
Nindi sampai di rumahnya bersama Leon yang ikut turun mengantarnya ke teras depan rumah, tentu saja atas permintaan Nindi sebelumnya.
Mereka sudah membeli kue cubit cukup banyak, Leon ingin Nindi memaafkannya dan tidak kecewa lagi padanya karena sudah dibohongi olehnya.
"Kak, kak Leon nanti ikut ke dalam aja ya sama aku!" pinta Nindi.
"Eee kayaknya gak bisa Nindi, aku soalnya harus kerja dan balik ke kantor. Di dalam kan udah ada kakak kamu sama bos Galen, jadi kamu gak sendirian lagi," tolak Leon.
"Yah berarti kak Leon gak bisa temenin aku dong?" ucap Nindi memasang wajah cemberut.
"Hey, jangan cemberut dong! Aku minta maaf ya, kali ini aku benar-benar gak bisa turutin kemauan kamu!" ucap Leon berusaha membujuk Nindi.
"Iya gapapa, tapi kak Leon jangan balik dulu! Tunggu sampai kak Tiara muncul!" ucap Nindi.
"Itu sih pasti Nindi, aku temenin kamu dulu disini sampai orang rumah kamu keluar," ucap Leon.
"Bagus deh!" singkat Nindi.
"Yaudah, kamu ketuk dong pintunya sekalian ucapin salam!" perintah Leon.
"Oh iya aku lupa," ucap Nindi sambil nyengir.
Nindi beralih menatap pintu dan mulai mengetuknya secara perlahan, tak lupa ia juga meneriaki nama kakaknya.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum, kak Tiara ini aku udah pulang. Buka dong pintunya kak!" teriak Nindi.
Leon reflek menutup dua telinganya akibat suara Nindi yang begitu keras, ia juga menggeleng tak menyangka Nindi bisa memiliki suara seperti itu.
"Ya ampun Nindi, kamu jangan keras-keras dong teriaknya!" tegur Leon.
"Eh, maaf kak! Terlalu keras ya? Abisnya kak Tiara gak keluar-keluar juga sih," ucap Nindi.
"Sabar aja! Mungkin kakak kamu lagi di dapur atau lagi ngerjain sesuatu," ucap Leon.
"Iya sih, terus gimana nih? Aku ketuk lagi sambil teriak apa gausah?" tanya Nindi.
"Kita tunggu aja, nanti juga keluar!" jawab Leon.
Nindi mengangguk setuju dengan ucapan Leon, ia pun menunggu saja sampai kakaknya keluar dari dalam dan membuka pintu.
Ceklek
Betul saja, pintu akhirnya terbuka dan Tiara muncul dari dalam sana bersama Galen di sampingnya.
Tiara langsung mendekati adiknya dan memeluknya erat untuk melepas rindu.
"Waalaikumsallam, akhirnya kamu sampai juga Nindi! Kakak sudah nungguin kamu daritadi loh, kakak kangen banget sama kamu!" ucap Tiara.
"Ih kak, apaan sih pake peluk-peluk segala? Kita kan cuma gak ketemu satu malam, ayolah gausah lebay!" ucap Nindi melepas pelukan kakaknya.
__ADS_1
"Maaf ya kalau kakak lebay! Tapi, kakak emang kangen sama kamu," ucap Tiara.
"Gapapa, iya aku tahu kalau kakak kangen sama aku. Oh ya, aku bawa kue cubit nih buat kakak. Tadi di jalan mampir dulu beli ini," ucap Nindi.
"Wah kamu perhatian banget sih sama kakak! Sampai dibeliin kue cubit segala," ujar Tiara.
"Bukan aku yang beli kak, tapi kak Leon." Nindi menjelaskan sembari menatap Leon.
"Ohh, makasih ya pak Leon!" ucap Tiara.
"Gak perlu terimakasih, saya beli itu juga atas permintaan Nindi. Dia bilang dia lagi pengen makan kue cubit, makanya saya beliin," ucap Leon.
"Bisa aja kamu Leon mau ambil simpati Nindi!" cibir Galen sambil tersenyum tipis.
Leon hanya menunduk malu sembari menggaruk tengkuk nya, sedangkan Nindi tak mengerti dengan apa yang diucapkan Galen tadi.
"Yaudah, kita masuk yuk! Kita makan kue cubit ini sama-sama!" ajak Tiara.
Mereka semua mengangguk setuju, lalu masuk ke dalam rumah Tiara satu persatu atas perintah dari gadis itu.
•
•
Hari sudah malam, Galen kembali ke rumah setelah seharian penuh bersama Tiara dan bermesraan dengan gadis itu.
Ia duduk bersandar di sofa, menyenderkan tubuhnya yang lelah dan meluruskan kakinya ke atas sofa.
"Aaahhhh nikmat banget rasanya bisa selonjoran begini, kaki pegel juga nih!" ucap Galen.
"Oh iya, Ciara mana ya??" gumam Galen.
Pria itu celingak-celinguk ke sekeliling mencari adiknya, lalu meneriaki nama sang adik berharap gadis itu mau menemuinya.
"CIARA!! CIARA SINI KAMU! KAKAK MAU BICARA!" teriak Galen dengan lantang dan keras.
"CIARAAA!!!" tambahnya.
Ciara yang tak tahan dengan teriakan kakaknya pun memutuskan keluar dari kamar, ia memasang wajah cemberut lalu menghampiri Galen disana.
"Ish, apa sih kak? Berisik banget tau malam-malam pake teriak segala!" protes Ciara.
"Kamu lagi ngapain sih emang? Dipanggil sama kakaknya kok cemberut begitu? Gak sopan tau!" tegur Galen.
"Gak kok, cuma main hp aja. Tapi, suara kakak itu bikin gendang telinga aku rusak tau!" ucap Ciara.
"Halah lebay! Kakak tahu nih, kamu pasti lagi nganu kan! Hayo ngaku aja kamu!" goda Galen.
"Hah? Nganu apa sih kak? Udah dibilang aku cuma main hp," elak Ciara.
"Tuh kan panik, pasti bener kamu lagi nganu. Makanya waktu kakak panggil tadi, kamu emosi dan marah-marah," ucap Galen.
__ADS_1
"Ish, gausah gak jelas deh! Langsung aja bilang mau apa!" sentak Ciara.
Galen sampai terkejut mendengarnya, ia reflek bangkit lalu menarik dua tangan adiknya untuk ikut duduk bersamanya.
"Santai dong dek! Sini kamu duduk samping kakak!" perintah Galen.
Ciara menurut saja karena memang tangannya dicengkeram kuat, tapi tetap ia masih memasang wajah cemberut tanda emosi.
"Kak Galen mau apa?" tanya Ciara lembut.
"Selama kakak pergi, kamu gak macam-macam kan di rumah?" ucap Galen.
"Ya enggak lah," ujar Ciara.
"Serius? Kamu gak bawa cowok kan kesini?" tanya Galen memastikan.
"Ih ya ampun kak! Masa iya aku bawa cowok? Eh tapi tadi pagi ada sih cowok yang datang kesini kak," jawab Ciara.
"Hah siapa? Berani-beraninya tuh cowok ngapelin adik aku yang cakep ini," ucap Galen emosi.
"Daddy Gavin," jawab Ciara sambil menahan tawanya.
"Itu mah beda dong Ciara, kamu kalo ditanya serius jawabnya bercanda terus sih! Lama-lama kakak emosi, terus kakak geprek kamu!" geram Galen.
"Geprek aja kalo bisa, nanti aku tinggal lapor ke mommy," tantang Ciara.
"Yeh mainnya ngadu, dasar cupu!" ujar Galen.
"Eh kak, semalam kakak tidur dimana? Sama cewek ya?" tanya Ciara penasaran.
Galen terdiam sembari memalingkan wajahnya.
"Hayo benar kan yang aku bilang? Biarin aja nanti aku aduin ke daddy sama mommy, supaya kak Galen kena hukum!" ancam Ciara.
"Heh! Kamu apa-apaan sih? Apanya yang mau diaduin? Kakak gak tidur sama cewek, kamu jangan asal ya kalo ngomong!" sangkal Galen.
"Ya terus kakak semalam tidur dimana sampai gak pulang ke rumah?" tanya Ciara.
"Kakak lembur terus tidur di kantor, capek banget tau kerjaan banyak. Makanya kakak panggil kamu kesini, supaya bisa ada yang pijitin," jawab Galen.
"Hah? Idih aku gak mau, cari aja tukang pijit sana!" tolak Ciara.
Saat Ciara hendak pergi, Galen pun menahannya dengan mencekal lengan gadis itu. Membuat Ciara kembali terduduk di sofa.
"Hahaha, mau kemana? Kamu gak boleh pergi, sebelum kamu pijitin kakak!" ucap Galen.
"Ish, pemaksa!" geram Ciara.
Galen justru tersenyum dan mengambil posisi tengkurap untuk meminta dipijat oleh Ciara.
Ciara hanya bisa menurut dan mulai memijat kakaknya secara perlahan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...