Tawanan Ceo Liar

Tawanan Ceo Liar
Bab 30. Erland


__ADS_3

Galen masih menunggu kehadiran Tiara di ruangannya, namun pria itu tampak sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Tiara.


Berkali-kali ia bangkit dan duduk kembali karena merasa tidak sabar, Tiara belum kunjung muncul juga di ruangannya hingga kini.


"Duh, kemana sih Tiara? Kenapa lama banget coba gak datang-datang?" gumamnya.


TOK TOK TOK...


"Permisi pak, ini saya Tiara!"


Galen sontak tersenyum lebar mendengarnya, akhirnya wanita yang ia tunggu-tunggu datang juga ke ruangannya.


"Iya sayang, masuk aja!" titah Galen.


Ceklek


Tiara membuka pintu, lalu melangkah masuk mendekati Galen yang sudah berdiri menunggunya sambil tersenyum.


"Akhirnya kamu datang juga Tiara, saya sudah nunggu daritadi loh," ucap Galen lembut.


"Iya pak, saya kan harus kerja dulu tadi. Lagian bapak kenapa sih sering banget panggil saya kesini? Mimin sama kak Edwin udah mulai curiga tau pak sama hubungan kita," ucap Tiara.


"Biarin aja sayang, saya gak perduli mereka mau tahu atau enggak. Yang penting kita sekarang nikmatin waktu berdua kita!" ucap Galen.


"Bapak mau apa lagi sih?" tanya Tiara.


"Pake nanya lagi, ya sudah pasti saya mau minta kepuasan dari kamu. Ayo cepat kamu laksanakan tugas kamu cantik!" jawab Galen menyeringai.


"Hah? Bapak beneran mau minta dipuasin lagi disini? Apa bapak gak takut kita ketahuan?" tanya Tiara terkejut.


"Tenang aja, kita pasti gak akan ketahuan kok. Kamu cukup lakukan saja apa yang sudah jadi tugas kamu sayang!" ujar Galen.


"Aku gak mau ah pak, lagian aku juga masih banyak kerjaan di bawah," tolak Tiara.


"Kamu bisa tolak saya, dan kamu juga jangan panggil saya bapak terus dong Tiara! Kamu lupa ya sama ucapan saya waktu itu?" tegur Galen.


"Iya iya Galen, puas kan?" ucap Tiara.


"Belum, karena kamu masih belum bikin junior saya puas sayang. Ayo cepat kamu lakukan dulu perintah saya Tiara!" ucap Galen.


"Kalo aku gak mau gimana pak?" tanya Tiara bermaksud menggoda pria itu.


"Ya saya akan paksa kamu, jangan salahkan saya kalau kamu nanti pingsan gara-gara saya!" jawab Galen santai.


"Ish, kayak bisa aja bikin aku pingsan. Iya iya, sini deh aku mau puasin kamu," ucap Tiara.

__ADS_1


"Nah gitu dong, jangan lupa Tiara saya ini yang sudah menyelamatkan adik kamu. Jadi, kamu harus nurut sama saya!" ucap Galen.


"Aku gak lupa pak, aku bukan orang yang pelupa," ucap Tiara.


"Oh ya? Terus kenapa kamu masih aja panggil saya pak? Itu tandanya kamu pelupa dong sayang," ucap Galen mengingatkan.


"Ma-maaf Galen, aku susah banget buat panggil kamu langsung pake nama. Soalnya ini kan di kantor, aku takut ada yang dengar," ucap Tiara.


"Hahaha, kamu gemesin banget sih sayang. Saya gak sabar mau makan kamu," ucap Galen.


"Emangnya aku makanan apa? Kamu tuh lagian mesum banget sih, bisa-bisanya minta begituan di kantor," geram Tiara.


"Siapa yang gak mesum kalo lihat kamu Tiara? Gairah saya aja udah membara dari kita di restoran tadi saat sama kamu," ucap Galen sensual.


"Cukup Galen, yuk duduk biar enak!" ajak Tiara.


Tiara menggandeng tangan Galen dan membawanya ke kursi, didorongnya pelan tubuh Galen sampai terduduk disana sembari membuka satu kancing bajunya.


"Wow, kamu seksi sayang! Mulai nakal ya sekarang?" cibir Galen.


"Aku cuma begini sama kamu Galen, tidak dengan yang lain," ucap Tiara tersenyum.


Galen ikut tersenyum dibuatnya, kini Tiara sudah berlutut di hadapannya sambil berusaha melepas celana milik Galen.




Ia terlihat cemas menunggu Leon yang masih belum datang juga, sudah hampir setengah jam ia menunggu disana.


"Duh, kak Leon mana sih? Apa dia lupa ya sama janjinya?" gumam Nindi yang terus khawatir.


"Nindi!" suara tersebut mengagetkan dirinya, ia sontak bangkit lalu menoleh ke asal suara.


Berdirilah disana Erland, si pria mesum yang selalu mengganggunya sejak lama. Meski belakangan ini ia sudah jarang melakukannya.


"Erland, mau apa lu?" tanya Nindi agak kesal.


"Gue cuma pengen tanya sama lu, kok lu masih disini sih? Kenapa gak pulang?" ujar Erland.


"Bukan urusan lu," ketus Nindi.


"Galak amat sih Nindi, santai aja kali. Lu gak perlu takut gitu, gue ini kan udah gak pernah gangguin lu lagi," ucap Erland.


"Ya emang sih, tapi itu kan karena abang lu. Coba kalo enggak, pasti lu bakal tetap gangguin gue kayak biasa," ucap Nindi.

__ADS_1


"Betul, terus sekarang lu mau pulang bareng gue aja gak Nindi cantik?" tanya Erland.


"Gak dulu, gue udah ada jemputan. Mending lu ajakin cewek lain aja yang mau jadi bahan gabut lu sana!" tolak Nindi.


"Lo berani nolak gue Nindi? Ingat ya, lu gak mungkin bisa jauh-jauh dari gue!" ucap Erland.


"Emangnya lu siapa? Lu itu bukan siapa-siapa gue dan gue berhak buat nolak ajakan lu, paham?!" tegas Nindi.


"Oh ya, gue emang belum jadi bagian dari hidup lu. Tapi, sebentar lagi itu akan terwujud kok," ucap Erland tersenyum tipis.


"Maksud lu apa?" tanya Nindi heran.


Erland semakin mendekatinya disertai seringai kecil di bibirnya, sontak Nindi semakin panik dan berusaha menjauh dari pria itu.


"Eits, gak perlu takut baby. Lu akan baik-baik aja kok sama gue," ucap Erland.


"Najis, jangan panggil gue kayak gitu lagi!" sentak Nindi.


"Wah wah wah, sekarang lu emang udah mulai berani ya sama gue? Mentang-mentang abang gue belain lu, terus lu jadi seenaknya sama gue. Dengar ya Nindi, gue bisa lakuin apapun yang gue mau sama lu," ucap Erland.


"Dan gue gak takut sama lu Erland, jadi jangan pikir gue akan diam aja digituin sama lu!" balas Nindi.


"Okay, kita lihat apa yang bisa lu lakuin setelah gue bawa lu pergi dari sini nanti," ucap Erland.


"Jangan macam-macam ya Erland! Gue bakal teriak kalau lu berani sentuh gue, jadi lu mundur sekarang dan jangan mendekat!" panik Nindi.


"Lu kenapa panik gitu Nindi? Tadi katanya lu gak takut sama gue," goda Erland.


"Diam lu Erland! Jangan dekat-dekat atau gue teriak!" sentak Nindi.


"Silahkan, teriak aja sesuka lu! Gak bakal ada juga yang berani tolongin lu dari gue Nindi," ucap Erland.


Ya benar apa yang dikatakan Erland, seisi sekolah tidak ada yang berani untuk menegurnya meski ia ketahuan sedang melecehkan perempuan.


"Sekarang lu diam aja Nindi, ikut sama gue maka hidup lu akan aman!" ucap Erland.


"Gak, gue ogah ikut sama lu! Mendingan gue kabur," ucap Nindi.


Setelahnya, Nindi pun pergi dari sana dengan cepat menghindar dari kejaran Erland. Namun, tetap saja pria itu tak menyerah dan terus mengejarnya.


"Nindi berhenti!" teriak Erland.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2