
BRAKH
"KATAKAN SEKALI LAGI!!! APA MAKSUD MU ALICE MENGHILANG?" teriak Alexander.
Dia berniat untuk menyusul Alice dan Laura, tapi sesampainya di sana, dia justru di buat murka dengan laporan dari anak buahnya jika Alice menghilang.
"Ma_maaf tuan. Saat itu nona Alice dan nona Laura sedang makan di restoran. Dan kami juga ikut duduk di sana dengan meja yang berbeda. Tiba-tiba ada pelayan yang datang mengantar makanan."
"Dia bilang jika makanan itu pesanan nona Alice untuk kami. makanya kami....
Dor
Alexander menembak anak buahnya hingga tewas di tempat. Dan hal itu membuat semua bodyguard yang mengkawal Alice menjadi ketakutan.
"Lex!!!" Laura masuk ke ruangan di mana Alexander berada. Dia terkejut dengan pemandangan di depan mata nya.
Lagi-lagi Alexander membunuh orang di depan matanya.
"Katakan!!"
"A_aku sudah mengecek cctv. Alice terlihat keluar dari toilet dan bertemu dengan seorang pria." Laura memperlihatkan rekaman cctv yang sudah dia salin ke ponselnya.
Di sana terlihat Alice yang keluar dari toilet dan bertemu dengan seorang pria. Alexander memperbesar layar ponsel dan melihat pria yang sangat dia kenal.
"Dia!!!" Alexander mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras matanya merah menahan amarah.
Pria itu, pria yang mengaku sebagai sahabat Alice. Dia pernah berniat membawa Alice kabur. Dan sekarang mereka bertemu.
Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi tidak berapa lama mereka terlihat pergi dari sana.
"BRENGSEK!!!"
PRAAANG
Alexander membanting ponsel milik Laura. Dia benar-benar murka karena Alice berani kabur dengan pria itu.
"Ma_maafkan aku Lex. Aku tidak mengira jika Alice akan pergi. Waktu itu dia bilang padaku mau ke toilet untuk memperbaiki makeup nya. Jadi aku tidak tahu kalau......
__ADS_1
Alexander mengangkat tangan nya yang membuat Laura diam seketika. "Aaron!!"
"Baik tuan." Aaron yang tahu maksud dari Alexander langsung mengotak-atik laptopnya. Dia mencari keberadaan Alice melalui pelacak yang terpasang di cincin yang di pakai oleh Alice.
"Nona berada di hotel Tuan."
Alexander menatap tajam Aaron yang menundukkan kepalanya. "Hotel?" Tanyanya memastikan
"Benar tuan."
Lagi-lagi tangan Alexander mengepal erat. Pikirannya sudah melayang entah kemana. Dua orang berbeda jenis berada di dalam ruangan yang berbeda. Kira-kira apa yang terjadi di sana?
Tidak mau menunggu lagi, Alexander langsung pergi ke hotel tempat Alice berada.
"Sepertinya akan ada pertunjukan menarik. Aku harus ikut untuk memastikannya. Jangan sampai semua berantakan. Dan aku harap, mereka sudah selesai melakukan tugasnya." Batin Laura. Dia menatap ponselnya yang sudah tidak berbentuk dan pergi begitu saja.
Alexander mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi. Dia tidak sabar untuk menemui Alice dan harap wanita itu tidak mengecewakannya.
Dia sudah sangat percaya pada Alice. Bahkan dia yakin jika Alice sudah mulai jatuh cinta padanya. Tapi melihat kenyataan ini membuat Alexander ragu. Apa selama ini Alice hanya berpura-pura? Lalu apa arti ciuman yang selama ini mereka lakukan? Apa hal itu sudah biasa untuk wanita itu?
Memikirkan hal itu membuat Alexander murka. Hatinya bergemuruh menahan sakit bercampur marah. "Aku mohon Alice. Jangan khianati aku." gumamnya dalam hati.
"Nona ada di sini tuan." Aaron berhenti di depan pintu kamar hotel. Begitu juga dengan Alexander. Dengan tangan bergetar, Alexander mencoba membuka pintu tersebut. Tapi sayangnya terkunci.
Alexander memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas. Dia mengambil pistol nya dan menembak kenop pintunya.
Dor
Dor
Dor
BRUAKH
Alexander membuka pintu tersebut dengan sekali tendang. Dia masuk dan mendapati baju Alice berserakan di lantai. Dan hal itu membuat hati Alexander tidak menentu. Dia menatap Alice yang tengah tertidur pulas di bawah selimut. Perlahan Alexander mendekat. Dia menarik selimut yang menutupi Alice pelan dan.....
Deg
__ADS_1
Nafas Alexander tercekat. Dia kembali menaikkan selimut tersebut untuk menutupi tubuh Alice.
Dia mengepalkan tangannya mencoba menahan amarahnya. "Alice!!" panggil Alexander. Tapi wanita itu tidak bereaksi sama sekali.
"ALICE!!!" teriak Alexander.
Alice membuka matanya perlahan. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing dan melihat Alexander berdiri di sampingnya.
"Alex!!" Alice melihat sekitarnya. Dia merasa asing dengan tempat itu. "Aku di mana?" Alice bangun perlahan dan hal itu membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot.
Deg
Alice buru-buru menaikkan kembali selimutnya. Dia menatap Alexander yang sedari tadi memalingkan wajahnya. "Lex, apa yang terjadi? Kenapa Aku bisa di sini dan....
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Alice. Kenapa kau bisa di sini? Dan kau..." Ucapan Alexander tertahan. Rasanya dia tidak sanggup mengatakannya. Dia sangat takut menerima kenyataan jika Alice sudah mengkhianatinya.
"Siapa pria itu, Alice? Apa dia pria yang kau sebut sahabat mu?" tanya Alexander
"A_apa? Pria? sahabat? Apa maksudmu Lex?"
"JANGAN BERPURA-PURA TIDAK TAHU." bentak Alexander
Alice tersentak. Tidak terasa air matanya menetes. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan tiba-tiba Alexander membentaknya tanpa sebab.
"Sial!! mereka cepat sekali." Laura yang juga mengikuti Alexander baru saja sampai di hotel. Dia bergegas masuk ke hotel dan menuju kamar di mana Alice berada.
"Semoga aku belum terlambat."
Laura masuk ke kamar dan terlihat Alice yang terisak sambil memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya. "Oh my God, Alice!!" Laura mendekati Alice dan memeluknya. "Ada apa sebenarnya?" tanya Laura
"Aku tidak tahu Ra. Waktu aku ke toilet, ada yang membekap ku dari belakang. Dan setelah itu, aku tidak ingat apa-apa." Isak Alice
"Tapi Lice, Aku melihatmu melalui cctv, kau terlihat pergi dengan seorang pria. Siapa pria itu?"
Alice menatap Laura. Kening nya nampak berkerut mendengar ucapan Laura. Kenapa semua mengira jika dia Pergi dengan pria lain? Dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya.
"Pakai bajumu!! Kita pulang sekarang." Alexander pergi begitu saja tanpa menatap Alice yang masih terisak di pelukan Laura.
__ADS_1
Hati terasa tertusuk ribuan benda tajam melihat kondisi Alice saat ini. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini. Tapi mungkin dia membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikirannya.