Tawanan Cinta Tuan Alexander

Tawanan Cinta Tuan Alexander
Game Over


__ADS_3

Alexander berlari di lorong menuju ruang bawah tanah. Dia harus segera menemukan Alice sebelum Sean karena dia takut Sean akan melukai Alice untuk bisa mengalahkannya.


Tapi sesampainya di depan ruang bawah tanah, dia melihat pintu tersebut terbuka dengan keadaan tidak berbentuk. Sepertinya ada yang membukanya secara paksa. Dan saat dia masuk, dia melihat sahabat Alice tergeletak tidak bernyawa dengan luka di perutnya.


Sudah di pastikan semua itu perbuatan Sean. Tapi di mana Alice?


Alexander memeriksa ruangan tersebut, tapi tidak ada siapa-siapa disana. Itu artinya Alice tidak ada di sana. Bisa jadi wanita itu melarikan diri dan merusak pintu tersebut. Apalagi ada Kampak di dekat pintu.


Alexander terdiam sejenak. Jika Alice berhasil keluar, itu artinya dia dalam Bahaya karena di luar sana sedang ada baku tembak. Tapi sepertinya Alice tidak akan keluar begitu saja.


"Sean!!" Alexander melebarkan kedua matanya dan bergegas mencari Sean. Dia yakin saat ini Alice mencari Sean untuk balas dendam atas kematian sahabat nya.


Wanita itu pasti sudah mendengar pengakuan Sam dan juga Sean. Dan kematian Sam terjadi di depan mata wanita itu. Jika Alexander jadi Alice, pasti dia akan mencari orang yang sudah menyebabkan orang yang dia sayangi mati mengenaskan.


Alexander terus berlari mencari Alice. Sesekali dia melawan musuh yang menghalanginya menggunakan tangan kosong. Sampai dia melihat Alice yang tergeletak tak berdaya. Tubuhnya penuh dengan luka.


"Alice!!" lirih Alexander. Dia melihat ada Sean berdiri di depan Alice dan siap menusuk wanita itu.


Alexander mengepalkan tangannya dan berlari kencang. Dia menendang dada Sean hingga terjungkal ke belakang.


"Aarrgghh...!!" teriak Sean kesakitan.

__ADS_1


Alexander memangku kepala Alice dan menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu. "Alice!! Alice!! Buka matamu, sayang!!" terlihat kekhawatiran di wajah Alexander saat melihat Alice yang tidak berdaya dengan kedua matanya yang tertutup rapat.


"Please!! Aku mohon buka matamu, Alice!!" Alexander terus membangunkan Alice. Sampai kedua mata wanita itu terbuka perlahan.


"A_alex!!" lirih Alice


"Iya, ini Aku. Maafkan aku sayang. Aku memang bodoh." sesal Alexander.


Alice hanya tersenyum tipis. Dia terbatuk-batuk dan dari mulutnya mengeluarkan darah.


"Alice, Are you okay?" tanya Alexander khawatir


Alexander menatap Sean sekilas. Dia menggendong Alice ala bridal dan menurunkannya di sisi ruangan agar bisa beristirahat. "Tunggu disini!! Aku akan melakukannya untuk mu."


Alice menggelengkan kepalanya pelan. "Aku ingin melakukannya." ucap Alice


Alexander terdiam. Dengan keadaan Alice yang terluka cukup parah, dia tidak mungkin melawan Sean. "Kau ingin membunuh nya, bukan?" tanya Alexander yang di jawab anggukan kecil oleh Alice.


Alexander tersenyum. Dia mengecup kening wanita itu dan berdiri. "Kau bisa melakukannya setelah aku puas menghajarnya." Alexander menatap Sean dengan tatapan mematikan. Dia berjalan mendekati pria itu dan menginjak dadanya.


"Hari ini adalah hari terakhir mu bernafas di dunia ini." setelah mengatakan hal itu, Alexander menghajar Sean dengan membabi buta . Dia tidak membiarkan Sean membalas pukulannya. Dan saat pria itu sudah sekarat, Alexander menyeretnya kehadapan Alice. Dia membantu Alice berdiri dan memberikan pisau pada wanita itu.

__ADS_1


"Bukan aku yang akan menyusul Sam. Tapi kau. Jangan lupa, saat bertemu dengan Sam, kau harus meminta maaf padanya." Alice mengangkat pisaunya dan menancapkannya tepat di jantung Sean hingga pria itu tewas seketika.


"Aku berhasil, Sam. Aku sudah membalas kematian mu." batin Alice. Tapi tak berapa lama tubuhnya terhuyung dan ambruk ke pelukan Alexander.


"Alice!!" panggil Alexander


Alice tersenyum dan mengusap pipi Alexander. "Terimakasih." ucapnya sebelum menutup mata


"Tidak!! Alice, bangun!! Buka matamu!!" teriak Alexander. "Aku mohon Alice!! jangan tinggalkan aku!! Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku mencintaimu, Alice. Aku mohon!! Buka matamu!!" Isak Alexander. Dia menangis sambil memeluk erat tubuh Alice.


"Alice!!"


"Kenapa kau berisik sekali, Lex?" Alexander terdiam. Dia melonggarkan pelukannya dan melihat Alice yang masih memejamkan matanya dengan bibir yang terus bergumam. "Aku lelah. Aku hanya ingin istirahat. Tubuhku sakit semua. Tapi kau berisik sekali. Cengeng." ejek Alice


Alexander tersenyum bahagia. Dia menggendong Alice ala bridal dan berkata, "Kita pulang. Nanti kau bisa beristirahat sepuasnya di rumah." seru Alexander yang di jawab anggukan oleh Alice


Semua telah berakhir. Musuh bebuyutan nya telah mati. Dan dia juga berhasil menyelamatkan Alice. Kini dia dan anak buahnya yang tersisa Kembali ke rumah Alexander. Tapi sebelum itu, seperti yang sudah di rencanakan, dia akan menghancurkan rumah Sean untuk mengubur mereka yang mati di sana.


Untuk itu Alexander meminta Aaron untuk memasang bom di sekitar rumah Sean. Dan saat mereka sudah berada di jarak aman, Alexander menekan pemicu bom. Dan dalam sekejap, bangunan mewah milik Sean hancur lebur mengubur pemiliknya.


"Game over."

__ADS_1


__ADS_2