
Alice dan Laura sampai di pusat perbelanjaan. Mereka masuk ke toko-toko yang menjual produk dari perusahaan Laura. "Wah... Semua produk dari perusahaan mu laris manis Laura." seru Alice
"Yah, sepertinya begitu." Laura melihat jam tangannya. Masih belum ada kabar dari Sean apakah semua sudah siap atau belum. Dia sudah tidak sabar. Rasanya dia ingin menyeret Alice ke tempat yang sudah di tentukan.
"Come on, Sean!! Kenapa kau lama sekali?" batin Laura
"Ada apa Ra? Kau terlihat seperti gelisah?" tanya Alice
"Ti_tidak apa-apa. Ayo kita makan!! Aku sangat lapar." ajak Laura yang langsung di setujui oleh Alice.
Mereka pergi ke restoran yang ada di pusat perbelanjaan tersebut dan memesan makanan dan minuman. "Aku sangat senang bisa keluar jalan-jalan seperti sekarang." seru Alice senang
"Memangnya Alexander tidak pernah mengajakmu keluar?"
"Dia hanya mengajakku saat meeting saja." gerutu Alice. "Ya sebenarnya ada alasan kenapa dia melarang ku keluar." lanjut Alice
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kami pernah di serang orang yang tidak di kenal. Aku hampir saja mati. Tapi untungnya ada Alexander yang melindungi ku. Kejadian itu benar-benar membuatku trauma."
"Sorry Alice, aku tidak tahu. Pertanyaan ku justru membuatmu teringat kejadian mengerikan yang pernah kau alami." sesal Laura
"Tidak apa-apa Ra. Aku sudah bisa melawan rasa takutku. Dan semua itu berkat Alexander."
"Syukurlah kalau begitu."
Obrolan mereka terhenti saat seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Dan di saat bersamaan, ponsel Laura berbunyi. Dia melihat pesan yang masuk dan terbit seulas senyuman di bibirnya.
"Cih.." decih Laura.
Alice menatap aneh Laura yang tidak kunjung memakan makanannya tapi justru melihat anak buah Alexander. "Ada apa Ra? Kenapa kau menatap mereka seperti itu?" tanya Alice
"Ti_tidak. Aku hanya sedang berfikir. Apa enaknya pergi di ikuti bodyguard? Bukankah itu sangat tidak menyenangkan? Apapun yang kita lakukan akan di laporkan oleh Alexander."
"Sangat tidak menyenangkan Ra. Aku merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian karena mereka. Dan aku juga tidak bisa bebas saat bersenang-senang." lirih Alice
__ADS_1
"Aku tahu perasaanmu, Alice. Jangan bersedih begitu. Lihat!! Makeup mu jadi berantakan." ucap Laura
"Be_benarkah?" Alice menyentuh kedua pipinya. "Sepertinya aku harus ke toilet sekarang."
Laura tertawa, "ya, kau benar. Cepat kau ke toilet dan perbaiki makeup mu."
"Tunggu sebentar ya!!" Alice berdiri dan pergi ke toilet.
"Tenang saja Alice!! Aku pasti akan menunggumu. Menunggu kehancuranmu." seringai Laura.
Sementara itu, Alice yang pergi ke toilet merasa sedikit aneh. Toilet itu sangat sepi. Padahal ini adalah pusat perbelanjaan yang besar. Tapi tidak ada satupun yang menggunakan toilet. Di tambah lagi, dia tidak melihat anak buah Alexander mengikutinya.
Tapi dia tidak ambil pusing. Dia masuk ke toilet dan melihat pantulan dirinya di cermin wastafel. "Iya benar. Makeup ku sedikit luntur." Alice mengeluarkan peralatan makeup nya dan mulai memoles tipis makeup tersebut di wajahnya.
Tapi tiba-tiba dari arah belakang, seseorang membekap mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah di lumuri obat bius.
"Hmmppt...!!!" Alice memberontak mencoba melawan. Tapi perlahan kesadaran nya menipis hingga akhirnya dia pingsan.
__ADS_1