
Aaron kembali ke mansion dan mulai mengumpulkan bodyguard. Dia berjalan mengelilingi bodyguard dengan tatapan intimidasi. Dia sudah mencari tahu tapi tidak ada bukti adanya mata-mata di antara mereka. Untuk itu dia akan menggunakan cara lain.
"Kalian pasti tahu beberapa waktu yang lalu ada orang asing lancang masuk kemari." seru Aaron dengan lantang.
Aaron memperhatikan satu persatu bodyguard. Semua bersikap tenang dan tidak ada yang mencurigakan.
"Dia di kirim oleh seseorang untuk membawa nona Alice keluar dari sini. Kalian tahu bukan jika Nona Alice adalah kekasih tuan Alexander."
"Tuan Alexander curiga jika ada pengkhianat di sini karena orang asing itu bisa masuk dan terlepas dari penjagaan yang ketat." Aaron berhenti tepat di hadapan bodyguard yang berdiri tegak. Tatapannya yang mengintimidasi nyatanya tidak membuat Bodyguard itu gentar. Tapi pergerakan seseorang membuat Aaron curiga.
"Kalian tahu bukan, hukuman untuk pengkhianat?"
"Tahu tuan." jawab mereka serempak
Aaron masih memperhatikan satu bodyguard yang mencurigakan. Walaupun dia terlihat tenang tapi pergerakan matanya dan keringat yang menetes di pelipisnya menandakan jika dia sedang gugup.
"Aku di sini di minta untuk mencari pengkhianat itu." Aaron memainkan senjata tajamnya. Dia mendekati orang itu dan mengarahkan senjata itu ke lehernya.
"Kau...
Belum selesai Aaron berbicara, orang itu mengambil senjata api dan menarik pelatuk yang diarahkan di pelipisnya sendiri.
__ADS_1
Dor
Darah Bodyguard mengenai ke wajah Aaron dan orang itu tewas seketika.
Mungkin dia memilih mati daripada di siksa untuk mengaku. Atau mungkin karena kesetiaan pada Bosnya, dia memilih bunuh diri. Entahlah, yang jelas pengkhianat itu sudah mati.
Aaron berdiri depan para bodyguard dan menatap dengan tatapan tajam. Ada rasa takut di dalam diri mereka karena mereka tahu jika pilihan bunuh diri lebih baik dari pada mendapatkan siksaan.
"Ini peringatan untuk kalian. Jika ada yang berani berkhianat, maka aku tidak akan segan membuat kalian enggan untuk hidup ." seru Aaron
Setelah mengatakan hal itu, Aaron kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah ini dia harus kembali ke perusahaan untuk memberitahu Alexander jika pengkhianat sudah mati.
Entah apa yang diberikan pada orang itu sampai dia berani berkhianat pada Alexander.
Aaron membasuh mukanya menghilangkan cipratan darah di wajahnya. Ini terlihat sangat menjijikan. Berbeda jika dia sendiri yang membunuh pengkhianat itu, walaupun darah mengenai tubuhnya, ada rasa puas saat melakukannya.
Cukup lama Aaron membersihkan diri. Dan setelahnya, dia bersiap untuk kembali ke perusahaan untuk memberitahu Alexander jika pengkhianat sudah mati.
Aaron berpenampilan seperti biasanya, terlihat tampan dengan jas dan rambut yang tersisir rapi. Dia mengendarai mobilnya kembali ke perusahaan. Dia sudah mengatur kembali keamanan dan membagi tugas baru untuk para bodyguard. Dia tidak ingin hal seperti sebelumnya terulang kembali. Walau dia yakin jika hal itu tidak akan terjadi dalam waktu yang lama.
Ya, insting nya mengatakan jika semua itu adalah perbuatan Sean. Hanya dia yang mempunyai dendam pribadi dengan Alexander. Dan baru saja Sean mendapatkan hadiah spesial dari Alexander. Dan hal itu akan membuat pria itu sibuk memperbaiki sistem keamanan dan juga keuangannya.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu yang lama mobil Aaron terparkir sempurna di depan perusahaan AS Corp. Dia turun dari mobil dan masuk ke perusahaan untuk menemui Alexander.
Tok Tok Tok
"Masuk!!" seru Alexander
Aaron masuk dan membungkuk hormat. Ekor matanya melirik Alice yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
"Bagaimana?" tanya Alexander
"Semua sudah beres tuan. Paket sudah dikirim dengan cepat tanpa hambatan apapun." seru Aaron
Alexander mengangguk paham. Sangat di sayangkan si pengkhianat memilih untuk bunuh diri. Padahal dia sangat membutuhkan informasi darinya. Tapi tidak masalah untuk Alexander. Masih ada waktu untuk mencari tahu.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Alexander
"Ada meeting dengan tuan Arsyad di restoran sekaligus makan siang. setelah itu anda free, tuan." seru Aaron
Alexander melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada waktu dua jam sebelum meeting di lakukan. Dia meminta Aaron dan Alice untuk menyiapkan semua yang di perlukan untuk meeting.
Tentu saja Alice senang, karena ini pertama kalinya dia ikut meeting di luar. Dan dia menyiapkan semuanya bersama dengan Aaron. Bahkan dia tidak segan untuk bertanya pada pria itu.
__ADS_1