
Di sebuah ruang yang gelap dan pengap, seorang wanita tergeletak pingsan dengan keadaan kedua tangannya terikat.
Dia adalah Alice.
"Ish..." Perlahan Alice membuka matanya dia menatap sekitar tempat yang nampak asing untuknya. "Di_di mana ini?" Alice mencoba bangun dan menyadari jika dia dalam keadaan terikat.
"I_ini... Ke_kenapa aku diikat seperti ini?" Alice mencoba untuk tetap tenang. Dia mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi dan kenapa dia bisa berada di tempat tersebut.
"Tadi aku melihat Samuel. Dan saat aku mau menghampiri nya tiba-tiba....
Deg
Alice tersentak. Ingatannya kembali saat tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang dan setelah itu dia tidak sadarkan diri.
"Sial!! Apa aku di culik? Tapi siapa yang melakukannya? Apa itu Alexander?" Alice bertanya-tanya dalam hati. Dia tidak mempunyai musuh. Dan kalaupun ada orang yang dendam padanya, dia adalah Alexander. Tapi apa Alexander akan tega melakukan hal itu padanya?
"Siapapun, lepaskan aku!! Hai... Lepaskan aku!!" Alice mencoba berteriak. Tapi efek dari obat bius yang di hirup nya masih terasa dan membuat kepalanya pusing.
Tap
Tap
Tap
__ADS_1
Alice mendongak saat mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat. Tidak!!! bukan seorang, tapi ada beberapa orang.
"Siapa di sana? Cepat lepaskan aku!!" teriak Alice
"Ternyata kau sudah sadar ya."
Alice menatap beberapa orang yang saat ini berdiri di depannya. "Siapa kau?" tanya nya.
"Perkenalkan, namaku Sean. Aku adalah rival Alexander." seru Sean
"A_apa? Rival?"
"Yeah. Aku adalah musuh bebuyutan Alexander. Keluarga kami sudah berseteru sejak lama. Tapi sayang, keluarga Smith selalu unggul. Dan sekarang, waktunya untuk ku balas dendam. aku akan membuat Alexander merasakan kekalahan dan kehilangan apa yang sudah menjadi miliknya." Sean tertawa puas. Sebentar lagi rencananya akan berhasil. Dia akan menghancurkan Alexander dan memusnahkan satu-satunya keturunan Smith.
"Apa maksud mu?"
"Apa dengan menculik ku, kau bisa menghancurkan Alexander? Kau salah besar. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa melakukannya."
"Brengsek!!" Sean terpancing emosi dan langsung menampar Alice dengan keras.
"Jangan meremehkan ku, sialan!! Aku tahu kau adalah kelemahan Alexander. Maka dari itu aku menculik mu untuk melawan Alexander." teriak Sean
Alice menatap Sean tajam. Dia meludahkan darah dari sudut bibirnya di depan Sean. "Maaf membuatmu kecewa. Tapi Alexander sudah mengusirku. Dia sudah membuang ku. Itu artinya, aku sudah tidak berharga lagi untuk nya. Kau hanya melakukan hal yang sia-sia tuan buruk rupa."
__ADS_1
Sean mengepalkan tangannya. Tapi sedetik kemudian dia tertawa keras dan membuat Alice bingung. "Apa ada yang lucu?" tanya Alice
"Mungkin kau tidak tahu, tapi yang membuatmu di usir adalah aku dan juga rekan ku, Laura Angelina."
Deg
"A_apa katamu?" sentak Alice
"Kenapa? Kau terkejut? Tapi itulah yang sesungguhnya terjadi. Laura menyukai Alexander. Tapi karena keberadaan mu menghalanginya untuk mendapatkan Alexander. Untuk itu dia meminta bantuan ku untuk menyingkirkan mu." terang Sean
"Ti_tidak mungkin !! I_itu tidak benar. Kau pasti berbohong, kan?" teriak Alice
"Untuk apa aku berbohong. Bahkan semua yang terjadi padamu adalah rencana Laura. Aku dan Sam hanya figura saja."
"Sa_sam?"
"Oh iya. Sam yang aku maksud di sini adalah Sam sahabat mu."
Deg
"Aku mengangkatnya menjadi anggotaku. Dan aku memberitahunya jika kau di sekap oleh Alexander. Untuk itu dia datang ke istana Alexander untuk menyelamatkan mu. Tapi sayangnya dia tertangkap. Jika aku tidak menyelamatkan nya, aku yakin dia sudah tinggal nama."
Lidah Alice terasa kelu. Dia tidak percaya dengan kebenaran yang dia dengar. Sahabat yang dia percaya mengkhianatinya dan wanita yang sudah dia anggap sebagai kakaknya ternyata juga berniat buruk padanya. Benar-benar sulit di percaya.
__ADS_1
Bahkan Alice seperti orang linglung. Dia tidak lagi mendengar Sean yang terus menceritakan apa yang selama ini terjadi pada Alice adalah rencana mereka. Tatapan Alice mendadak kosong. Dia masih tidak percaya semua itu. Untuk apa sahabatnya melakukan hal itu padanya?