
Remaja cantik yang bernama Selvia Nindi Aghata, biasanya dia di panggil Via oleh keluarga dan teman-temannya. Saat ini usianya lima belas tahun, usia remaja yang penuh dengan kenangan manis. Kata orang-orang, usia remaja adalah hal yang sangat menyenangkan dan untuk mencari jati diri. Sepertinya pendapat mereka salah besar karena dia tak sebahagia itu, dia selalu merasa kesepian ketika Mami nya pergi bekerja sedangkan sang Papi tak pernah terdengar kabarnya setelah menikah lagi.
Perceraian orang tuanya menorehkan luka di hati ini, namun dia tak bisa berbuat banyak. Saat itu usianya sepuluh tahun dan kakak lelakinya berusia tujuh belas tahun. Kakaknya yang lebih paham atas apa yang terjadi antara kedua orang tuanya.
Ketika Mami bekerja, dia di rumah bersama dengan Kakak nya, Zein Wahyu Aghata. Hanya Kak Zein yang menjadi temannya ketika pulang dari sekolah. Kakaknya ini sangat baik dan perhatian. Ketika perhatian tak didapatkan dari kedua orang tuanya, dengan sikapnya yang dewasa mampu menggantikan posisi kedua orangtuanya untuk mengurus segala kebutuhan sang adik.
Kini setelah ia lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah ke luar kota, mereka harus terpisah dan Via harus mandiri tanpa nya lagi. Zein berjanji akan selalu mengunjungi Via saat akhir pekan maupun saat libur kuliah agar terus bisa melihat kondisi adiknya. Kesepian itu kembali menemani hari-hari Via, tak ada siapa pun yang peduli tentang pergaulan hidupnya.
Jam weker telah berbunyi tapat pukul enam pagi, saatnya Via bangun dan mandi karena hari ini harus pergi ke sekolah. Tahun ajaran baru harus di sambut dengan semangat yang baru. Dia hanya ingin suasana yang lebih baik lagi tanpa ada nya rasa sepi yang selalu mengungkung raganya.
Mandi dan memakai seragam sekolah putih biru dengan rapi. Tanpa sarapan, di langkahkan kakinya meninggalkan rumah yang sangat membosankan dan menuju sekolah. Ini tahun terakhir dirinya bersekolah di SMP favorit di kota Cimahi. Setelah itu dia akan melanjutkan masuk ke SMA.
"Vi, kita sekelas lagi deh kayanya" ucap Dira ketika duduk di bangku koridor sekolah.
"Ya semoga aja Dir, aku malas kalau harus beradaptasi lagi dengan teman baru" jawab Via.
"Nanti kita sebangku atau duduk sendiri-sendiri ya Vi?" tanya Dira.
"Kalau sebangku, kamu harus duduk sama aku ya Dir, tapi kalau masing-masing, kamu harus duduk di belakang ku. Kamu jangan jauh-jauh biar aku ada teman ngobrol nya" pinta Via sambil tertawa.
"Siap bos, sahabat kan harus selalu bersama" jawab Dira sambil mengajak Via untuk kumpul di lapangan sekolah karena akan diadakan pembagian kelas.
Kepala sekolah telah membagikan selebaran kertas kepada ketua kelas tahun ajaran lalu. Semua siswa-siswi berbisik-bisik karena ada perubahan kelas. Mereka lalu di bubarkan dan di suruh masuk ke kelas masing-masing sesuai daftar yang ada.
"Vi, alhamdulillah selama tiga tahun ini kita selalu sekelas ya" ucap Dira bersyukur karena tidak terpisah dengan Via.
"Iya Dir, nanti kalau lulus kita SMA nya juga di sekolah yang sama yuk" usul Via.
"Nanti kita planning, sekarang harus giat belajar aja dulu" jawab Dira.
__ADS_1
"Belajar yang membosankan ketika harus bertemu dengan matematika loh" jelas Via sambil manyun.
"Makanya kalau belajar itu di simak, biar paham Neng" jawab Dira sambil menjitak Via.
"Kan otak aku memang ga nyampe kalau hitung-hitungan tapi kalau hitung uang mah paham" Hehehehe, jawab Via sambil cengengesan.
"kamu memang gitu taunya cuma uang, uang, dan uang doang" jawab Dira sambil geleng-geleng kepala dengan jawaban sahabatnya.
"Eh uang itu memang penting untuk kehidupan, tanpa uang kamu nggak bisa berbuat apa-apa" jelas Via.
"Iya tahu, tapi kan nggak semuanya itu bisa dibeli atau menggunakan uang" sangkal Dira.
"Loh kata siapa, buktinya mamiku lebih memikirkan uang ketimbang aku" jawab Via, matanya mulai berembun menahan gejolak yang ada.
"Udah beb, kamu nggak boleh ngomong gitu. Mami mu melakukan itu semua juga untuk dirimu, untuk memenuhi semua kebutuhan kamu" hibur Dira.
"Kamu nggak ngerti gimana rasanya jadi aku, aku selalu sendiri dan gak ada yang peduli. Mami selalu pergi pagi hari dan pulang yang larut malam. Bahkan, kami jarang sekali untuk sekedar makan bareng atau komunikasi tentang kegiatan sehari-hari" jawab ya sambil meneteskan air mata.
"Makasih ya, Dir. Aku beruntung punya sahabat yang bisa ngertiin kondisi aku dan selalu ada buat aku kapanpun. Semoga kita selalu bersahabat selamanya" ucap Via sambil memeluk Dira.
"Cieeeeeeee, dua bidadari lagi pelukan. Ikutan donk" goda Dirga.
Dirga adalah teman sekelas mereka yang terkenal akan ketampanannya, tapi mereka nggak suka karena dia itu pecicilan serta suka gonta ganti pacar. Umur masih belia aja udah begitu sikapnya, gimana dewasa nya nanti?.
"Apa sih ganggu aja" sungut Via.
"Nggak usah sewot gitu donk cantik" ucap Dirga sambil menjawil dagu Via.
"Nggak usah pegang-pegang ya, jangan kurang ajar jadi cowok" jawab Via sambil menepis tangan Dirga.
__ADS_1
"Uuuhhhhhhh galak banget, udah kek macan aja. Pantesan sampe sekarang jomblo aja, ga ada yang berani deketin" cibir Dirga.
"Enggak apa-apa jutek dan galak daripada harus murahan man kayak mantan mantan kamu" balas Via sengit.
"Mereka itu nggak murahan, kamunya aja yang norak" balas Dirga tak mau kalah.
"Nggak murahan kayak gimana, pacaran setiap saat dan disentuh sama yang bukan muhrimnya. Apa itu yang dimaksud nggak murahan?" cibir Via.
"Kamu itu nggak paham, jadi nggak usah sok tahu deh, Via. sikap kamu itu terlalu norak banget tau" jelas Dirga.
"Kamu yang norak dan menjijikkan, sok-sokan menjadi cowok yang fakboy" sindir Via.
"Susah ya ngomong sama anak kuper kayak kamu, dijelasin juga nggak akan paham paham" jelas Dirga.
"Kamu itu yang kuper, bisanya main cewek doang" sengit Via.
"Udah-udah, kok kalian jadi debat gini sih" ucap Dira yang sejak tadi mendengar perdebatan sahabatnya dengan Dirga.
"Kapan kalian mau akur, setiap ketemu selalu aja saling menyalahkan dan berdebat tanpa ada rasa lelah" lanjut Dira.
"Dia yang mulai" jawab mereka berdua kompak sambil saling menunjuk.
"Bisa nggak sih sehari aja kalian damai?" tanya Dira sambil memandang keduanya.
"Tanya aja sama Via, dia selalu aja menyalahkan ku" jawab Dirga.
"Eeehhh kok aku, kamu tuh yang ga pernah sopan dan selalu memojokkan aku" sengit Via lagi.
"Cape deeeeeehh, kalau gini Mulu kapan damai nya?" tanya Dira sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
Keduanya saling diam hingga Dira menarik lengan Via menuju kelas, agar perdebatan sahabatnya itu tidak berlanjut.