
Ciara pulang ke rumah tepat pukul sepuluh malam, ia melihat Galen masih terduduk di sofa dengan mata tertutup yang menandakan pria itu tengah tertidur.
Sontak Ciara terkejut dan tak menyangka jika kakaknya begitu perhatian padanya, bahkan sampai rela tidur di sofa demi menunggu Ciara pulang ke rumah.
Gadis itu pun menghampiri Galen dan duduk di samping sang kakak, ia tersenyum sembari mengusap wajah Galen dengan lembut bermaksud membangunkan pria itu.
"Duh, kak Galen perhatian banget sama aku! Kirain cuma tau marah-marah aja," lirih Ciara.
Merasa ada yang menyentuh wajahnya, Galen terbangun dan langsung duduk tegap menatap Ciara sambil mengucek mata.
"Eh kakak bangun, pindah ke kamar kak biar tidurnya lebih enak!" ucap Ciara.
"Ini kamu baru pulang? Jam berapa ini Ciara?" tanya Galen.
"Eee iya kak, maaf ya soalnya tadi aku keasyikan ngobrol sama teman aku!" jawab Ciara.
"Berapa kali sih aku bilang? Jangan pulang lebih dari jam sembilan! Kenapa kamu selalu gak nurut dan alasannya pun sama?" ujar Galen.
"Maaf kak! Udah lah jangan marah-marah mulu, yang penting sekarang kan aku udah pulang!" ucap Ciara sambil tersenyum.
Galen menggeleng pelan, entah kenapa ia sulit sekali memarahi adiknya yang cantik itu.
"Aku antar ke kamar yuk! Biar kakak gak emosi terus, atau mau sekalian aku bacain dongeng?" sarkas Ciara.
"Ngomong apa sih kamu? Emangnya aku anak kecil yang harus didongengin sebelum tidur? Udah sana masuk kamar!" sentak Galen.
"Eh bentar deh kak, aku mau tanya satu hal sama kakak," ucap Ciara.
"Apa?" Galen terlihat penasaran, ia menatap sang adik sembari menguap.
"Kakak udah punya pacar belum sih? Kok aku gak pernah lihat kakak jalan bareng cewek gitu?" tanya Ciara.
Galen langsung menatap tajam ke arah Ciara, mencengkram rahang gadis itu dan mendekatinya.
"Jangan bahas itu di depan aku! Itu sama aja kamu ngejek aku, dasar kamu! Lagian emangnya kamu sendiri udah punya pacar, ha?" ucap Galen.
"Ahaha, sensi amat sih. Orang aku cuma nanya, tinggal jawab aja udah ada apa belum. Kalaupun belum, aku yakin banyak perempuan yang mau sama kakak. Tapi, pasti kakak aja yang pilih-pilih ya kan?" ujar Ciara.
"Ya iyalah, jaman sekarang cewek itu perlu diseleksi. Jangan sampe aku ketipu sama tipu muslihat cewek-cewek itu!" ucap Galen.
"Hilih gayanya! Awas loh kelamaan seleksi nanti jadi berondong tua!" cibir Ciara.
"Diam kamu! Kalau kamu sendiri masih belum punya cowok, gausah ngeledekin aku!" ucap Galen.
"Suka-suka aku lah, udah ah lepasin sakit tau!" rengek Ciara.
__ADS_1
Galen pun melepaskan tangannya dari rahang gadis itu, terlihat Ciara langsung memegangi rahangnya dan menatap kesal ke arah sang kakak.
"Yaudah, aku mau ke kamar duluan ya kak? Kakak mau sekalian ikut apa enggak?" ucap Ciara.
"Aku masih pengen disini, kamu aja sana yang ke kamar!" jawab Galen.
"Okay!" Ciara tersenyum sembari mengangkat jarinya membentuk huruf 'o', kemudian berdiri dan melangkah pergi menuju kamarnya.
Sementara Galen masih diam di tempat, ia memikirkan sejenak perkataan adiknya tentang pasangan.
"Iya juga ya, kayaknya saya emang harus segera cari perempuan yang tepat untuk menemani saya. Gak bisa saya kalo diejek terus sama Ciara, hancur harga diri saya sebagai CEO terbaik!" gumam Galen.
"Tapi, siapa ya kira-kira perempuan yang tepat buat saya??" pikirnya.
•
•
Disisi lain, Tiara masuk ke kamar adiknya membawakan obat untuk diminum oleh sang adik yang sedang terbaring disana.
Tiara tersenyum saat Nindi menatapnya, namun ekspresi adiknya itu terlihat tidak suka ketika Tiara datang mendekatinya.
"Kakak mau apa sih??" tanya Nindi ketus.
"Kamu harus minum obat Nindi! Kakak gak mau kamu sakit terus," jawab Tiara.
"Kamu kenapa begitu sih Nindi? Apa salah kakak sama kamu?" tanya Tiara.
"Masih nanya lagi, coba pikir aja sendiri!" ketus Nindi.
"Kakak gak ngerti sama kamu Nindi, yang kakak lakuin selama ini untuk kamu. Tapi, kamu malah marah dan anggap kakak gak sayang sama kamu. Kamu salah besar Nindi!" ujar Tiara.
"Bodo ah! Udah sana kakak keluar, aku lagi males lihat muka kakak!" ucap Nindi.
"Kakak bantu minum obatnya dulu ya?" ucap Tiara.
"Gausah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa minum obatnya sendiri," tolak Nindi.
"Iya iya, kakak keluar. Jangan lupa diminum ya obatnya biar cepat sembuh!" ucap Tiara.
"Bawel!" sentak Nindi.
Tiara hanya menggeleng pelan sambil bangkit dari duduknya dan melangkah keluar, sebelumnya ia sempat menatap sekilas sang adik yang entah kenapa amat membencinya itu.
"Tiara!" panggil Rifka yang tiba-tiba muncul di belakang gadis itu.
__ADS_1
"Eh Rifka? Ya ampun lu ngagetin gue aja deh!" ujar Tiara sembari menutup pintu kamar Nindi.
"Lagian lu ngapain berdiri di depan kamar Nindi kayak gini? Katanya lu mau kasih obat ke dia, udahan?" tanya Rifka.
"Udah kok, dia bilang mau minum obat sendiri. Gue gak tahu Rif harus gimana lagi supaya Nindi mau maafin gue, sampe sekarang dia masih aja benci sama gue," jawab Tiara.
"Sabar dulu Ra! Mungkin Nindi butuh waktu buat menyadari semuanya, lu harus kuat dan jangan lemah!" ucap Rifka.
"Iya Rif, makasih ya dukungannya!" lirih Tiara.
"Eee kalo gitu gue balik ya? Udah malam nih gak enak juga gue disini terus," ucap Rifka.
"Kok pulang sih? Gak mau nginep aja?" tanya Tiara.
"Pengen sih, tapi kan gue gak bawa baju ganti," jawab Rifka.
"Yah elah lu kayak rumahnya jauh aja dari sini, kalo lu mau ganti baju kan bisa pulang besok," ucap Tiara.
"Iya juga ya, hehe... tapi sorry Ra, gue gak bisa nginep disini. Mungkin besok," ucap Rifka.
"Yah yaudah deh gapapa, tapi besok lu masih bisa kan jagain Nindi? Soalnya gue harus berangkat ke kantor jam tujuh," ucap Tiara.
"Santai, bisa kok! Btw sekarang lu kerja dimana sih?" tanya Rifka.
"Eee PT Ivander mulia, itu loh punyanya cowok yang kemarin kesini anterin gue sama Nindi," jawab Tiara.
"Ohh, iya iya.."
"Yaudah, gue balik ya? Tidur lu jangan begadang, besok telat aja!" sambung Rifka.
"Pasti!" singkat Tiara.
Setelahnya, Rifka pun pergi dari rumah sohibnya dan kembali ke rumahnya. Sedangkan Tiara juga memutuskan masuk kamar untuk membersihkan tubuh sekaligus bersiap tidur.
Namun, tiba-tiba saja Tiara teringat kembali pada tawaran Galen dan membuatnya sulit fokus.
"Terima tawaran saya Tiara!"
"Kenapa ya gue keinget lagi sama itu?" gumamnya.
"Haduh, ini kayaknya gara-gara gue terlalu pusing. Gue gak boleh terjebak dan terima tawaran dari pak Galen, gue masih punya harga diri!" ujarnya.
Akhirnya Tiara membasuh kepalanya dengan air dari shower setelah melepaskan seluruh pakaiannya, ia berharap dengan begitu pikirannya tentang tawaran Galen bisa teralihkan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...