
Untuk sesaat, Alexander terdiam. Dia mengusap air matanya dan membalikkan tubuhnya dan melihat Alice sudah tidak ada di sana.
Dia menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Air matanya kembali menetes dan dia hanya bisa mengusapnya dan menghela nafas panjang. "Kau bodoh, Alice. Harusnya kau tidak datang kemari." Lirihnya.
Alexander sengaja menghindari Alice karena takut akan mengucapkan kata-kata yang membuat Alice pergi. Dan benar saja, kini wanita itu sudah tidak ada di hadapannya.
Dia melarang Alice pergi kemanapun karena dia tidak mau Alice pergi. Dia masih mencintai wanita itu. Tapi jika melihat kenyataan pahit jika Alice sudah mengkhianatinya, entah mengapa hal itu membuatnya sakit. Untuk itulah dia memilih menghindar.
Alexander melihat barang-barang Alice ada di atas mejanya. Dia mengambil satu persatu barang tersebut dan melihat cincin yang dia berikan pada Alice juga tergeletak di sana.
Dia mengambil cincin tersebut dan menggenggamnya erat. "Alice!!" Lirihnya
Sementara itu, Alice terus berjalan tanpa henti dengan tatapan kosong. Dia tidak tahu lagi harus kemana. Bukankah ini yang dia inginkan? Pergi dari kehidupan Alexander.
Harusnya dia senang. Tapi yang dia rasakan saat ini hanyalah kehampaan. Hatinya kosong. Kakinya berjalan tanpa tujuan.
Orang-orang sekitar yang melihat penampilan Alice merasa iba. Apalagi kaki Alice yang terus mengeluarkan darah. Tapi wanita itu seolah tidak perduli. Rasa sakit di kakinya tidak sebanding dengan sakit di hatinya.
"Kau tidak apa-apa nona?" Tanya wanita paruh baya yang tidak tega melihat kondisi Alice
"Kakimu terluka. Apa itu tidak sakit?" Tanyanya lagi
__ADS_1
Alice yang awalnya diam mulai merespon. Dia menatap wanita tua itu dan mulai menangis. "Ini sakit Bu, sangat sakit." Tangis Alice pecah. Dia menangis di pelukan wanita tua itu.
...***********************...
Alice terdiam dengan tatapan yang kosong. Bahkan dia tidak merasa kesakitan saat pecahan gelas yang menancap di kakinya, di ambil oleh wanita paruh baya yang menolongnya.
Sejenak wanita itu merasa iba. Dia mengobati luka di kaki Alice dan kemudian membalutnya.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu?" Tanya wanita itu memulai pembicaraan
Hening
Alice diam seribu bahasa. Hal itu membuat wanita itu menghela nafas berat. Dia menduga juga Alice baru saja mengalami hal berat yang mengguncang jiwanya.
"Kau seperti sebuah cangkang tanpa isi. Padahal kau masih mempunyai pikiran dan juga hati. Tapi karena satu hal, kau memilih diam dan tenggelam dalam satu hal tanpa memikirkan jika kau bisa menghadapi semua ini dan berjuang untuk mendapatkannya kembali."
Alice menatap teduh wajah wanita tua yang duduk di sampingnya. Perkataan wanita itu telah menggugah hatinya.
Benar. Dia tidak seharusnya terlarut dalam kesedihan. Lagipula ini yang dia inginkan, bukan. Pergi dari Alexander. Tapi kenapa harus dengan cara ini?
"Apa ini masalah cinta?" Tanya wanita itu lagi
__ADS_1
"Jika memang ini masalah cinta, aku tidak bisa berkata apapun karena kau yang merasakannya. Entah itu karena pengkhianatan atau karena kesalahan pahaman. Tapi yang jelas, jika kau benar-benar mencintainya, maka perjuangkan!! Buktikan jika kau benar-benar mencintainya."
"Tapi jika itu terlalu sakit, maka lupakan!! Cinta sejati datang dari satu orang. Dia orang yang mencintai kita dengan tulus tanpa meminta imbalan. Dia yang mau memperjuangkan kita tanpa lelah. Jika dia melepas mu, mungkin dia bukan cinta sejatimu."
"Terimakasih. Terimakasih nyonya." Alice kembali menangis dan memeluk wanita itu.
"Namaku Fatimah. Kau bisa memanggilku ibu Fatimah." Seru wanita itu
Alice mengangguk pelan. Dia mengurai pelukannya dan memperkenalkan diri. "Namaku Alice."
"Alice!! Nama yang bagus. Tapi sepertinya kau bukan asli sini."
Lagi-lagi Alice mengangguk dan mulai menceritakan bagaimana dia bisa berada di Qatar. Bahkan pertemuannya dengan Alexander pun ia ceritakan. Tidak ada yang ia tutup-tutupi. Dan di saat dia sudah merasakan cinta, Alexander justru melepasnya.
"Ya Allah. Aku tidak menyangka kau mengalami hal buruk seperti itu." Seru ibu Fatimah
"Jika kau mau, kau boleh tinggal disini untuk sementara. Aku akan membantumu agar kau bisa pulang ke negara asalmu." Lanjut Fatimah
"Terimakasih Bu. Tapi aku tidak mau merepotkan mu. Kau mengijinkan ku tinggal di sini saja aku sudah senang. Untuk bisa pulang, biar aku usaha sendiri." Alice menggenggam tangan Fatimah dan kembali mengucapkan terimakasih.
Dia sangat beruntung. Di saat dia kehilangan arah, ada orang baik seperti ibu Fatimah yang mau menolongnya.
__ADS_1
Jika tidak, mungkin sekarang dia sudah tersesat tidak tahu arah.
"Alexander!! Sebelum aku pulang, aku harap kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman diantara kita. Aku tidak akan memintamu untuk menerimaku kembali. Tapi, aku hanya ingin hidup tanpa rasa bersalah." Batin Alice