Tawanan Ceo Liar

Tawanan Ceo Liar
Bab 20. Dijemput Leon


__ADS_3

Nindi dan Salsa melangkah bersama-sama keluar dari wilayah sekolah, mereka terlihat lega karena saat jam pelajaran terakhir tadi Erland tidak lagi mengganggu Nindi maupun Salsa.


Meski begitu, Nindi tetap saja merasa curiga dan bingung mengapa Erland semudah itu berubah. Padahal sebelumnya pria itu selalu sulit diberitahu oleh siapapun termasuk abangnya.


"Eh Sal, si Erland kenapa mendadak berubah gitu ya? Tumben dia gak nakal tadi," tanya Nindi.


"Mungkin aja Erland takut sama ancaman kakaknya, tadi kan lu dengar sendiri sewaktu kak David ngomong sama dia," jawab Salsa.


"Iya sih, tapi bukannya dia udah sering ya dibilangin sama kakaknya dan gak mempan?" ujar Nindi.


"Gak tahu juga, udah lah ngapa kita jadi bahas Erland sih? Dia berubah justru bagus dong Nindi, jadinya lu gak diganggu lagi sama dia!" ucap Salsa.


"Hehe, abisnya gue kepo aja gitu. Gue takut ada yang direncanain sama si Erland," ucap Nindi.


"Tenang aja! Kalaupun dia punya rencana, lu kan tinggal lapor ke kak David. Jadi, lu gak perlu cemas lagi Nindi!" ucap Salsa.


"Iya Salsa, yaudah kita nungguin angkotnya di halte aja yuk!" ajak Nindi.


"Kok naik angkot lagi sih Nindi? Kenapa kita gak sekali-sekali naik taksi gitu yang adem? Panas tau naik angkot terus," protes Salsa.


"Yeh emang lu punya duit? Gue sih kagak, duit gue cuma cukup buat naik angkot," ucap Nindi.


"Gak punya juga sih, yaudah deh gue ngikut lu aja naik angkot. Daripada naik taksi tapi gak punya uang buat bayar," ucap Salsa.


"Nah bagus tuh! Ayo kita ke depan!" ucap Nindi.


Mereka pun memutuskan menunggu angkutan umum di halte sekolah, karena kebetulan disana terdapat tempat duduk sehingga mereka tidak perlu berdiri.


"Disini kan enak, nunggu nya bisa sambil duduk terus gak kepanasan. Kalau di tempat tadi kan panas, terus gak ada tempat duduk lagi," ujar Nindi.


"Bener kamu Nindi! Tapi, angkotnya kok gak lewat-lewat ya?" ucap Salsa.


"Gak tahu, tunggu aja udah paling nanti juga datang!" ucap Nindi.


Salsa manggut-manggut saja, tak lama sebuah mobil pribadi berhenti tepat di depan mereka dan seorang pria turun dari mobil tersebut.


Pria itu menghampiri mereka dan tersenyum ke arah Nindi, membuat Nindi terbelalak tak percaya melihatnya.


"Hai Nindi!" sapa pria itu.


Sontak Nindi bangkit dari duduknya, menatap pria itu dengan senyum manis. Begitupun dengan Salsa yang ada di sebelahnya.


"Nindi, cowok itu siapa? Kok dia kenal sama lu?" bisik Salsa.


"Dia kak Leon, gue kenal kok sama dia. Bentar ya gue mau ngobrol dulu sama dia!" jawab Nindi.

__ADS_1


"Oh okay!" Salsa manut saja dengan perkataan Nindi.


Ya pria yang datang itu ialah Leon, asisten pribadi Galen. Ia diminta untuk datang menjemput Nindi di sekolahnya oleh Galen sang bos.


"Kak Leon, ada apa kesini?" tanya Nindi.


"Saya mau jemput kamu Nindi," jawab Leon.


"Loh, tapi kak Leon tahu darimana kalau aku sekolah disini?" tanya Nindi bingung.


"Kakak kamu yang kasih tau," jawab Leon.


"Kak Tiara? Dia yang minta kamu buat jemput aku?" tanya Nindi lagi.


"Bukan kok, Tiara cuma kasih tau aja dimana kamu sekolah. Soal jemput itu inisiatif aku sendiri," jawab Leon berbohong. Ia tak mau Nindi marah jika ia mengatakan yang sejujurnya.


Seketika Nindi bersemu, ia tak sanggup menutupi wajah memerahnya dari hadapan Leon.




Sementara itu, Tiara masih cemas menunggu Nindi yang belum juga pulang ke rumah. Ia khawatir terjadi sesuatu yang menimpa adiknya itu.


Galen pun menghampiri Tiara ke teras depan, ia langsung merangkul wanita itu hingga membuat Tiara terkejut sedikit.


"Aku khawatir sama Nindi! Aku takut dia kenapa-napa, soalnya sampai sekarang dia belum pulang juga!" jawab Tiara dengan cemas.


"Kenapa kamu harus khawatir begitu? Nindi kan udah dijemput sama Leon, aku yakin dia akan baik-baik aja! Kita tunggu Nindi di dalam aja ya? Disini panas tau Tiara, nanti kamu kepanasan loh," ucap Galen.


"Emang kenapa kalau aku kepanasan? Kamu jadi gak suka lagi ya sama tubuh aku?" tanya Tiara.


"Bukan begitu, saya mah tetap suka sama kamu apapun keadaannya. Tapi, saya cuma gak mau kamu khawatir berlebihan tentang adik kamu. Toh dia sekarang lagi sama Leon," jawab Galen.


"Coba kamu pastiin lagi sama asisten kamu itu! Terjadi sesuatu apa enggak sama Nindi? Aku takut banget tau!" ucap Tiara.


"Iya iya, saya telpon dia ya?" ucap Galen.


Tiara mengangguk, Galen pun merogoh kantong celananya dan mengambil ponsel lalu mulai menghubungi nomor asistennya.


📞"Halo Leon! Kamu lagi dimana sekarang? Nindi udah sama kamu kan?" ujar Galen di telpon.


📞"Iya pak bos, ini Nindi ada sama saya kok. Kita lagi dalam perjalanan pulang. Emang ada apa ya bos? Kok tiba-tiba bos telpon saya terus tanyain Nindi sambil panik begitu?" ucap Leon.


📞"Gapapa, ini Tiara khawatir sama adiknya. Tapi syukurlah kalau dia udah sama kamu!" ucap Galen.

__ADS_1


📞"Tenang aja pak bos! Saya jamin Nindi akan baik-baik aja kalau sama saya mah!" ujar Leon.


📞"Baguslah Leon, yasudah cepat kamu pulang dan bawa Nindi kesini ya!" perintah Galen.


📞"Siap pak bos! Ini juga udah deket kok, paling beberapa menit lagi sampai disana," ucap Leon.


📞"Okay! Kamu hati-hati bawa mobilnya, jangan sampai Nindi kenapa-napa!" ucap Galen.


📞"Beres pak bos!" ucap Leon patuh.


Tut Tut Tut...


Galen menutup telponnya sesudah memastikan bahwa Nindi aman, sedangkan Tiara langsung menatapnya menantikan jawaban.


"Gimana Galen? Nindi baik-baik aja kan?" tanya Tiara sangat khawatir.


"Kamu tenang aja Tiara cantik! Nindi lagi sama Leon kok di jalan, mereka sebentar lagi sampai kesini, kamu tunggu aja!" jawab Galen.


"Huh syukurlah! Aku jadi sedikit lega," ujar Tiara.


"Kak udah saya bilang, Nindi pasti baik-baik aja kalau sama Leon. Yaudah, yuk kita masuk lagi ke dalam! Jangan disini terus!" ucap Galen.


"Eee tapi kamu jangan macam-macam kayak tadi ya! Aku takut Rifka jadi makin curiga!" pinta Tiara.


"Gak masalah, saya akan tahan diri kok. Tapi, boleh saya minta cium disini sekarang?" ucap Galen.


"Ci-cium apa?" tanya Tiara gugup.


Cup!


Tanpa aba-aba, Galen langsung memberikan satu kecupan singkat di bibir Tiara.


"Cium itu, boleh kan?" jawab Galen.


"Barusan kan kamu udah cium tuh, kenapa masih nanya boleh atau enggak? Aneh banget sih kamu!" ucap Tiara.


"Itu cuma contoh sayang," ujar Galen.


"Ahaha, ya terserah kamu aja deh!" ucap Tiara.


Galen tersenyum lebar, kemudian menarik tubuh Tiara dan menahan tengkuknya. Sedetik setelahnya Galen mulai melu-mat bibir manis Tiara dengan ganas.


Sampai-sampai gadis itu kesulitan mengimbangi permainan lidah Galen yang terlalu bersemangat.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2