Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Psikis Siswa


__ADS_3

Hujan mengguyur kota Cimahi, bau khas tanah yang kering di siram oleh air hujan menyengat ke Indra penciuman. Terasa begitu menyejukkan jiwa dengan pemandangan yang terhalang oleh titik air hujan. Tumbuhan pun basah oleh derasnya hujan. Hamparan pemakaman di guyur oleh derasnya hujan, meskipun bahas namun di bawah gundukan tanah yang baru terdapat satu makam yang justru mengalami kejadian yang janggal. Tanah bolong di bagian pinggir nisan, muncul asap yang mengepul serta percikan api yang keluar dari makam tersebut.


"Kalian mau kakak antar pulang ke mana?" tanya Zein kepada teman-teman Via.


"Boleh nginep nggak Kak?" tanya Bunga pada Zein.


"Boleh, asal kalian izin dulu ke orang tua kalian" jawab Zein.


"Iya Kak, nanti kita izin" balas Novi.


"Aku juga boleh nginep kan Kak?" tanya Dirga.


"Boleh kok" jawab Zein sambil tersenyum.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menerobos deras nya hujan menuju ke rumah Zein karena semua teman-teman adiknya tidak mau di antar pulang ke rumah masing-masing. Sekitar sejam perjalanan menuju kediaman keluarga Via, mobil memasuki pekarangan rumah yang mewah di mana tempat tinggal Via.


"Ayo turun, jangan lupa bawa barang-barang kalian" perintah Zein kepada teman-teman Via.


"Iya Kak" jawab mereka kompak.


"Kakak gendong ya, atau bisa jalan sendiri?" tanya Zein kepada Via.


"Bisa sendiri kok, Kak" jawab Via.


"Ya udah kakak bukakan pintu mobil ya"


"Makasih Kak"


Saat Via keluar dari mobil dan mencoba berjalan ternyata tidak bisa karena sakit di bagian kakinya.


"Awwwww" pekik Via.


"Tuh kan, sini kakak gendong aja" pinta Zein.


Zein menggendong adik kesayangannya untuk masuk ke dalam rumah dan menurunkan Via di sofa ruang tengah.


"Lho Den, kok Non Via di gendong?" tanya Mbok Asih.


"Ini Mbok, kaki nya Via terluka" jawab Zein.


"Ya ampun, kok bisa terluka dan menghitam gini Non?" tanya Mbok Asih ke Via shock.


"Ceritanya panjang Mbok, Mbok tolong siapkan makan malam serta kamar tamu untuk teman-teman Via ya" pinta Zein.


"Iya Den" jawab Mbok Asih sambil berlalu.


"Duh itu lukanya menghitam dan kulit jadi mengelupas gitu ya" ucap Bunga ketika melihat kaki kiri Via.

__ADS_1


"Mungkin Via tanpa sengaja menginjak tempat makhluk halus berada" Dirga berargumen.


"Bisa jadi, tapi kan kita semua melewati jalan yang sama dengan Via. Harusnya kalau mau celaka itu Pak Sigit karena beliau yang duluan lewat jalan itu" jawab Novi.


"Entahlah, sekarang kita obati dulu. Panggil dokter saja ke rumah karena kalau keluar udah terlalu cape hari ini" ucap Zein.


"Silahkan minum dulu" ucap Mbok Asih sambil melekatkan minuman dan cemilan.


"Mbok, apa Mami sudah pulang?" tanya Zein.


"Oh iya Mbok lupa Den, Nyonya tadi pesan kalau akan menginap di luar kota beberapa hari karena ada tugas dari kantor" jawab Mbok Asih.


"Ya, terimakasih Mbok. Saya mau mandi dulu, nanti kalau Dokter Arya datang tolong suruh cek luka nya Via ya, Mbok" pesan Zein sambil pergi ke atas.


"Nggih Den" jawab Mbok Asih.


"Non, kok luka nya bisa menghitam gini. Apa yang terjadi?" tanya Mbok Asih merasa heran dengan luka yang ada di kaki kiri Via.


Via menceritakan semua kejadian di pemakaman tersebut, bahkan saat ada tangan yang mencengkram dengan kuat namun tak terlihat itu sangat menyakitkan. Terasa seperti kuku-kuku yang menancap di daging hingga menusuk ke dalam tulang. Semua yang mendengar bergidik ngeri karena ini sangat aneh.


"Berarti ini bukan luka biasa Non, ada makhluk ghaib yang berusaha melukai Non Via" gumam Mbok Asih.


"Ga tau Mbok, tiba-tiba aja kaki Via tersandung dan jatuh tersungkur di pemakaman itu. Saat Ka Zein bantu untuk berdiri malah rasa kayak di tarik oleh tangan. Semakin Ka Zein coba untuk narik, semakin kuat cengkraman tangan itu sampai kaki kiri Via mengeluarkan darah dan menghitam" jawab Via sambil menangis.


"Pasti penunggu pemakaman itu" jawab Novi.


"Silahkan masuk, Dok" pinta Mbok Asih setelah membukakan pintu dan melihat Dokter Arya, Dokter Keluarga Via.


"Siapa yang sakit Mbok?" tanya Dokter Arya.


"Non Via, Dok" jawab Mbok Asih.


"Via sakit apa?" tanya Dokter Arya ketika sampai di ruang tengah, tempat Via dan teman-temannya duduk.


"Ini Dok, terluka" jawab Via sambil menunjuk kaki kirinya.


"Kok bisa luka nya seperti ini?" tanya Dokter Arya kebingungan.


Via langsung menceritakan semuanya secara detail ke Dokter Arya.


"Saya coba kasih obat dan salep ya, semoga saja bisa lekas pulih" ucap Dokter Arya sambil mengeluarkan peralatannya dari tas.


"Sore Dok, bagaimana dengan kondisi Via. Apakah lukanya berbahaya?" tanya Zein ketika keluar dari kamar menuju ke ruang tengah.


"Luka nya cukup dalam akibat kuku dan bengkak akibat infeksi. Saya sudah menyuntikkan cairan anti tetanus serta beberapa obat penghilang nyeri dan pengering luka karena luka nya cukup parah. Selain itu tolong kalian pergi ke Ustadz atau Kiayi untuk bertanya mengenai kejadian ini, buat jaga-jaga saja. Berurusan dengan makhluk ghaib itu sulit, kejadian ini di luar logika namun nyata adanya" pesan Dokter Arya.


"Terimakasih Dok, nanti kami akan mencari ustadz yang bisa membantu menangani kasus ini" jawab Zein.

__ADS_1


"Iya, saya permisi dulu ya" pinta Dokter Arya.


"Baiklah, sekali lagi terimakasih Dok" jawab Zein.


"Semoga lekas pulih, perbanyak istirahat serta jangan lupa minum obat dan mengganti perban lukanya" ucap Dokter Arya kepada Via sambil berlalu.


"Iya, terimakasih Dok" jawab Via sambil tersenyum.


Dokter Arya pulang di antar oleh Zein sampai pintu utama.


"Duh kok jadi ngeri gini ya" ucap Novi sambil bergidik.


"Dokter Arya benar Non, hal mistis kaya gini jangan di diamkan karena bahaya, bisa mengancam nyawa" ucap Mbok Asih.


"Mbok ngomong apa sih, Via itu baik-baik saja. Nanti juga sembuh luka nya" ucap Zein ketika masuk ke ruang tengah lagi setelah mengantarkan Dokter Arya.


Dalam hati Zein juga tidak yakin apakah adik semata wayang nya akan baik-baik saja. Hanya butuh waktu agar luka Via segera mengering, obat-obatan yang di berikan oleh Dokter Arya juga obat terbaik jadi tidak perlu risau.


"Mbok hanya mengingatkan Den, Mbok takut terjadi hal buruk sama Non Via" ucap Mbok Asih.


"Mbok berpikir positif aja, insyaallah semuanya pasti baik-baik saja kok" hibur Zein agar Mbok Asih tenang.


"Iya Den" jawab Mbok Asih.


"Kalian istirahat saja di kamar tamu, Bunga dan Novi di kamar tamu sedangkan Dirga istirahat di kamar saya di atas. Saya mau nganterin Via ke kamarnya dulu" perintah Zein.


"Baik Kak" jawab mereka serentak.


"Oh ya, kalian jangan lupa izin ke orang tua kalian agar mereka tidak khawatir. Setelah itu mandi dan kumpul di ruang makan untuk makan malam" pesan Zein.


"Iya Kak" jawab mereka sambil berlalu menuju kamar tamu.


Kaki Via masih belum bisa menapak lantai jadi untuk ke kamar nya harus di gendong oleh Zein. Via melingkarkan tangannya di leher Zein, Zein menggendong belakang adik semata wayang yang selalu ia sayangi dan manjakan.


"Ternyata kamu sekarang berat banget ya, Dek" ucap Zein ketika menaiki tangga menuju kamar tidur Via.


"Oh kakak ini, Via nggak gendut tau" jawab Via sambil memukul punggung Zein.


"Bukan Kakak lho yang bilang gendut, tapi kamu sendiri" balas Zein sambil tertawa.


"Tadi kakak bilang kalau aku berat banget" rajuk Via.


"Ya memang faktanya gitu, kamu semakin berat berarti kamu bukan anak kecil lagi" ucap Zein.


"Usia 15 tahun kan memang bukan anak kecil Kak".


"Ya, ga kerasa adik semata wayang kakak ini udah tumbuh jadi remaja. Semoga bisa jadi anak yang baik, mandiri dan tentunya berfikir dewasa. Untuk menjadi dewasa itu tidak harus tua usianya tapi pola pikir nya lah yang mendewasa" pesan Zein sambil mencubit pipi gembul nya Via ketika menurunkan Via di kasur.

__ADS_1


"Siap Komandan" jawab Via sambil hormat, lalu keduanya tertawa bersama.


__ADS_2