
Alexander tidak bisa berkonsentrasi saat meeting berlangsung. Pikirannya tertuju pada Alice yang sekarang entah berada di mana. Dia yakin jika saat ini wanita itu salah paham padanya dan sepertinya dia harus segera menjelaskan semuanya pada Alice agar tidak berlarut-larut.
Alexander melihat jam di tangannya, sudah dua jam setelah kepergian Alice. Tapi wanita itu belum juga kembali. Dia berfikir apakah terjadi sesuatu pada wanita itu? Sungguh dia sangat khawatir saat ini.
Sampai ponsel Aaron berdering, membuat Alexander menatap Aaron untuk sesaat.
"Maaf, saya permisi angkat telepon dulu." Aaron sedikit menjauh untuk mengangkat sambungan telepon. Dan hal itu tidak lepas dari pandangan Alexander.
Dan saat Aaron kembali, pria itu membisikan sesuatu di telinga Alexander.
"Sesuai dugaan." batinnya
"Maaf tuan Arsyad. Sepertinya meeting ini kita tunda terlebih dahulu." seru Alexander
"Kenapa tuan? Apa anda tidak puas dengan presentasi saya?"
__ADS_1
"Tidak tuan. Bukan begitu. Justru saya tertarik dengan produk yang anda tawarkan. Tapi saat ini saya sedang ada kepentingan mendadak. Untuk itu, kita tunda meeting kita terlebih dahulu." seru Alexander
"Baiklah tuan. Tidak masalah." ucap tuan Arsyad lesu
Alexander merasa tidak enak karena membatalkan meeting mereka begitu saja, hingga akhirnya ia berkata, "Emmm... Begini saja, anda bisa mengirimkan proposal serta contoh desain dan komposisi dari produk anda. Saya akan mempelajarinya lebih lanjut. Dan secepatnya saya akan memberi kabar pada anda."
Bibir tuan Arsyad mengembang. Dia setuju dengan persyaratan yang di berikan Alexander. Dan keduanya mengakhiri meeting tersebut setelah mencapai kesepakatan.
Setelah kepergian tuan Arsyad, Alexander dan Aaron pergi ke pusat perbelanjaan dimana Alice dan bodyguard nya pergi. Di sana bodyguard mereka terlihat berbaris dan menundukkan kepalanya. Di tangan mereka terlihat begitu banyak paper bag belanjaan milik Alice.
"Jadi?"
Alexander menoleh menatap toko pakaian dalam wanita yang di maksud bodyguardnya. Dia tersenyum mendengar Alice yang begitu cerdik mengelabui anak buahnya.
Andai benar Alice mempunyai kejutan untuknya pasti itu akan sangat menyenangkan. Dia tidak bisa membayangkan saat Alice berdiri di depannya dengan pakaian seksi seperti yang di jual di dalam sana.
__ADS_1
"Maafkan kami, tuan." ucap para bodyguard yang melihat Alexander yang terdiam.
"Aku memaafkan kalian untuk sekarang. Tapi tidak ada kata lain kali." seru Alexander
"Terimakasih tuan."
Alexander melirik Aaron memberi kode pada pria itu untuk melacak keberadaan Alice. Dan dengan cekatan, Aaron mengeluarkan tabletnya. Dia mulai mencari keberadaan Alice dari cincin yang dipakai wanita itu.
Ya, cincin yang di berikan Alexander pada Alice telah di pasang alat pelacak. Semua itu dia lakukan untuk mengetahui keberadaan Alice karena saat ini yawa Alice sedang dalam bahaya. Jadi dia mempersiapkan cincin itu untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada wanita itu.
"Nona ada di pelabuhan Old Port, Doha." seru Aaron
"Kita kesana sekarang." Alexander berjalan terlebih dahulu di ikuti Aaron dan bodyguard yang mengekor di belakangnya.
Dan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka sampai di pelabuhan tersebut. Alexander melihat Alice yang merentangkan kedua tangannya menikmati udara segar di sana.
__ADS_1
Dia tersenyum dan perlahan menghampiri Alice. "Apa kau tersesat, baby?"
Deg