
Sesuai yang telah di rencanakan, Laura mendatangi perusahaan AS Corp untuk bertemu dengan Alexander untuk meminta maaf atas berita yang beredar.
Pagi-pagi sekali, Laura sudah bersiap dengan memakai baju terbaiknya. Dia ingin terlihat lebih cantik dari biasanya. Setidaknya dia ingin menunjukkan pada semua orang jika berita itu tidak membuatnya terpuruk atau terganggu. Karena dia yakin dengan pengakuan Alexander di konferensi pers waktu itu membuat publik berasumsi jika dirinya wanita menyedihkan yang kalah sebelum berperang.
"Perfect." Laura menatap dirinya di depan cermin. Dia mengoleskan sedikit lipstik di bibirnya dan tersenyum senang karena hari ini dia bisa bertemu dengan Alexander.
"Hari ini aku akan meminta maaf pada mereka. Dan aku berharap mereka melihat wawancara ku kemarin. Jadi tidak akan ada salah paham di antara kami." Laura tersenyum. Dia mengambil tas mahalnya dan keluar dari kamar. Dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Itu artinya mereka pasti sudah sampai di perusahaan.
Laura mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sudah melihat di sosial media jika pemberitaan tentang dirinya dan Alexander sudah menghilang bak di telan bumi.
Dia yakin jika semua itu ulah Alexander. Tapi tidak masalah. Dia hanya ingin meluruskannya saja. Dan berharap bisa mendapatkan kepercayaan Alexander.
Mobil yang Laura kendarai terparkir sempurna di depan perusahaan AS Corp. Dia turun dari mobil dan masuk ke perusahaan tersebut.
Seperti biasa dia menemui resepsionis dan menanyakan keberadaan Alexander. Setelah mendapatkan ijin, Laura langsung menuju ke ruangan pria itu.
Tok Tok Tok
"Masuk!!"
Laura menghela nafas dan membuka pintu setelah mendapatkan ijin dari si empunya. "Selamat pagi." sapa Laura
"Laura!!" Alice mendekati Laura dan memeluknya. "Apa kabar?" tanya Alice
__ADS_1
"Aku kurang baik. Semua itu karena berita yang tersebar di sosial media. Tapi setelah aku lihat tadi berita itu sudah menghilang, aku merasa sedikit lega." Laura menatap Alexander dan kembali berkata, "Aku tahu itu semua perbuatan mu. Terimakasih banyak Lex." ucapnya
"Tidak perlu berterimakasih. Aku melakukan hal itu karena aku sendiri tidak nyaman dengan berita itu." seru Alexander
"Ya, kau benar. Aku datang kemari juga ingin meminta maaf pada kalian karena berita itu." Laura menatap Alice dan menggenggam tangannya. "Kau harus percaya padaku. Aku dan Alexander hanya berteman."
"Ke_kenapa tiba-tiba kau bicara seperti itu?"
"Karena aku tahu jika Alexander menyukaimu." Laura mengerlingkan matanya menggoda Alice.
"La_laura!! Ja_jangan bicara sembarangan." wajah Alice memerah layaknya kepiting rebus mendapat godaan dari Laura. Dia jadi teringat ciuman panas mereka kemarin. Untungnya Aaron datang tepat waktu. Jika tidak entah apa yang akan terjadi. Bisa saja dia kehilangan kendali.
Tapi tetap saja, dia malu jika bertemu dengan Aaron. Rasanya dia ingin menyembunyikan wajahnya di lubang semut.
"Kenapa wajahmu merah?" goda Laura
"Berhenti menggodanya, Laura. Bisa-bisa nanti dia tidak mau keluar karena malu." Alexander ikut menimpali
"Berhenti menggodaku!!" teriak Alice.
Bukannya marah, Alexander justru tertawa. Dan hal itu membuat Laura merasa senang karena ini pertama kalinya dia melihat Alexander tertawa lepas.
Pria itu terlihat sangat tampan. Dan keinginannya untuk mendapatkan pria itu semakin besar.
__ADS_1
"Kau benar-benar tampan jika tertawa seperti itu, Lex. Tapi sayangnya tawamu hanya kau berikan untuk Alice. Apa aku harus menyingkirkan nya terlebih dahulu agar kau bisa menunjukkan tawamu itu hanya padaku?" batin Laura. Diam-diam dia mengepalkan tangannya geram mengingat jika rencananya gagal. Di tambah dia mendapatkan penolakan sadis dari Alexander
"Andai kau bukan sahabat Sam, aku pasti sudah meminta Sean untuk melenyapkan mu. Tapi tanpa Sam, rencana ku ini tidak akan berhasil. Untuk itu aku akan memaafkan mu, Alice." ucapnya dalam hati
Mereka mulai berbincang antar wanita. Sedangkan Alexander mengerjakan pekerjaannya.
Laura membuat Alice nyaman dengannya. Dia bahkan langsung mengajak Alice untuk berbelanja.
"Emm.. Lex, bolehkah aku ikut dengan Laura? Kami ingin berbelanja." seru Alice
"Tidak!!"
"Tapi....
"Maaf Alice. Untuk saat ini aku tidak mengijinkan mu pergi kemanapun." ucap Alexander
"Ck... Dasar menyebalkan." gerutu Alice
"Tidak apa-apa, Alice. Kita bisa pergi lain waktu. Mungkin Alexander khawatir padamu karena berita itu. Mungkin Alexander bisa meredam berita itu di dunia maya. Tapi tidak di ingatan manusia. Jadi lain kali saja kita pergi berbelanja bersama." ucap Laura
"Baiklah. Maaf ya Ra." sesal Alice
"Tidak masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku masih ada meeting dengan klien."
__ADS_1
"Hati-hati di jalan!! Sering-seringlah kesini!!" seru Alice
Laura tersenyum dan keluar dari ruangan Alexander. "Tentu saja aku akan lebih sering menemui mu, Alice. Karena aku tidak mau rencana kali ini gagal. Jadi bersiaplah!!" seringai Laura