Tawanan Cinta Tuan Alexander

Tawanan Cinta Tuan Alexander
Rencana Di Mulai


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Beberapa terakhir ini Laura terus menemui Alice. Bahkan perlahan Alexander mengijinkan mereka pergi walau hanya makan di kantin kantor.


Tapi itu tidak masalah. Perlahan Alexander pasti memercayakan Alice untuk pergi dengan Laura. Dan ternyata benar dugaannya.


Hari ini, Laura kembali menemuinya Alice. Dia memperlihatkan produk terbaru dari perusahaannya. Dia ingin Alice memberinya saran untuk produk nya itu.


"Perusahaan ku baru saja meluncurkan produk baru berupa parfum. Cobalah!! Aku ingin mendengar pendapatmu." Laura mengeluarkan beberapa botol parfum dari paper bag. Dia menyusun rapi di atas meja dan meminta Alice untuk mencobanya.


"Memangnya tidak apa-apa jika aku mencobanya?" tanya Alice


"Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula aku ingin mendengar pendapatmu mengenai produk ini sebelum dipasarkan."


"Banyak wanita menyukai parfum. Dan aku mengeluarkan banyak varian karena selera setiap wanita berbeda-beda. Aku sudah meminta pendapat dari karyawan Ku. Tapi aku ingin tahu pendapat dari orang luar." terang Laura.


"Baiklah, aku akan mencobanya." Alice mengambil satu persatu botol parfum itu dan mencium aromanya.


Selama tinggal bersama Alexander, membuatnya tahu barang-barang mewah limited edition dari berbagai merk. Dia juga tahu selera orang-orang kaya saat menggunakan fashion.


"Bagaimana?" tanya Laura


"Semuanya harum. Dan tidak terlalu menyengat. Aku yakin semua wanita menyukai yang beraroma Floral. Selain memberi kesan romantis, tapi aroma Floral juga memberi kesan feminim dan bisa menambah rasa percaya diri kita."


"Tapi kalau aku pribadi, aku menyukai aroma Fruit. Terasa lebih segar." lanjut Alice

__ADS_1


"Wah.. Penilaian yang sempurna. Aku tidak menyangka jika kau tahu banyak soal parfum." Seru Laura


"Aku banyak belajar akhir-akhir ini." ucap Alice malu


"Baiklah!! Karena kau sudah membantuku, kau boleh memilih parfum yang kau inginkan. Gratis."


"Apa? Gratis?" pekik Alice yang di jawab anggukan oleh Laura.


"Kau tidak perlu melakukan hal itu Laura."


"Ambilah yang kau mau. Jika dia tidak memberimu dengan gratis, aku akan membayarnya." sela Alexander. Walaupun saat ini dia tengah mengerjakan pekerjaannya, tapi dia juga menyimak percakapan kedua wanita itu. Terlalu berisik memang. Tapi dia tidak mungkin mengusir mereka berdua.


"Hei... Aku sudah bilang akan memberinya gratis. Jadi kau tidak perlu membayarnya." gerutu Laura


"Kalau itu lain. Karena kau kaya, aku akan memberikan harga tinggi untuk satu botol parfum ku ini."


Alexander berdecak pelan. Dan hal itu membuat Alice dan Laura tertawa.


"Setelah ini aku mau mengecek produk ku yang lain yang di jual di mall. Apa kau mau ikut?" tanya Laura


"Emm... Aku..." Alice melirik Alexander yang diam memeriksa berkas-berkasnya. Dia menghela nafas panjang dan menatap Laura. "Maaf Ra, sepertinya tidak untuk sekarang." sesal Alice


"Oke. Tidak masalah. Mungkin lain waktu kita bisa pergi bersama."

__ADS_1


"Pergilah!!"


Alice menatap Alexander dengan tatapan tidak percaya. Alexander mengijinkannya pergi? Atau dia salah dengar?


"Telinga mu tidak bermasalah kan?" ejek Alexander yang melihat Alice diam mematung


"Benarkah?? Aku boleh pergi?" tanya Alice memastikan


"Bodyguard akan menemanimu. Jika tidak mau, maka lupakan."


"Kyaaa.... Thank you Lex." Alice begitu senang. sampai-sampai dia mendekati Alexander dan memeluknya.


"Ingat!! Jika sudah selesai, cepat kembali." seru Alexander


"Siap Bos." ucap Alice bersemangat. Dia segara menarik Laura karena dia sudah tidak sabar untuk jalan-jalan karena setelah dia ketahuan kabur, dia tidak pernah lagi di ijinkan untuk jalan-jalan.


Dan sekarang, akhirnya dia diperbolehkan untuk keluar walau dengan penjagaan yang ketat.


Alice tidak tahu jika setelah ini hal buruk akan terjadi padanya.


Diam-diam Laura menghubungi Sean jika dia berhasil mengajak Alice keluar. Dan dia meminta Sean dan Sam bersiap di posisinya masing-masing.


"Permainan akan segera di mulai." seringai Laura

__ADS_1


__ADS_2