Tawanan Ceo Liar

Tawanan Ceo Liar
Bab 31. Dipergoki Mimin & Edwin


__ADS_3

Erland semakin mendekatinya disertai seringai kecil di bibirnya, sontak Nindi semakin panik dan berusaha menjauh dari pria itu.


"Eits, gak perlu takut baby. Lu akan baik-baik aja kok sama gue," ucap Erland.


"Najis, jangan panggil gue kayak gitu lagi!" sentak Nindi.


"Wah wah wah, sekarang lu emang udah mulai berani ya sama gue? Mentang-mentang abang gue belain lu, terus lu jadi seenaknya sama gue. Dengar ya Nindi, gue bisa lakuin apapun yang gue mau sama lu," ucap Erland.


"Dan gue gak takut sama lu Erland, jadi jangan pikir gue akan diam aja digituin sama lu!" balas Nindi.


"Okay, kita lihat apa yang bisa lu lakuin setelah gue bawa lu pergi dari sini nanti," ucap Erland.


"Jangan macam-macam ya Erland! Gue bakal teriak kalau lu berani sentuh gue, jadi lu mundur sekarang dan jangan mendekat!" panik Nindi.


"Lu kenapa panik gitu Nindi? Tadi katanya lu gak takut sama gue," goda Erland.


"Diam lu Erland! Jangan dekat-dekat atau gue teriak!" sentak Nindi.


"Silahkan, teriak aja sesuka lu! Gak bakal ada juga yang berani tolongin lu dari gue Nindi," ucap Erland.


Ya benar apa yang dikatakan Erland, seisi sekolah tidak ada yang berani untuk menegurnya meski ia ketahuan sedang melecehkan perempuan.


"Sekarang lu diam aja Nindi, ikut sama gue maka hidup lu akan aman!" ucap Erland.


"Gak, gue ogah ikut sama lu! Mendingan gue kabur," ucap Nindi.


Setelahnya, Nindi pun pergi dari sana dengan cepat menghindar dari kejaran Erland. Namun, tetap saja pria itu tak menyerah dan terus mengejarnya.


"Nindi berhenti!" teriak Erland.


Tentunya Nindi tak memperdulikan teriakan itu, ia terus berlari sekencang mungkin menjauh dari Erland yang masih saja mengejarnya.


"Lo gak akan bisa lari dari gue Nindi, kemanapun lu pergi bakal selalu gue kejar," ucap Erland.


"Cukup Erland, lu jangan kejar gue lagi! Sana lu pergi!" ucap Nindi.


"Gak bisa Nindi, lu itu milik gue dan selamanya harus begitu," tegas Erland.


"Dasar gila! Pergi sana sebelum gue teriakin lu penjahat!" ujar Nindi.


"Teriak aja Nindi, gue gak takut sama ancaman basi lu itu!" tantang Erland.


"Toloongg toloongg!!" Nindi berteriak minta tolong berharap ada seseorang yang mau membantunya.


"Lihat? Bahkan gak ada satupun yang perduli sama teriakan lu Nindi, udah lah jangan lari!" ujar Erland.


Nindi benar-benar takut saat ini, ia berharap ada pertolongan yang datang meskipun sulit terjadi karena orang-orang kebanyakan cuek padanya.

__ADS_1


"Berhenti Nindi, kamu gak perlu buang-buang tenaga kamu kayak gini!" ucap Erland.


"Enggak, gue gak bakal berhenti. Lo pergi aja sana jangan ganggu gue!" sentak Nindi.


Lama-kelamaan, kepala Nindi mulai terasa pusing dan jantungnya berdebar kencang. Ia mulai kehilangan pandangan akibat kelelahan.


"Awhh aku gak boleh pingsan disini, aku harus kabur dulu dari dia!" batin Nindi.


Melihat Nindi yang mulai lemas, Erland menyeringai lalu mempercepat langkahnya mendekati gadis itu.


Sedetik kemudian, Erland pun berhasil menangkap tubuh Nindi dan mendekapnya cukup kuat sehingga Nindi tak bisa lepas.


"Ih lepas, lepasin!" ucap Nindi berontak.


"Ahaha, lu sekarang udah gak bisa kemana-mana lagi Nindi. Gue bakal bawa lu pergi dari sini, setelah ini lu resmi jadi milik gue. Ayo kita cabut dan nikmati waktu berdua!" ucap Erland.


"Gak mau, lepasin gue! Toloongg siapapun tolong gue!" teriak Nindi terus meronta-ronta.


Erland hanya terkekeh kecil, kemudian menyeret paksa Nindi pergi dari tempat itu tanpa mendengarkan ocehan Nindi.


"Hey, lepaskan dia!" suara lantang tersebut mengagetkan Erland serta Nindi.




Pria itu memang sengaja menunggu di area parkir mobil, ia menuruti kemauan Tiara yang tidak ingin teman-temannya semakin curiga.


"Selamat sore sayangku!" sapa Galen ramah.


"Sore juga Galen! Kamu kenapa? Kok kayaknya senang banget begitu?" heran Tiara.


"Siapa yang gak senang lihat gadis cantik kayak kamu di depan saya begini?" ujar Galen.


"Ahaha, bisa aja kamu ah!" ucap Tiara tersipu.


"Yaudah, kamu mau kemana dulu nih sekarang? Makan atau jalan-jalan gitu?" tanya Galen.


"Eee terserah kamu aja deh," jawab Tiara lirih.


"Kalau terserah saya, berarti kita makan dulu aja! Abis itu baru deh saya bawa kamu ke mall, sesuai janji saya kamu nanti boleh beli apapun yang kamu mau," ucap Galen.


"Oke deh, aku gak sabar buat milih-milih barang nanti," sarkas Tiara.


"Kalo gitu kamu masuk gih!" ucap Galen sembari membukakan pintu mobilnya.


Tiara mengangguk sambil tersenyum, kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan dengan santai.

__ADS_1


"Duduk nyaman disitu ya baby! Saya mau ke toilet dulu sebentar," ucap Galen.


"Hadeh, kenapa gak daritadi aja sih kamu ke toiletnya?" kesal Tiara.


"Saya baru kebelet sekarang sayang, lagian gak masalah dong saya pergi? Sebentar aja kok, tunggu ya cantik!" ucap Galen.


"Iya iya, jangan lama-lama loh ya! Kalo lama nanti aku tinggal," ucap Tiara.


"Gak akan lama kok, paling cuma beberapa menit. Duduk yang santai disini dan jangan kemana-mana!" ucap Galen.


Tiara menurut saja dengan perkataan pria itu, ia pun menunggu di dalam mobil sampai Galen selesai pergi ke toilet.


Sementara Galen tampak sudah berjalan cepat kembali ke dalam kantornya menuju toilet disana untuk buang air.


"Huft, capek deh nungguin dia ke toilet dulu!" ucap Tiara mengeluh.


Dan tanpa Tiara sadari, Mimin serta Edwin kini sudah berada di dekatnya dan menatap ke arah Tiara dengan tak percaya.


"Tiara!" panggil Mimin pelan.


Sontak Tiara menoleh, ia terkejut melihat kehadiran kedua temannya itu disana.


"Mimin, kak Edwin?" kaget Tiara.


"Pantas aja tadi lu minta izin balik duluan, ternyata udah diajak pulang sama pak bos Galen," cibir Mimin sambil tersenyum kecil.


"Apa sih ih? Gue tadi gak sengaja aja ketemu pak Galen pas mau pulang, terus dia paksa gue buat bareng. Ya yaudah deh gue terima aja, daripada gue dimarahin," elak Tiara.


"Ah masih ngeles aja lu, perasaan kita tadi lihat sendiri lu yang nyamperin pak Galen disini," ucap Mimin.


"Iya tuh, kita juga lihat lu mesra banget sama pak Galen. Bahkan, tadi pak Galen bukain pintu mobil buat lu," sahut Edwin.


"Loh emang kenapa kalo pak Galen kayak gitu? Salah?" tanya Tiara heran.


"Gak salah, cuma kan biasanya kalo yang kayak gitu tuh berarti tandanya ada apa-apa," jawab Mimin.


"Kalian jangan salah paham dong! Gue sama pak Galen gak ada hubungan apa-apa kok," ucap Tiara terus mengelak.


"Halah ngaku aja deh lu Ra, lu sama pak Galen pacaran kan!" ucap Mimin.


Tiara terdiam saat itu juga, ia dilanda kebingungan yang amat sangat ketika Mimin bertanya seperti itu.


"Ya, saya dan Tiara memang berpacaran."


Suara itu mengejutkan ketiganya, Tiara langsung terbelalak lebar mengetahui Galen sudah kembali dan muncul di dekatnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2