
Alice mulai menjalani hari-hari nya tanpa Alexander. Dia ikut membantu Ibu Fatimah berjualan. Dia juga berkeliling mencari pekerjaan karena dia sudah bertekad untuk kembali ke negaranya. Tapi sebelum itu, dia ingin menemui Alexander untuk yang terakhir kalinya.
"Hah.. hari pertama yang melelahkan." Alice duduk dan menatap langit yang cerah. Dia tersenyum saat bayang-bayang Alexander muncul dalam bentuk awan di langit.
"Walaupun kau membenciku, tapi aku akan tetap mencintaimu." gumam Alice Dia berdiri dan kembali mencari pekerjaan. Dia tidak mau mengeluh lagi. Rasa sakit karena Alexander tidak mempercayainya menjadi kekuatan tersendiri untuknya menjalani hidup.
Sementara itu, dari pihak Sean. Sam tengah menunggu kesempatan untuk membawa Alice pergi.
Dia mendapat kabar dari Laura jika rencana mereka berhasil, untuk itu dia terus mengawasi rumah Alexander karena dia tahu Alexander tidak mengijinkan Alice untuk keluar dari sana. Tapi sepertinya dia kecolongan.
Dia tidak tahu jika Alice sudah pergi dari sana.
"Aku sangat ingin sekali masuk kesana dan membawa Alice pergi. Tapi semua akan sia-sia. Tidak hanya aku, nyawa Alice pun bisa melayang." Gumam Samuel. Dia masih setia mengintai rumah megah Alexander.
Tapi tiba-tiba, suara dering ponsel membuatnya mengalihkan perhatiannya. Dia melihat nama kontak yang tertera di sana. Terlihat nama Sean yang menghubunginya.
"Ada apa dia menghubungiku?" Sam menggeser tombol hijau keatas dan menempelkan ponsel di telinganya. "Iya tuan."
"Kembalilah!! Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Sean
"Tapi....
"Ini mengenai wanita mu." Sean memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak
__ADS_1
"Alice!!" Sam menggenggam erat ponselnya. Dia menatap sekilas bangunan di depannya dan pergi begitu saja.
Entah apa yang ingin Sean katakan padanya. Tapi jika ini mengenai Alice dia yakin telah terjadi sesuatu pada wanita itu. Dan dia berharap Alice akan baik-baik saja.
...******************...
Di perusahaan AS Corp, Alexander tengah mengadakan meeting dengan dua perusahaan sekaligus. Salah satunya adalah Art Angel Company milik Laura.
Alexander terlihat serius mendengarkan presentasi dari kedua perusahaan tersebut. Tapi Laura justru terlihat tidak tenang.
Sedari tadi dia terus melihat kesana kemari mencari Alice. Dia tahu jika Alexander mengurung Alice di mansion nya. Tapi dia juga ingin tahu kabar dari wanita itu.
Untuk itu, setelah meeting berakhir, Laura memberanikan diri untuk bertanya pada Alexander.
"Baik tuan. Kalau begitu, kami permisi dulu. Senang bekerjasama dengan anda." mereka saling berjabat tangan dan meninggalkan ruang meeting satu persatu. Sedangkan Laura dan asistennya masih di sana.
"Ada apa?" tanya Alexander seolah tahu apa yang dipikirkan Laura.
"Em... Mengenai Alice, kau masih marah padanya? Kenapa dia tidak ikut meeting hati ini?" tanya Laura
Alexander menatap Laura sekilas dan menghela nafas panjang. "Dia sudah pergi."
Deg
__ADS_1
"A_apa kau bilang? Pergi?"
"Iya. Aku sudah melepaskannya." Alexander berdiri dan menatap keluar jendela. "Mungkin juga dia sudah terbang pulang ke negara asalnya." ucapnya lagi.
"K_kau bercanda kan?"
"Aku tidak pernah bercanda, Laura." Alexander menatap Laura dengan tatapan dingin seperti biasanya. "Bukankah ini yang kau ingin?"
Deg
Tiba-tiba seluruh tubuh Laura bergetar. Apa maksud ucapan Alexander? Apa dia mengetahui rencananya? Begitulah kira-kira yang ada di pikiran Laura saat ini.
Tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Mungkin saja Alexander hanya asal bicara. Karena jika dia tahu rencananya, tidak mungkin Alexander melepas Alice begitu saja.
"A_aku tidak tahu apa yang kau katakan, Lex. Tapi aku sangat sedih mendengar kau melepas Alice begitu saja."
"Seharusnya jika kau mencintainya, kau tidak semudah itu melepaskannya. Kau harus mempertahankannya dan memberinya kesempatan jika memang dia bisa memperbaiki kesalahannya."
"kecuali jika kau sudah tidak mencintai." setelah mengatakan hal itu, Laura pamit undur diri. Dia harus mengabari Sean jika Alexander sudah mengusir Alice agar mereka bisa menjalankan rencana selanjutnya.
"Dia sudah pergi. Alexander yang mengusirnya." Laura memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan memasukan kembali ponsel kedalam tasnya. Dia masuk ke mobilnya dan tersenyum senang.
"Aku tidak menyangka, orang yang paling di takuti sepertimu ternyata sangat bodoh, Lex."
__ADS_1
"Sekarang tinggal menunggu waktu untuk menyingkirkan wanita itu selama-lamanya." seringai Laura