
Nindi akhirnya tersadar dari pingsan, ia melihat ke samping dan menemukan sosok Tiara bersama seorang pria yang baru pertama kali ia lihat tengah berdiri di sebelah kakaknya.
Sontak Tiara merasa gembira saat mengetahui adiknya telah sadar, ia langsung mendekati Nindi dan tersenyum senang sembari menatap wajah sang adik yang juga tengah menatapnya itu.
"Nindi, syukurlah kamu sadar sayang! Kakak senang banget lihatnya!" ucap Tiara.
"Kakak gak usah bohong deh, kakak senang kan lihat aku sakit-sakitan? Buktinya kakak aja gak pernah ada di rumah," ketus Nindi.
"Bicara apa sih kamu Nindi? Mana mungkin kakak kayak gitu? Selama ini kakak pergi karena cari uang untuk kesembuhan kamu," ucap Tiara.
"Halah kakak alasan aja!" ujar Nindi.
"Bukan alasan sayang, emang kakak kerja cari uang buat biaya berobat kamu. Jangan bicara kayak gitu ya Nindi!" ucap Tiara seraya mengusap rambut adiknya, ia tampak bersedih dan air mata pun sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Tetap aja kakak jahat sama aku, kakak gak perduli sama aku! Kakak lebih mentingin kerja daripada punya waktu buat aku, padahal yang aku butuhin itu kakak bukan uang!" ucap Nindi.
"Kamu gak ngerti Nindi, kakak ini sayang banget sama kamu!" ucap Tiara.
"Kakak bohong!" Nindi berteriak cukup keras sembari menyingkirkan tangan Tiara dari wajahnya.
Bahkan, Tiara sampai terdorong ke belakang akibat dorongan yang diberikan Nindi. Beruntung Galen sigap menahan tubuhnya.
"Kamu gapapa?" tanya Galen pada Tiara yang hanya dijawab anggukan kecil.
"Nindi, seharusnya kamu gak bicara begitu sama kakak kamu! Dia ini rela kerja sambil kuliah cuma buat cari biaya pengobatan kamu, harusnya kamu itu makasih sama dia bukan malah marah-marah kayak gitu! Tanpa Tiara, mungkin kamu udah gak ada di dunia ini Nindi!" sentak Galen.
Tiara terhenyak mendengar ucapan Galen, ia sontak menatap tajam ke arah pria itu.
"Lo siapa sih? Gue gak kenal sama lo, jadi jangan ikut campur urusan keluarga gue deh! Lo gak tahu kan dari kecil gue kekurangan kasih sayang? Gue butuh itu sekarang bukan uang!" tegas Nindi.
"Kamu tetap aja gak bisa begitu sama kakak kandung kamu sendiri! Dan asal kamu tahu, hidup saya juga gak jauh dari kata menderita. Sejak kecil saya ditinggal ayah saya, lalu ibu saya juga tidak mau mengakui saya sebagai anaknya. Tapi saya gak pernah permasalahkan itu, jadi kamu juga harus bisa melakukan itu!" ucap Galen.
"Gak semua orang bisa sabar kak," singkat Nindi.
Nindi langsung membuang muka dan meneteskan air mata, Tiara pun tampak kesal pada Galen yang sudah membuat adiknya menangis.
"Cukup ya pak! Mending bapak keluar deh, jangan bikin adik saya sedih!" ujar Tiara.
"Loh saya ini belain kamu loh, saya cuma gak mau adik kamu bersikap seperti tadi ke kamu. Dia harus hormat sama kamu," ucap Galen.
"Apapun alasannya, saya tetap gak suka bapak nyakitin adik saya!" tegas Tiara.
__ADS_1
"Oh ya baiklah, saya nurut sama kamu dan saya akan keluar sekarang," ucap Galen pasrah.
"Yaudah, sana bapak keluar! Kalau mau pulang juga terserah bapak!" ucap Tiara.
Tiara pun beralih menatap Nindi, berusaha membujuk sang adik agar tidak menangis lagi.
Sementara Galen menunduk saja, lalu perlahan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Tiara dan juga Nindi berdua saja.
"Nindi, udah ya jangan nangis lagi!" pinta Tiara.
"Cowok tadi siapa sih kak? Pacar kakak?" tanya Nindi.
"Eee bu-bukan..."
"Dia bos kakak, maafin dia ya!" jelas Tiara.
•
•
Galen keluar dari ruang IGD, ia terlihat murung karena Tiara tampak sangat kecewa padanya.
Pria itu memukul tembok sambil sesekali berteriak kesal menyesal perbuatannya tadi.
"Pak bos!"
Suara panggilan itu membuatnya terkejut, ia menoleh dan mendapati sang asisten disana.
"Leon? Kok kamu bisa disini?" tanya Galen heran.
"Loh, tadi kan bapak sendiri yang hubungi saya. Bapak minta saya buat datang ke rumah sakit ini susulin bapak, eee memangnya siapa yang sakit pak?" ucap Leon.
"Oh iya, saya lupa. Yang sakit itu adiknya Tiara, dia ngedrop dan terpaksa dibawa kesini. Terimakasih ya kamu sudah mau hadir Leon!" ucap Galen.
"Sama-sama, pak. Jadi, apa yang bisa saya bantu?" tanya Leon.
"Bantu saya meyakinkan Tiara untuk menerima bantuan dari saya, jujur saya kasihan lihat dia tadi!" pinta Galen.
"Eee memangnya bantuan apa yang bapak tawarkan ke Tiara?" tanya Leon penasaran.
"Saya mau bantu kasih biaya untuk pengobatan adiknya yang sedang sakit, tapi Tiara menolak dengan alasan dia gak mau punya hutang budi sama saya. Padahal saya udah bilang kalau saya gak akan anggap ini hutang," jelas Galen.
__ADS_1
"Wah ternyata bapak perduli sekali ya sama Tiara? Tapi, kok Tiara malah nolak ya? Harusnya kan dia terima tawaran dari bapak," ucap Leon.
"Itu dia Leon, mungkin dia segan sama saya. Jadi, coba kamu tolong bicara sama dia ya! Siapa tahu kalau sama kamu, dia mau berubah pikiran dan terima tawaran saya," ucap Galen.
"Baik pak! Nanti saya akan temui Tiara dan bicara dengan dia," ucap Leon.
"Yasudah, saya permisi ya? Nanti kamu antar Tiara kalau dia mau pulang atau kemanapun itu, jangan sampai dia pergi sendiri!" titah Galen.
"Siap pak bos!" ucap Leon patuh.
Galen pun mulai melangkah pergi dari rumah sakit itu meninggalkan sang asisten.
"Pak Galen kok bisa seperhatian itu ya sama Tiara? Perasaan mereka baru hari ini ketemu, tapi udah kayak kenal lama aja. Apa mungkin pak Galen suka sama Tiara?" gumam Leon.
Ceklek
Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar di telinga Leon, ia pun langsung menoleh dan tersenyum ke arah Tiara yang baru keluar itu.
"Selamat malam Tiara!" sapa Leon.
"Loh pak Leon? Kok bapak bisa disini?" tanya Tiara kebingungan. "Oh ada saudara atau teman bapak yang dirawat disini juga ya?" sambungnya.
"Enggak Tiara, saya disini karena saya diminta bos Galen untuk bantu kamu," jawab Leon.
"Apa? Jadi, pak Galen yang minta bapak datang kesini? Terus sekarang pak Galen nya dimana?" tanya Tiara.
"Bos Galen sudah pulang, makanya dia minta saya stay disini kalau-kalau kamu butuh bantuan," jawab Leon sambil tersenyum.
"Ohh, makasih ya pak! Tapi, kayaknya saya gak butuh bantuan apa-apa deh. Saya bisa kok urus semuanya sendiri," ucap Tiara.
"Jangan begitu Tiara! Saya tahu kamu perlu bantuan, ini kan demi keselamatan adik kamu. Kamu gak perlu ragu atau sungkan Tiara, saya siap kok bantu kamu!" ucap Leon.
"Sekali lagi terimakasih pak, tapi saya tetap gak bisa terima bantuan apapun itu dari bapak atau pak Galen," ucap Tiara.
"Kenapa begitu Tiara?" tanya Leon.
"Ya karena menurut saya, saya gak pantas terima bantuan itu," jawab Tiara.
Leon hanya menggeleng sembari berpikir bagaimana caranya untuk bisa meyakinkan Tiara agar menerima bantuan darinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...