Tawanan Cinta Tuan Alexander

Tawanan Cinta Tuan Alexander
Pergilah!!


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Alexander sama sekali tidak berbicara. Dia langsung ke ruang kerjanya dan tidak pernah keluar lagi.


Hal itu membuat Alice bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Apa dia membuat kesalahan? Tapi apa? Dan kenapa dia bisa berada di hotel tanpa memakai sehelai benangpun?


Banyak pertanyaan di benak Alice. Tapi sayang tidak ada satupun yang bisa menjawabnya.


Dia sudah berkata yang sebenarnya tapi pernyataan Laura seolah mengatakan jika dia tengah berbohong. Padahal dia mengatakan kebenaran. Dan hal itu membuatnya bingung. Apakah ada yang memfitnahnya?


Alice berulang kali ingin bertemu dengan Alexander. Tapi Aaron menghalanginya dengan alasan jika Alexander tidak ingin di ganggu. Dan hal itu terjadi hingga beberapa hari. Bahkan pria itu tidak pernah pulang dan memilih menginap di perusahaan.


"Ada apa? Kenapa jadi begini?" Alice memegang dadanya yang terasa sesak. Hatinya sakit di abaikan oleh Alexander. Apakah ini balasan untuk nya karena berulang kali menolak cinta pria itu? Bahkan dia berencana kabur setelah mendapatkan kepercayaan dari Alexander. Dan sekarang dia merasa kesepian. Dia merindukan Alexander yang selalu ada di sampingnya.


Alice keluar dari kamar dan menunggu kedatangan Alexander seperti biasanya di ruang tamu. Tapi lagi-lagi Alexander tidak datang. Bahkan hari sudah tengah malam. Alhasil Alice tertidur di sofa.


Tap


Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki mendekati Alice yang tertidur di sofa. Dia membungkuk dan ingin menyentuh wajah Alice. Tapi di urungkannya. Dia mengepalkan tangannya dan pergi begitu saja.


"Bagaimana dengan Nona Alice, tuan?" Tanya Aaron


"Biarkan saja. Dan katakan padanya besok untuk tidur di kamarnya." Setelah mengatakan hal itu, Alexander masuk kedalam kamarnya.


Aaron menghela nafas panjang. Cinta memang rumit.


Alexander yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta, merasa di khianati dengan kenyataan yang dilihatnya. Dia tidak berfikir jernih dan lebih mengunggulkan egonya. Sama halnya dengan Alice yang mementingkan egonya dengan berulang kali menolak Alexander.


Sebenarnya jika mereka berdua saling jujur dan percaya, semua tidak akan serumit ini.


Aaron membawakan selimut untuk Alice dan memakaikannya. Sejenak dia merasa kasihan pada Alice karena tidak ada yang percaya padanya.


Sebenarnya dia merasa ada yang janggal. Tapi tanpa perintah dari Alexander, dia tidak berani menyelidikinya.


Apalagi emosi Alexander sedang tidak stabil. Untuk itu dia memilih untuk diam.


"Maafkan aku, Nona." Aaron kembali ke kamarnya dan meninggalkan Alice sendiri di ruang tamu.


Keesokan harinya, Alice di bangunkan oleh pelayan. Dia membuka matanya perlahan dan segera terduduk saat mendapati dirinya tertidur lagi di sofa.


"Maaf saya lancang membangunkan anda, nona." Seru si pelayan


" Ti_tidak apa-apa." Alice melihat sekitar dan tidak mendapati Alexander. "apakah Alexander sudah berangkat ke kantor?" Tanya Alice


" Sudah nona. Tuan berangkat pagi-pagi tadi."


Alice menundukkan kepalanya. Lagi-lagi Alexander menghindarinya. Ini tidak bisa di biarkan. Dia harus menemui Alexander. Ya, dia akan ke kantor untuk menemui Alexander.

__ADS_1


Alice kembali ke kamarnya dan mulai bersiap. Tapi saat dia keluar dari pintu utama, dia di hadang oleh beberapa bodyguard.


"Anda mau kemana, nona?"


"Aku ingin ke kantor untuk menemui Alexander." Ucap Alice


"Maaf nona. Kami di perintahkan untuk melarang anda keluar dari rumah ini."


"Atas dasar apa kalian melarang ku? Aku ingin pergi menemui Alexander, bukan untuk kabur. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa mengikuti ku." Sentak Alice


"Maaf nona. Ini perintah dari Tuan."


Alice mendengus kesal. Dia hanya ingin bertemu dengan Alexander dan dia akan melakukan apapun untuk bisa bertemu dengan pria itu.


"Silahkan anda kembali ke kamar anda, nona."


Alice mengambil pisau yang sudah dia bawa di tasnya. Dia mengarahkan pisau tersebut di lehernya sendiri dan mengancam bodyguard jika tidak diijinkan untuk pergi.


"Ijinkan aku pergi, atau aku akan bunuh diri." Ancam Alice


"Letakkan benda itu nona!! Jangan melakukan hal bodoh!!" Teriak bodyguard


"Aku tidak perduli." Alice menekan pisau tersebut hingga meninggalkan luka gores di lehernya sendiri.


"Nona!!" Sentak bodyguard


"Aku mohon, aku hanya ingin bertemu dengan Alexander." Pinta Alice


Di perjalanan, Alice menyeka darah yang keluar dari lehernya. Dia merobek sedikit bajunya dan dia gunakan untuk membalut luka tersebut agar pendarahannya berhenti.


"Kita sudah sampai, nona." Seru bodyguard yang mengantar Alice.


"Terimakasih." Alice segera turun dari mobil dan masuk ke perusahaan untuk menemui Alexander.


BRAKH


Alice membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan hal itu membuat Alexander geram. "Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum.....


"Lex!!"


Deg


Alexander mendongak menatap Alice yang saat ini berdiri di depannya.


Tatapan Alexander terlihat sayu. Tapi kemudian dia menutup matanya sejenak dan kembali menatap Alice dengan tajam. "Apa kau tidak di ajari sopan santun oleh orang tuamu?" tanya Alexander dengan nada dingin


Deg


"Ma_maafkan aku, Lex. Tapi aku merasa kita harus berbicara."


"Apa lagi yang ingin kau bicarakan? Bukankah semua sudah jelas?"

__ADS_1


"Tidak Lex. Kau harus mendengar penjelasan ku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sana. Aku juga tidak bertemu dengan Sam. Jadi....


Brukh


Alexander melempar amplop coklat pada Alice. "Coba kau lihat!! Dan jelaskan padaku, apa maksud semua itu?"


Alice mengambil amplop tersebut dan membukanya.


Deg


Dia mengeluarkan isi amplop tersebut. Banyak foto dirinya yang terlihat tidur dengan seorang pria yang entah siapa. "Ti_tidak!! Ini tidak benar. A_aku tidak melakukan semua ini. Kau harus percaya padaku, Lex. Aku tidak melakukan semua ini."


"Tidak melakukan kau bilang?" Alexander membanting gelas hingga pecah berkeping-keping.


Pyaarr


"Jika kau tidak melakukannya, coba kau jelaskan padaku apa maksud dari foto itu?" Teriak Alexander


"Aku ingin mempercayai mu. Tapi sayangnya foto itu asli. Jadi aku harus percaya bagaimana, hah?"


"Selama ini aku tahu jika kau hanya berpura-pura baik padaku untuk mendapatkan kepercayaan ku. Dan setelahnya kau berniat untuk kabur."


"Jadi sekarang, aku tidak akan menahan mu lagi. Kau boleh pergi."


Deg


"Ta_tapi Lex. Aku benar-benar tidak tahu semua ini. A_aku tidak mau pergi. Hiks.. hiks.." Isak Alice


"Kenapa kau tidak mau pergi? Bukankah kau sangat ingin lepas dari ku?" Lirih Alexander. "Sekarang aku melepas mu. Kau bisa pergi kemanapun kau mau. Aku tidak akan menghalangi mu lagi."


Alice menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau pergi dari Alexander. "Aku tidak mau, Lex. Aku tidak mau pergi."


"Kenapa? Disaat aku mengekang mu, kau sangat ingin pergi. Tapi di saat aku melepas mu, kau justru ingin tetap di sini. Kenapa Alice?"


"Ka_karena aku mulai mencintaimu, Lex. Aku mencintaimu." Seru Alice


"Cinta? Cih.. bahkan aku sekarang tidak bisa merasakan nya lagi."


"Lex, aku....


"Kau lihat gelas di depanmu itu. Apa kau bisa mengembalikan gelas itu menjadi seperti semula tanpa ada bekas pecahannya?"


"Seperti itulah sekarang hatiku." Alexander mengusap wajahnya kasar dan kembali berkata, "aku membebaskan mu. Sekarang kau boleh pergi."


"Tapi Lex...


Alexander membalikkan tubuhnya enggan melihat Alice


Dan hal itu membuat hati Alice sakit. Dia melepas perhiasan yang dia pakai, tas dan juga sepatunya. Dia meletakkan semua itu di meja Alexander.


"Maafkan aku." Setelah mengatakan hal itu, Alice pergi dari ruangan Alexander tanpa memperdulikan kakinya yang menginjak pecahan kaca.

__ADS_1


__ADS_2