
Aaron kembali ke perusahaan AS Corp dengan tergesa-gesa. Penampilannya yang berantakan menjadi pusat perhatian karyawan di sana. Tapi bukannya terlihat jelek, mereka justru semakin terpesona dengan penampilan Aaron.
Mereka merasa jika asisten tuan mereka itu terlihat sangat seksi dengan kancing kemeja yang terbuka memperlihatkan dadanya yang berbulu lembut, di tambah rambutnya nya yang biasa tersisir rapi kini terlihat acak-acakan. Sungguh terlihat sangat tampan.
Aaron tidak memperdulikan tatapan mereka. Yang harus dia lakukan sekarang adalah segera melapor pada Alexander tentang apa yang baru saja ia alami.
Dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Aaron masuk ke ruangan Alexander begitu saja.
"Tuan!" ucapan Aaron terhenti saat melihat tatapan tajam Alexander. Dia melirik kesamping dan melihat ada Alice di sana.
"Sial!! Aku lupa jika ada Nona Alice di sini." batin Aaron
"Wow, Aaron!! Ada apa denganmu ? Kenapa penampilanmu berantakan seperti ini?" tanya Alice
"Emm... I_itu....
"Alice, bisa kau ambilkan laporan di divisi keuangan? Aku ingin memeriksanya. Tolong ambilkan laporan untuk tiga bulan terakhir." seru Alexander
"Baiklah." Alice beranjak dan keluar dari ruangan Alexander.
"Maaf tuan." Aaron menunduk karena telah melakukan kesalahan dengan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Katakan!!"
__ADS_1
Aaron mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya di mana saat dia mengikuti mobil Sam, ada dua mobil tak di kenal menghalanginya. Tapi sayangnya, dia tidak mengenali mobil tersebut karena saat dia mendorong mobil itu ke jurang, dia melihat jika mobil itu tidak menggunakan plat mobil.
"Jadi kemungkinan mereka menggunakan mobil curian atau memang sengaja memakai mobil tanpa plat mobil agar kita tidak bisa menyelidikinya." seru Aaron
Alexander menyandarkan punggungnya dan mengangguk paham. Kecurigaan nya semakin menjadi jika Sam bergabung dengan salah satu musuhnya. Tapi dia belum tahu, siapa dia?
"Apa kau sudah menemukan mata-mata yang ada di mansion?" tanya Alexander
"Maaf tuan. Saya belum menemukannya. Sepertinya dia sudah menyadari tindakan kita makanya dia menghilangkan barang bukti."
"Aaron!! Sejak kapan kita membutuhkan bukti? Jika kau merasa ada yang mencurigakan, tangkap dan bawa ke tempat biasa."
"Baik tuan."
"Baik tuan." Aaron membungkuk hormat dan keluar dari ruangan Alexander bersamaan dengan Alice yang baru saja datang membawa beberapa laporan yang di inginkan Alexander.
"Ini laporan yang kau inginkan." Alice meletakkan berkas tersebut di atas meja Alexander.
"Thanks." Alexander mulai mempelajari laporan tersebut.
Alice kembali ke mejanya. Dia melirik Alexander yang tengah serius memeriksa berkas yang dia bawa. Dalam hatinya dia memikirkan Sam. Apakah pria itu bisa keluar dengan selamat? Tapi tidak ada kegaduhan di luar sana. Itu artinya Sam lolos bukan?
Tapi melihat penampilan Aaron membuatnya was-was. Aaron seperti baru saja melakukan aktivitas berat. Apa pria itu baru saja berkelahi? Tapi tidak ada luka di wajah pria itu.
__ADS_1
"Aku berharap kau bisa keluar dari tempat ini dengan selamat, Sam." batin Alice
Sementara itu di rumah Sean. Sam menundukkan kepalanya menyesal karena dia ketahuan oleh anak buah Alexander dan menyebabkan anak buah Sean celaka karena menyelamatkannya.
"Maafkan aku tuan. Aku sangat menyesal. Harusnya aku curiga dari awal karena bisa keluar dari sana dengan mudah. Tapi ternyata mereka menjebak ku agar bisa mengikuti kemana aku pergi." seru Sam
"Tidak apa-apa. Tapi aku harap lain kali kau harus lebih waspada. Dia Alexander si mafia. Dia sangat peka dengan hal-hal seperti itu. Untungnya dia tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan." seru Sean
Dia merasa lega karena Aaron gagal mengikuti Sam. Bisa gawat jika Alexander tahu jika dialah yang membantu Sam. Bisa saja Alexander menghancurkan nya saat ini juga.
Bukannya Sean takut. Tapi perbuatan Alexander yang menghancurkan gudang utama penyimpanan senjatanya membuatnya rugi besar.
Setidaknya dia harus memulihkan keuangannya terlebih dahulu dan membeli senjata yang akan dia gunakan untuk berperang nantinya.
"Sekarang kau istirahatlah!!" seru Sean
Sam mengangguk dan pergi ke kamarnya. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menghela nafas panjang. Dia merasa bodoh karena selain gagal membawa Alice pergi, dia baru saja membuat anak buah Sean mati demi menyelamatkannya.
"Pria itu sangat mengerikan. Bahkan dia bisa mengatasi anak buah tuan Sean begitu mudah." gumamnya bermonolog. Dia bangun dan menatap dirinya di depan cermin.
"Aku hanya seorang pelayan di bar. Latihan-latihan yang aku lakukan selama ini belum ada apa-apanya."
"Sepertinya aku harus meningkatkan kemampuanku. Asistennya saja sudah sehebat itu, apalagi Alexander." seru Sam
__ADS_1