
Setelah konferensi pers selesai, Alexander dan Alice kembali ke ruangannya. Sedangkan Aaron mengatur kepergian para wartawan agar tidak ada dari mereka yang menyusup masuk hanya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Ya, itulah pekerjaan Wartawan yang suka menantang maut. Mereka rela membahayakan nyawa mereka hanya demi sebuah informasi.
Tapi Aaron dengan tegas mengusir mereka semua dan mengancam tidak akan segan menarik pelatuk jika sampai ada yang berbuat nekat.
Sementara itu di ruang Presdir, Alexander tampak mengerutkan keningnya melihat Alice yang terlihat cemberut setelah keluar dari aula perusahaan.
"Ada apa? Kenapa kau memperlihatkan wajah jelek mu itu?" ejek Alexander
"A_apa kau bilang? Aku jelek?" Alice menunjuk dirinya sendiri. Sorot matanya menunjukkan kebencian. Tapi hal itu justru membuat Alexander terkekeh karena gemas dengan ekspresi wanita itu.
"Jika kau tersenyum, kau akan terlihat sangat cantik. Tapi jika kau cemberut seperti itu kau terlihat sangat jelek." ejek Alexander
"Aku membencimu, Lex. Hmph.." Alice memalingkan wajahnya kesal.
Alexander tersenyum dan mendekati Alice. Dia menuntun Alice untuk duduk di sofa dengannya. Tidak, bukan duduk di samping nya, tapi duduk di pangkuan Alexander.
"Lex!! A_apa yang kau lakukan?" Alice merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Apalagi Alexander memeluknya dan menyandarkan kepalanya di bahu Alice.
"Lex!!"
"Biar begini sebentar, Alice. Aku sangat lelah." lirih Alexander
__ADS_1
Alice melihat Alexander yang memejamkan matanya. Mungkin apa yang akhir-akhir ini terjadi membuat pria itu lelah. Dia harus bekerja mengurus perusahaan dan juga pekerjaan ilegalnya. Dan sekarang muncul rumor yang membuat pria itu tidak nyaman.
"Jika kau lelah, kita pulang saja." ajak Alice. Tapi Alexander menggelengkan kepalanya. Dia menegakkan kepalanya menatap wajah cantik wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Aku lelah, tapi aku tidak mungkin mengabaikan pekerjaan ku. Banyak karyawan yang harus aku gaji dan pekerjaan ku juga menumpuk." Alexander melihat tumpukan berkas di atas mejanya. Dia menghela nafas panjang dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Alice.
"Boleh aku meminta sesuatu darimu?" pinta Alexander
"Apa?"
"Kekuatan. Aku ingin kau memberiku kekuatan." seru Alexander yang masih setia memejamkan matanya di bahu Alice
"Kekuatan?" tanya Alice yang di jawab anggukan pelan Alexander.
Alexander tersenyum mendengar ucapan Alice. Dia menegakkan kepalanya dan menunjuk bibirnya. "Aku ingin ini." ucapnya santai
Alice melebarkan kedua matanya. Dia segera bangun dari pangkuan Alexander. Tapi sayangnya pria itu justru mengeratkan pelukannya.
"Kenapa, hm? Bukankah kita pernah melakukannya? Walaupun hanya sekali, tapi itu memberiku kekuatan super. Dan sekarang tenagaku melemah karena pekerjaan yang banyak di tambah dengan rumor yang membuatku tidak nyaman."
Alice menelan ludahnya kasar. Mereka memang pernah melakukannya sekali. Dan itu adalah ciuman pertamanya.
Dia akui, dia sendiri menikmati ciuman itu. Sampai-sampai dia terhanyut akan permainan lidah Alexander. Tapi tetap saja, dia malu jika mereka melakukan hal itu lagi.
__ADS_1
Malu? Apa itu artinya dia juga menginginkan nya?
Alice menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak mau terjerumus terlalu dalam dengan permainan ini. Jika dia terus melakukan pendekatan seperti ini, bisa-bisa dia benar-benar jatuh cinta pada Alexander.
"Kenapa? Kau tidak mau?" Alex menatap Alice yang diam saja.
"A_aku...." Alice menggigit bibir bawahnya dan hal itu membuat Alexander tidak lagi bisa menahannya. Pria itu langsung meraup bibir ranum Alice dengan lembut.
Mendapatkan serangan dadakan dari Alexander membuat Alice melebarkan kedua matanya. Dia ingin mendorong Alexander, tapi entah apa yang terjadi padanya, dia justru menutup matanya dan membalas ciuman Alexander.
Diam-diam Alexander tersenyum di sela-sela ciuman mereka. Perlahan tapi pasti, Alexander menuntun tubuh Alice agar berbaring di sofa. Dengan begitu, Alexander akan lebih leluasa menikmati bibir wanita itu.
Tapi sayangnya kegiatan mereka harus terganggu dengan kedatangan seseorang.
"Tuan saya sudah......
Alice membuka matanya lebar dan mendorong tubuh Alexander untuk menyingkir.
Alice segera bangun dan membenarkan bajunya dan mengalihkan pandangannya seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Alexander, dia mendengus kesal dan menatap tajam seseorang yang sudah lancang masuk keruangan nya tanpa mengetuk pintu.
Glek
"AARON!!! Teriak Alexander
__ADS_1
"Ma_maafkan saya tuan!!!" Aaron mengeluarkan jurus langkah seribu untuk menghindari amukan Singa.