
"Mereka sudah membereskannya." ucap Ghani
"Good! Sekarang persiapkan semuanya. Kita akan segera melakukan rencana kita. Aku dengar dari Laura jika Alexander terlihat sangat frustasi. Ini menjadi kesempatan yang bagus untuk kita. Dan wanita itu bisa kita jadikan senjata ampuh untuk menghabisinya." seringai Sean
"Baik Tuan." Ghani melaksanakan tugas yang di berikan Sean. Mereka akan menyerang Alexander saat pria itu lengah. Dengan begitu, kemenangan sudah pasti berada di tangan Tuannya. Dan setelah ini tidak ada lagi keturunan keluarga Smith dan dendam Tuannya akan terbalaskan.
Tapi sayangnya mereka tidak tahu jika saat ini Alexander tengah dalam perjalanan untuk mengunjungi Sean. Dia membawa banyak bodyguard dan berencana mengubur semua orang yang berada di sana dengan meratakan bangunan mewah milik Sean.
Dan saat ini mereka sudah sampai tidak jauh dari rumah Sean.
Aaron terlihat mengotak-atik laptopnya untuk meretas sistem keamanan di rumah Sean. Bahkan dia berniat untuk merusak sistem keamanan mereka agar mereka tidak menyadari jika ada tamu yang datang berkunjung untuk memberi kejutan.
"Dasar bodoh." gumam Aaron.
"Mereka tidak sehebat kita. Pasti mereka berencana untuk melawanku saat aku lengah. Tapi keadaan terbalik sekarang. Kita akan memberikan kejutan menarik untuk mereka." seru Alexander
"Kau benar tuan. Rasanya aku sudah tidak sabar." Aaron menutup laptopnya yang berarti dia berhasil meretas cctv musuh. Dia meminta anak buahnya untuk mengecek ulang senjata yang mereka bawa. Dan setelahnya, Alexander membagi mereka dalam beberapa kelompok. Mereka akan menyerang dari berbagai arah.
Menurutnya, Sean sudah sangat keterlaluan. Sepertinya peringatan darinya tempo lalu tidak membuat Sean jera. Keinginan untuk menghancurkan keluarga Smith sangat besar. Bahkan Sean menghalalkan berbagai cara untuk melawannya.
__ADS_1
"Apa kalian sudah siap?" tanya Aaron pada anak buahnya.
"Kami siap, Tuan." jawab mereka serempak
"Let's start the game." Alexander dan Aaron berpencar bersama kelompok mereka masing-masing. Aaron akan menyerang dari depan. Sedangkan Alexander fokus mencari Alice.
Aaron memulai menembaki penjaga hingga satu persatu dari mereka tumbang. Suara letusan senapan yang terdengar dari luar membuat orang-orang terkejut. Mereka berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi, tapi timah panas tidak luput menembus dada mereka.
"KITA DI SERANG!!!" teriak salah satu bodyguard Sean.
Ghani yang baru saja mengistirahatkan tubuhnya, terpaksa bangkit dan mengambil senjata nya.
"Tuan!! Anda tidak apa-apa?" tanya Ghani
"Aku tidak apa-apa. Tapi apa yang terjadi? Aku mendengar suara tembakan dan siapa yang menyerang kita?" sentak Sean
"Saya tidak tahu tuan. Tapi lebih baik sekarang kita pergi dulu. Aku yakin, yang menyerang kita adalah Tuan Alexander."
Sean mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka jika Alexander begitu cepat menyadarinya. Ini pasti karena Laura. Jika bukan karena dia mengkhianatinya, berarti wanita itu sudah ketahuan.
__ADS_1
"Alice!!" Sean menatap Ghani dan berkata, "Kita ke ruang bawah tanah sekarang dan bawa wanita itu bersama kita." ucapnya
"Baik."
Sean dan Ghani mengendap-endap pergi ke ruang bawah tanah, tempat mereka menyekap Alice. Mereka akan membawa wanita itu karena dia akan sangat berguna nantinya.
Sementara itu, Alexander terus mencari lorong yang di duga jalan menuju ruangan di mana Alice berada. Sesekali dia menembaki anak buah Sean yang menghalanginya. Sampai dia melihat sekelebatan bayangan orang yang sangat dia kenal.
"Sean!!" Rahang Alexander mengeras. Matanya merah menahan amarah. Dia mengikuti Sean dan menembakinya.
Dor
Dor
Dor
Sean dan Ghani berhasil mengelak. Mereka tersentak saat tahu siapa yang menembaki mereka.
"Alexander !!" geram Sean.
__ADS_1