
Bodyguard Sean menyebar di sekitar lokasi yang tidak terjangkau cctv. Mereka menyamar menjadi orang biasa agar tidak ada yang curiga dengan mereka. Tapi sudah berpencar pun, Alice tidak ada di manapun.
Begitu juga dengan Samuel. Dia masih terus mencari Alice. Dia bertanya kesana kemari tapi tidak ada satupun yang tahu di mana dia berada. "Kau di mana, Alice?" gumam Sam.
Wanita yang mereka cari, saat ini masih mencari pekerjaan di luar sana. Wanita itu masuk satu persatu toko dan restoran untuk melamar pekerjaan. Tapi tidak ada satupun yang mau menerimanya.
"Hah... Kenapa sulit sekali mencari pekerjaan di sini." keluh Alice. Dia duduk di kursi taman dan menenggak minumannya.
Hari sudah sore, tapi dia belum juga mendapatkan pekerjaan. "Sepertinya aku harus pulang dan melanjutkannya besok. Aku takut bu Fatima khawatir padaku." Alice beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk pulang.
Sudah beberapa hari dia tinggal bersama dengan Bu Fatimah. Wanita tua itu sangat baik padanya. Bahkan dia sudah menganggap Bu Fatimah seperti ibu kandungnya sendiri.
Tapi saat dia hampir sampai di rumah Bu Fatimah, dia tidak sengaja melihat Samuel dari kejauhan. Alice menyipitkan matanya mencoba meneliti apakah pria itu benar Samuel atau bukan.
"Itu Sam, kan." Alice melebarkan kedua matanya saat pria itu menoleh kearahnya dan berbicara dengan seseorang. "Sam!!!" teriak Alice. Dia berjalan mendekat tapi dari arah belakang, tiba-tiba ada tangan membekap mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah di lumuri dengan obat bius.
"Hmmmppptt.." Alice memberontak sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya. Alice di masukkan kedalam mobil hitam oleh orang yang tak di kenal
Kejadian penculikan tersebut di pergoki tetangga ibu Fatimah yang bernama Basyir. Dia sudah mengenal Alice dengan baik. Untuk itu saat melihat Alice di culik, dia berusaha untuk menyelamatkannya.
"Alice!!! Hei.. Kalian mau membawanya kemana?" Basyir mencoba mengejar mobil tersebut. Tapi sayang dia tidak bisa menyusulnya. Alhasil dia memilih kembali dan memberitahu Bu Fatimah.
"Bu Fatimah!!! Bu Fatimah!!!" Basyir menggedor pintu rumah Bu Fatimah. Dan tidak berapa lama wanita paruh baya itu membuka pintu.
"Astaghfirullah Basyir. Kenapa kau menggedor pintu seperti itu, hah? Apa mulutmu itu sudah tidak bisa mengucapkan salam?" gerutu Bu Fatimah
"I_ini gawat Bu."
__ADS_1
"Gawat? Gawat kenapa?" tanya Bu Fatimah.
"I_itu.. Itu....
Bu Fatimah memukul bahu Basyir dan memarahinya. "Bicara yang jelas!!" sentak Bu Fatimah
"Alice, Bu. Alice di culik." seru Basyir
"Apa? Di culik? Jangan bicara sembarangan Basyir!!" pekik Bu Fatimah
"Tidak Bu. Aku melihatnya sendiri. Tadi Alice di paksa masuk ke dalam mobil oleh seorang pria. Aku mencoba mengejarnya, tapi mobil itu cepat sekali." terang Basyir
Tubuh Bu Fatimah terhuyung dan hampir saja jatuh jika saja Basyir tidak menopang tubuh Bu Fatimah. Pria itu membantu Bu Fatimah untuk duduk dan mengambilkan air putih untuk wanita itu.
"Minum dulu Bu!!" Basyir membantu Bu Fatimah untuk minum dan meletakkan gelas tersebut di meja. "Sekarang kita harus bagaimana Bu? Apa kita lapor polisi saja?"
Baru saja dia merasakan kebahagiaan karena keberadaan Alice menjadi obat penawar saat dia merindukan almarhumah putrinya.
Alice begitu baik. Dia selalu membantunya berjualan sebelum pergi mencari pekerjaan. Tapi sekarang gadis itu tidak ada di hadapannya. Bu Fatimah kembali merasa kesepian.
"Bu!!!" Basyir menggoyang bahu Bu Fatimah mencoba menyadarkan wanita itu. "Jangan seperti ini!!! Ayo aku temani ke kantor polisi!! Aku yakin Alice akan segera di temukan." ucap Basyir
"I_iya. Ayo bas." Bu Fatimah dan Basyir bergegas ke kantor polisi dan melaporkan tentang penculikan yang terjadi pada Alice.
Basyir sebagai saksi mata mengatakan ciri-ciri pelaku dan mengatakan jika mobil yang di gunakan pelaku tidak ada plat mobilnya.
Sedangkan Bu Fatimah memberi keterangan jika Alice bukanlah asli warga Qatar. Dia di sekap oleh orang terpandang dan berhasil melarikan diri. Dan sekarang dia kembali di culik.
__ADS_1
Bu Fatimah tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada polisi tentang siapa yang sudah menahan Alice selama ini. Karena orang itu kebal hukum.
"Tunggu dulu!!! Apakah orang yang menculik Alice adalah tuan Alexander?" batin Bu Fatimah. Dia sangat ingin memastikannya. Tapi dia tidak yakin bisa keluar dalam keadaan hidup jika sampai dia masuk ke kandang singa.
Tapi tidak ada salahnya mencoba bukan? Apalagi dia sudah hidup sendiri di dunia ini. Kalau sampai dia mati, maka tidak akan ada yang menangisi nya. Dan dia bisa berkumpul dengan almarhum suami dan putrinya.
Bu Fatimah sudah membulatkan tekadnya. setelah memberi keterangan pada polisi, Dia tidak pulang melainkan pergi ke rumah megah Alexander.
Bu Fatimah menelan ludahnya kasar melihat bangunan megah di depannya. Dia melangkah secara perlahan dan menemui anak buah Alexander yang berjaga di gerbang.
"Assalamualaikum!!" sapa Bu Fatimah
"Wa'alaikumsalam. Siapa kau? Dan ada perlu apa kemari?" tanya bodyguard
"A_aku ingin bertemu dengan Tuan Alexander. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padanya." seru Bu Fatimah
"Maaf. Sekarang Tuan kami sedang ada tamu penting dan beliau tidak bisa di ganggu. Jadi lebih baik kau pergi!!" usir bodyguard
"Tapi ini sangat penting tuan. Aku hanya ingin bertanya apa tuan Alexander yang menculik Alice? Jika memang benar, aku mohon lepaskan Alice!!"
Bodyguard mengerutkan keningnya bingung. Alice sudah tidak ada di sini karena tuannya sendiri yang melepaskannya. Jadi untuk apa Tuannya menculiknya lagi?
"Tuan!!"
"Maaf nyonya. Tapi nona Alice tidak ada di sini. Tuan sudah mengusirnya. Jadi untuk apa tuan menculik nona Alice?" terang bodyguard
Bu Fatimah terdiam. Iya benar. Alice pernah bercerita padanya bagaimana Alexander mencampakkannya. Jadi sedikit aneh jika pria itu menculik Alice.
__ADS_1
Lalu jika bukan Alexander, siapa yang menculik Alice?