Tawanan Cinta Tuan Alexander

Tawanan Cinta Tuan Alexander
Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

TIGA BULAN KEMUDIAN


Setelah peristiwa itu, Alice mendapatkan perawatan intensif. Untungnya dia tidak mengalami trauma berat seperti sebelumnya. Karena bagaimanapun Alice menyaksikan secara langsung kematian dari sahabatnya.


Dan kini, setelah tiga bulan berlalu, Alice dan Alexander pergi ke tanah air untuk mengunjungi makam Samuel.


Ya, saat peristiwa itu, Alice meminta Alexander untuk membawa jasad Samuel karena dia ingin memakamkannya di tempat kelahiran pria itu.


"Apa kabar Sam? Maaf aku baru bisa mengunjungi mu hari ini. Aku sempat kecewa atas apa yang kau lakukan. Tapi aku tahu, kau melakukan hal itu demi diriku."


"Terimakasih Sam. Terimakasih karena selama ini kau sudah menjagaku. Kau selalu ada untukku."


"Aku juga minta maaf karena aku tidak tahu jika selama ini kau mencintaiku. Karena aku menganggap hubungan kita ini seperti adik dan kakak. Aku nyaman bersamamu tapi sebagai kakak."


"Semoga kau tenang di sana, Sam." Alice berdiri dan menatap Alexander yang berdiri di belakangnya.


"Terimakasih Lex. Kau sudah menolongku. Bahkan kau memenuhi permintaanku untuk membawa Sam pulang." ucap Alice


"Apapun untuk mu, sayang."


"Lalu, Setelah ini apa kita akan kembali ke Qatar?" tanya Alice


"Ada tempat yang ingin aku kunjungi. Apa kau mau menemaniku?" tanyanya pada Alice. Wanita itu tersenyum dan mengangguk pelan.


Di sepanjang perjalanan, Alice tidak berhenti berbicara. Dia menjelaskan pada Alexander setiap tempat yang mereka lewati dengan bersemangat. Bahkan dia tidak segan merekomendasikan tempat yang bagus yang biasa dia kunjungi atau tempat-tempat untuk berlibur.


Hingga tidak terasa, hari sudah gelap. Mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di pantai Bende yang juga terdapat jembatan cinta. Jembatan ini memanjang dan bisa melihat pemandangan laut lebih dekat.


"Kenapa kita kesini?" tanya Alice. Dia tidak melihat siapapun di sana. Padahal biasanya banyak pasangan yang mengunjungi pantai tersebut untuk jalan-jalan menikmati keindahan laut Jakarta. Tapi entah mengapa, malam ini tidak ada satupun orang di sana. Sepi dan gelap.


"Lex!!" panggil Alice


Alexander hanya tersenyum. Dia menjentikkan jarinya dan tiba-tiba lampu-lampu menyala di sepanjang jembatan cinta. Lampu-lampu itu membentuk lorong berbentuk hati.


Alice menutup mulutnya terkejut dengan keindahan di depan matanya. Perlahan dia berjalan menelusuri jembatan tersebut sambil melihat lampu-lampu indah di atas nya.

__ADS_1


"Apa kau menyukainya?' tanya Alexander


"Aku sangat menyukainya. Ini sangat indah." seru Alice senang. Dia menatap Alexander dan bertanya, "apa kau yang menyiapkan semua ini?"


"Bukan. Tapi orang-orang ku."


Alice mengerucutkan bibirnya dan memukul pelan lengan Alexander. "Mereka tidak akan melakukan semua ini jika kau tidak memintanya, bukan?"


Alexander terkekeh. Dia menggenggam tangan Alice dan menuntunnya untuk kembali berjalan. "Masih ada kejutan lain." ucapnya


"O ya? Apa?" tanya Alice penasaran


"Nanti kau juga akan tahu."


Alice tersenyum dan mereka menikmati malam ini dengan jalan-jalan di jembatan cinta. Hingga mereka sampai di ujung jembatan. Di sana ada tempat yang sudah di hias dengan sangat indah dan elegan.


Lagi-lagi Alice di buat menganga karena terpesona dengan keindahan tempat tersebut.


"I_ini....


"Kejutan kedua." Alexander menuntun Alice untuk duduk di kursi yang sudah di siapkan. "Malam ini kita akan makan malam romantis dan bersenang-senang." ucapnya lagi


"Ada apa? Apa kau tidak menyukainya?" tanya Alexander yang melihat Alice hanya diam saja


"Aku tidak tahu harus berkata apa, Lex. Tapi ini sangat-sangat indah. Aku sangat menyukainya. Tapi kenapa kau melakukan semua ini untuk ku?" tanya Alice


Alexander tersenyum. Dia mengeluarkan berudu berwarna hitam dan berlutut di depan Alice.


"Lex, apa yang kau lakukan?" pekik Alice


"Aku melakukan semua ini karena aku ingin melamar mu, Alice." Alexander membuka kotak berudu yang berisi cincin berlian yang sangat indah.


"Lex!!"


"Aku pernah bilang, kan. Aku tidak pernah jatuh cinta. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diriku saat aku bertemu denganmu."

__ADS_1


"Aku mengikat mu, memaksamu untuk tetap di sampingku. Menjadikan mu tawanan ku hanya karena aku tidak ingin kau pergi dari ku."


"Bahkan kita sepakat untuk tetap bersama selama 365 hari. Dan sekarang tepat 365 hari kita bersama. Untuk itu aku memberanikan diri untuk melamarmu."


"Alice, will you marry me?"


Alice tidak bisa berkata-kata. Air matanya menetes karena terharu dengan apa yang Alexander katakan.


"Hei.. Kenapa kau menangis? Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau, Alice." seru Alexander


"Tidak Lex. Aku menangis karena bahagia. Dan aku bersedia menikah dengan mu." seru Alice


"A_apa? Katakan sekali lagi?"


Alice mengambil cincin di tangan Alexander dan memakainya di jari manis nya. "Kau terlalu lama memakaikan nya."


Bibir Alexander mengembang. Dia berdiri dan langsung merengkuh tubuh Alice kedalam pelukannya. "Terimakasih. Terimakasih Alice. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Lex."


Alexander tersenyum bahagia. Dia mengurai pelukannya dan mendaratkan bibirnya di bibir Alice. Ciuman yang lembut tapi menuntut menginginkan lebih. Mereka saling bertukar Saliva dan mengecap satu sama lain.


"Aku mencintaimu, honey. Aku mencintaimu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua Minggu kemudian, mereka menggelar pernikahan megah di Amerika, tempat kelahiran Alexander. Mereka mengucapkan janji suci di salah satu gereja besar di sana.


Mereka bisa saja menikah di Qatar. Karena walaupun Qatar adalah negara Islam. Tapi di sana juga ada Gereja besar di kota Doha. Tapi banyak peristiwa yang terjadi di Qatar. Dan hal itu meninggalkan kenangan buruk untuk keduanya. Untuk itu, mereka sepakat untuk menetap di Amerika.


Lagipula musuh terkuat Alexander sudah musnah dan dia yakin tidak akan ada yang berani mengusik kehidupan mereka lagi.


Janji suci telah di ucapkan keduanya. Dan sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri. Alexander membuka wedding Veil yang menutupi wajah Alice. Dia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman mesra di bibir wanita itu.


"I love you my wife." seru Alexander

__ADS_1


"I love you too my husband." balas Alice. Mereka kembali berciuman dan tidak menghiraukan tamu undangan yang bersorak gembira atas pernikahan mereka.


...~The End~...


__ADS_2