
"Jadi Alice sudah pergi?" Tanya Sam terkejut . Dia yang baru saja sampai di rumah Sean dan mendapat kabar jika Alice sudah tidak berada di mansion Alexander.
"Iya. Baru saja Laura menghubungiku dan mengatakan jika Alexander sudah melepas wanita itu." Ujar Sean
Sam mengusap wajahnya kasar. Tentu saja hal itu membuatnya kalang kabut. Dia tidak mau menundanya lagi. Dia harus mencari Alice. Dia takut terjadi sesuatu pada wanita itu. Karena bagaimanapun, mereka adalah orang asing di negara ini. Dia takut Alice akan mengalami hal yang lebih sulit lagi.
"Aku permisi, Tuan. Aku harus mencari Alice secepatnya." Sam pergi begitu saja meninggalkan Sean yang masih terdiam di tempatnya.
"Apa yang akan kita lakukan, Tuan?" Tanya Ghani
"Apalagi? Tentu saja membantu Sam mencari wanita itu. Tapi bukan untuk menyelamatkan, melainkan menjadikan wanita itu senjata untuk menghancurkan Alexander." Seringai Sean
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Samuel mencari Alice kesana kemari dengan menunjukkan foto wanita itu pada orang-orang yang di temuinya. Dia merasa bodoh karena bisa kecolongan. Harusnya sekarang ini, mereka sudah kembali ke negara mereka. Tapi lagi-lagi dia harus kehilangan Alice.
"Aku tidak boleh menyerah. Aku pasti akan menemukan Alice." Gumamnya bermonolog. Dia kembali mencari keberadaan Alice.
__ADS_1
Sementara itu, Sean yang mempunyai banyak koneksi meminta anak buahnya untuk melacak Wanita itu melalui cctv yang ada di jalanan di sekitar mansion Alexander. Tapi sayang, tidak di temukan jejak Alice di sana.
Sean berfikir kira-kira di mana wanita itu berada. Apa Alexander membohonginya? Tapi mendengar cerita dari Laura, sepertinya wanita itu benar-benar sudah pergi.
Tapi Alexander tidak pernah mengijinkan wanita itu untuk keluar dari mansionnya. Itu artinya Alice pasti akan terekam cctv di sekitar mansion Alexander. Tapi kenapa wanita itu tidak ada? Apakah Alexander sudah mengirimkannya pulang ke negara asalnya?
"Bagaimana sekarang tuan?" Tanya Ghani
"Alexander tidak mungkin membiarkan wanita itu kembali ke negaranya. Karena bagaimanapun juga, ini pertama kalinya dia menyukai wanita. Jadi....."
Sean terdiam sejenak. Hingga akhirnya dia menyadari sesuatu. Dia meminta Ghani untuk memeriksa perusahaan Alexander. Karena selain mansionnya, perusahaan adalah tempat kedua yang biasa di datangi Alice.
Ghani dan beberapa anak buah Sean mengotak-atik komputer di depannya. Mereka meretas cctv di dekat perusahaan Alexander.
Dia ingin Ghani memeriksa rekaman cctv tersebut apakah ada rekam jejak wanita itu di sana.
Dan ternyata memang benar. Alice keluar dari perusahaan Alexander beberapa hari yang lalu. Penampilannya terlihat kacau. Tatapan matanya juga kosong.
__ADS_1
Sean yakin, Alexander sudah mencampakkannya hingga wanita itu terlihat sangat menyedihkan.
Baik Sean maupun Ghani terus mengikuti kemanapun Alice melangkah. Sampai wanita itu bertemu dengan seorang wanita tua dan pergi dengannya.
Tapi sayang, wanita itu membawa Alice ketempat yang tidak terjangkau cctv.
"Sial!! kemana mereka pergi?" sentak Sean. Dia memasang baik-baik kedua matanya mencari di setiap sudut tempat yang terekam dalam cctv tersebut.
"Tidak ada cara lain. Kita harus turun langsung untuk mencari wanita itu tuan." seru Ghani
"Yeah. Kau benar." Sean mengumpulkan semua bodyguardnya dan meminta mereka untuk mencari keberadaan Alice.
"Bawa wanita itu kehadapan ku!!! Jika dia memberontak, kalian boleh memakai cara kasar. Tapi ingat!! Jangan sampai mati. Apa kalian mengerti?" terdiam Sean
"Kami mengerti tuan."
"Good. Sekarang kalian boleh pergi."
__ADS_1
Bodyguard membungkuk hormat dan membubarkan diri dan menjalankan perintah dari Sean.
"Sebentar lagi, kehancuran mu akan segera tiba, Alexander." seringai Sean