Tawanan Ceo Liar

Tawanan Ceo Liar
Bab 36. Davin datang


__ADS_3

Galen mengantar Tiara pulang ke rumah setelah puas menikmati waktu bersama sampai malam hari di restoran.


Tak hanya mereka berdua, sebab Ciara juga ikut sampai ke depan rumah Tiara dan sedikit terkejut mengetahui kondisi disana.


"Hah? Ini rumah kak Tiara?" tanya Ciara keheranan.


"Iya Ciara, ini rumah peninggalan ayah sama ibu aku. Kenapa?" jawab Tiara.


"Eh gapapa kok, enak ya rumahnya banyak pohon-pohon kayak gini? Pasti rasanya adem dan nyaman deh disini," ucap Ciara.


"Ya emang, itu alasan kakak betah main di rumah Tiara berjam-jam sekalipun," ucap Galen.


"Yeh itu mah kakak emang lagi bucin aja," cibir Ciara.


"Hahaha, udah yuk ikut turun sama kita! Kamu mau kenalan sama adiknya Tiara kan?" ajak Galen.


"Boleh kak, tapi emang adiknya kak Tiara mau kenalan sama aku?" ucap Ciara.


"Pasti mau dong Ciara, Nindi itu anaknya suka banget punya teman banyak. Jadi, dia pasti bakal happy kalau ketemu kamu," ucap Tiara.


"Nindi?" heran Ciara.


"Iya, Nindi adik aku," jawab Tiara.


"Ohh," Ciara mengangguk paham.


"Udah gausah ngomong terus, ayo kita turun aja biar cepet ketemu Nindi nya!" ucap Galen.


"Iya kakak bawel," cibir Ciara.


Galen menggeleng pelan, lalu turun dari mobilnya bersama Tiara serta Ciara yang menyusul dari belakang.


"Waw ternyata dilihat secara langsung lebih keren ya rumah kak Tiara!" puji Ciara.


"Apaan sih kamu? Rumah jelek kayak gini kok dibilang keren?" heran Tiara.


"Ih kak Tiara gak boleh bilang gitu, ini rumah bagus tau menurut aku," ucap Ciara.


"Iya deh, makasih pujiannya ya Ciara!" ucap Tiara sambil tersenyum.


Tanpa izin lebih dulu, Galen secara tiba-tiba menggandeng tangan Tiara dan membuat sang empu terkejut.


"Yuk kita masuk!" ucap Galen pelan.


"Kamu ngapain sih pake gandeng tangan aku segala? Udah kayak mau nyebrang aja, padahal cuma jalan beberapa meter ke depan tuh," ucap Tiara.


"Gapapa, kalau gak digandeng nanti kamu diambil orang. Lagian truk aja gandengan kok, masa kita enggak?" ucap Galen.


Tiara sontak tersenyum ditatap seperti itu oleh Galen, ia seperti tersihir melihat tatapan romantis dari pria yang tak seharusnya ia cintai itu.


"Ehem ehem.." Ciara berdehem membuat suasana romantis itu buyar seketika.


"Hadeh, ganggu aja sih kamu dek! Gak bisa ya lihat kakaknya bahagia sebentar?" protes Galen.

__ADS_1


"Bukan gitu kak, tapi disini kan ada aku juga. Masa aku dicuekin sih?" ucap Ciara.


"Jadi kamu gak mau dicuekin? Yaudah, sini deket sama kakak biar kita gandengan bertiga!" ucap Galen.


"Dih ogah, nanti kalo dilihat orang dikiranya aku ini cewek gak bener lagi," ucap Ciara menolak.


"Apaan sih? Kamu gausah lebay deh, tadi katanya minta jangan dicuekin, disuruh gandengan bertiga malah gak mau. Emang aneh kamu tuh," ujar Galen.


"Biarin aku aneh, yang penting cantik," ucap Ciara dengan pedenya.


Galen menggeleng pelan dan melangkah lebih dulu bersama Tiara di sampingnya, meninggalkan Ciara yang masih berdiam diri disana.


"Ih malah ditinggal, kakak jahat!" kesal Ciara.


Ciara pun mengejar keduanya dengan cepat karena tak ingin tertinggal.


Sesampainya di depan pintu rumah Tiara, mereka terdiam sejenak menunggu Tiara mengetuk pintu.


"Sebentar ya aku ketuk dulu?" ucap Tiara.


"Iya sayang," ucap Galen singkat.


TOK TOK TOK...


Tiara pun mengetuk pintu sembari mengucap salam dan memanggil adiknya agar bisa keluar membukakan pintu untuknya.


"Assalamualaikum, Nindi ini kakak. Buka dong pintunya sayang!" ucap Tiara lantang.


Tak lama kemudian, pintu terbuka menampilkan Nindi bersama seorang pria di sebelahnya yang tak lain ialah Leon.


Ceklek


"Loh Leon?" kaget Galen.




Disisi lain, Davin mendatangi rumah Nadira untuk bertemu dengan iparnya itu.


Kebetulan saat ini juga Nadira tengah sendiri sehingga Davin mempunyai kesempatan.


"Kamu mau apa Davin?" tanya Nadira heran.


"Gak ada kok Nadira, saya kesini pengen minta izin aja dari kamu buat ajak Ciara jalan berdua besok. Kira-kira boleh apa enggak?" ucap Davin.


"Jalan berdua? Kemana?" tanya Nadira.


"Ya keliling kota dong Nadira, namanya juga jalan-jalan. Lagian saya sebagai omnya Ciara tuh pengen kali punya waktu sama dia," jawab Davin.


"Tapi Vin, kamu tahu kan Ciara masih sekolah? Gimana bisa dia jalan berdua sama kamu?" ucap Nadira.


"Iya saya tahu, makanya saya mau ajak dia jalan tuh untuk refreshing. Besok sepulang sekolah, Ciara saya yang jemput. Boleh kan Nadira?" ucap Davin tersenyum miring.

__ADS_1


"Kamu udah bilang sama Ciara belum? Kalau dia setuju, ya aku sih bolehin aja," ucap Nadira.


"Belum sih, soalnya aku emang pengen kasih kejutan buat ponakan aku yang cantik itu. Jadi gimana nih? Dibolehin apa enggak?" ucap Davin.


Nadira berpikir sejenak, sebenarnya ia ragu untuk mengizinkan Davin mengajak putrinya jalan-jalan. Apalagi hanya berdua, tetapi ia juga tidak enak jika melarang Davin melakukan itu.


"Loh kok malah diem sih? Dibolehin gak nih aku bawa Ciara pergi?" tanya Davin lagi.


"I-i-iya, kamu boleh kok ajak Ciara jalan. Aku yakin dia juga butuh refreshing," jawab Nadira.


"Nah gitu dong, makasih banyak ya Nadira! Kamu tenang aja, aku bakal jagain Ciara kok!" ujar Davin.


"Emang itu yang aku harapkan, kamu jagain Ciara baik-baik ya Davin! Jangan sampai Ciara kenapa-napa loh!" ucap Nadira.


"Hahaha, kamu gausah khawatir begitu kali. Aku ini kan pamannya, gak mungkin juga lah aku biarin Ciara kenapa-napa," ucap Davin.


Davin bangkit dari duduknya, disusul Nadira yang ikut berdiri menatapnya bingung.


"Kamu mau kemana Vin?" tanya Nadira.


"Pulang lah, mau ngapain lagi coba aku disini?" jawab Davin santai.


"Ohh, aku kira kamu mau ketemu mas Gavin dulu. Bukannya kalian udah lama gak ketemu ya?" ucap Nadira.


"Pengennya sih gitu, tapi aku takut si Gavin malah marah-marah nanti," ucap Davin.


"Emang hubungan kalian masih belum baik ya?" tanya Nadira cukup cemas.


"Aku sih maunya baikan ya, tapi kayaknya si Gavin gak ada keinginan buat begitu. Dia selalu aja menghindar tiap kali ketemu aku," jawab Davin.


"Coba aja dulu kamu temuin dia lagi, kamu tunggu sampai dia pulang ya!" usul Nadira.


"Kenapa sih Nadira? Kamu kayaknya pengen banget aku lama-lama disini, kamu suka ya sama aku?" goda Davin.


"Hah? Ya ampun Davin, kamu bicara apa sih?! Gak mungkin lah aku suka sama ipar aku sendiri!" elak Nadira dengan kesal.


"Biasa aja kali, kalo emang gak bener ya gausah marah," kekeh Davin.


Nadira membuang muka sembari melipat tangannya, Davin benar-benar menjengkelkan. Pantas saja suaminya selama ini selalu enggan berbaikan dengan adiknya itu.


Ting nong ting nong


Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, Nadira yakin sekali bahwa itu adalah Gavin yang pulang.


"Itu pasti kakak kamu," ucap Nadira.


Benar saja, tak lama Gavin muncul dengan senyum di bibirnya. Namun, senyum itu mendadak hilang sesaat setelah melihat kehadiran Davin disana.


"Davin? Mau apa lo disini?" tegur Gavin.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2