
Alice menatap tubuh sahabatnya yang terbujur kaku dengan tatapan kosong. Sekelebat masa lalu di mana pertama kali mereka bertemu, dimana Sam selalu melindungi dan membantunya, kenangan penuh canda tawa, Sam yang selalu menenangkannya di saat dia menangis, terbayang di ingatan nya.
Air matanya kembali menetes. Tapi tidak terdengar isakan dari mulutnya. Hanya saja matanya yang merah berubah tajam. Dia mengepalkan tangannya yang terikat dan berteriak keras. "ARRGHH...!!!" nafas Alice memburu. Dia memejamkan matanya sejenak dan kembali menatap Sam. "Aku akan membalasnya."
DOR
DOR
Alice menatap kearah pintu. Di luar sana terdengar suara tembakan. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya Sean dalam masalah. Atau mungkin itu adalah Alexander? Rasanya itu tidak mungkin. Alice sangat ingat wajah Alexander yang seolah tidak perduli lagi padanya. Bahkan pria itu enggan menatapnya.
"Bukan waktu nya untuk bersedih, Alice. Kau harus bisa keluar dari sini dan membalas kematian Sam." Alice melihat pisau yang masih menancap di perut Sam. Dia menggeser tubuhnya untuk mendekati Sam dan mengumpulkan keberanian untuk mencabut pisau tersebut.
"Maafkan aku, Sam." Alice mencoba memotong tali yang mengikat tangannya. Dan berhasil.
Dia melihat kedua tangannya yang terkena darah Samuel. Dia menggenggam tangan erat dan menatap Sam. "Aku pasti akan membalasnya. Walaupun aku harus mempertaruhkan nyawaku. Tapi aku berjanji, Sam. Semoga kau tenang di sana." Alice mengusap pelan wajah Sam dan pergi dari sana. Dia mencoba membuka pintu di ruangan tersebut. Tapi sayangnya terkunci.
"Sial!!" umpat Alice. Dia melihat kesana-kemari mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk membuka pintu tersebut.
"Kenapa tidak ada apa-apa disini?" Alice mengobrak-abrik tempat tersebut mencari benda apapun. Sampai dia melihat sebuah Kampak. Dia mengambil Kampak tersebut dan menggunakannya untuk membuka pintu.
Brakh
__ADS_1
Brakh
Brakh
Alice terus mengayunkan kampak pada pintu hingga tidak berbentuk hingga akhirnya bisa terbuka. Dia menendang pintu tersebut dan keluar dari sana.
Alice mengendap-endap dan melihat anak buah Sean tergeletak bersimbah darah tidak jauh dari hadapannya. Dia mendekatinya dan memeriksa orang tersebut.
"Siapa sebenarnya yang melakukan semua ini?" batin Alice. Luka di tubuh orang itu, sangat parah. Tubuhnya penuh dengan luka tembakan. Mungkinkah yang melakukannya adalah musuh dari Sean?
Tidak ingin berfikir terlalu lama, dia mengambil senjata milik anak buah Sean yang akan digunakan untuk melawan musuh.
Tapi baru beberapa langkah, dia tersentak melihat ada Sean dan Ghani berdiri membelakanginya. Dan di depan sana ada Alexander.
"Apa kabar, Sean? Maaf mengganggu istirahat mu. Tapi aku datang kemari karena lagi-lagi kau mengabaikan peringatan dari ku." seru Alexander
"Apa maksud mu?" tanya Sean
"Jangan pura-pura tidak tahu, Sean. Kau menculik Alice, bukan?"
Deg
__ADS_1
Alice terkejut mendengar ucapan Alexander. Ternyata benar, pria itu datang untuk dirinya. Apa Alexander sudah tahu jika semua ini hanya salah paham? Sial!! Rasanya dia ingin berlari kepelukan pria itu.
Tapi dia tidak ingin menyusahkan Alexander. Jika dia muncul, Sean pasti akan menangkapnya dan membuat Alexander terluka.
"Sepertinya peringatan waktu itu tidak membuatmu jera." Alexander mengarahkan senjatanya pada Sean. "Kali ini aku tidak akan berbalik hati." Alexander bersiap menembak Sean. Tapi dengan sigap Ghani memasang badan.
"Pergilah tuan!! Biar aku yang menghadapi nya." seru Ghani
Sean mengangguk pelan. Saat Alexander menembak, mereka mengelak dengan berlari mencari tempat persembunyian yang aman. Dan saat ada kesempatan, Ghani membalas tembakan Alexander yang membuat pria itu juga bersembunyi.
"Pergilah tuan!!" seru Ghani
"Aku serahkan dia padamu." Sean pergi dari sana secara diam-diam. Dia akan mencari Alice untuk dijadikan tameng saat menghadapi Alexander.
Tapi sayangnya, belum sempat dia sampai di ruang bawah tanah, Alice sudah berdiri tidak jauh di depannya.
"Kau..." sentak Sean
Alice terlihat tenang. Tapi tatapannya terlihat sangat tajam. Tatapan membunuh yang siap memangsa musuhnya.
"Sean Immanuel. Bersiaplah untuk mati."
__ADS_1
Deg