka.


"Huft, iya gue gak marahin lu kok. Gue cuma kaget aja karena Nindi pergi sekolah," ucap Tiara.


"Apa kita coba susulin aja Nindi ke sekolahnya? Terus kita minta dia buat pulang," tanya Rifka.


"Jangan deh! Gue takut Nindi malah marah nantinya, biarin aja dia sekolah hari ini. Ya semoga Nindi gak kenapa-napa deh!" jawab Tiara.


"Aamiin! Eh ya, lu kok pulang sih? Emang gak kerja?" tanya Rifka.


"Eee gu-gue.." Tiara tampak bingung saat hendak menjawabnya.


"Tiara hari ini cuti, saya sengaja beri dia libur untuk jaga adiknya. Ya kita juga gak tahu kalau Nindi ternyata sekolah," jelas Galen.


"Ohh, yaudah masuk aja dulu yuk! Pak Galen juga ikut aja kita minum-minum sambil ngobrol!" ajak Rifka.


"Iya pak, bapak mau kan?" ucap Tiara.


"Boleh deh, saya juga masih pengen bicara sama kamu. Sekalian saya tunggu Nindi pulang sekolah," jawab Galen.


"Nindi mah pulangnya masih lama pak, baru juga jam segini," ucap Tiara.


"Gapapa, saya suka kok ngobrol sama kamu. Gak masalah kan kalau saya tetap disini?" ucap Galen.


"Ya enggak dong pak, tadi kan saya yang minta bapak mampir dulu. Udah yuk bapak masuk aja! Rifka, tolong bikinin minum buat pak Galen ya!" ucap Tiara sambil tersenyum.


"Sip!" Rifka mengangkat jari membentuk huruf 'o', kemudian berbalik dan masuk ke dalam.


Sementara Tiara menatap Galen sekilas, sebelum menautkan tangannya di sela-sela lengan bosnya mengajak Galen masuk bersamanya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2