Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Perpustakaan Malam Hari


__ADS_3

Sesuai jadwal yang telah ditetapkan, selepas shalat Maghrib berjamaah akan diadakan doa bersama. Semuanya berkumpul di lapangan yang untuk doa bersama, doa di pimpin oleh Pak Dayat sebagai guru agama.


"Yuk kita berdoa juga untuk misi kita malam ini" ucap Catur kepada teman-temannya.


"Kamu yang pimpin Bro" ucap Dirga.


Catur memimpin doa untuk keselamatan saat mencari data di perpustakaan. Tindakan mereka memang sangat berbahaya, karena akan membongkar rahasia pembunuhan di sekolah mereka. Tentu tidak mudah untuk mengumpulkan bukti-bukti yang akurat, agar bisa mendapatkan pelakunya.


"Via, Dira, apa kalian siap untuk misi ini?" tanya Catur.


"Siap" jawab Dira dan Via tegas.


"Kita harus berhati-hati, CCTV di koridor menuju ke perpustakaan itu sudah dimatikan oleh pihak sekolah dengan alasan rusak" jelas Dirga.


"Bagus, kita berpisah disini. Kalian berempat silahkan ikuti pengajian di lapangan. Dirga, kau harus tetap siaga melihat ke arah koridor menuju perpustakaan. Jika ada hal yang mencurigakan, langsung kirim SMS kepadaku" pesan Catur kepada Dirga.


"Siap komandan" jawab Dirga sambil hormat, hal itu membuat teman-temannya tertawa.


"Kalian rileks aja ya, jangan gugup. Aku yakin kalian pasti bisa" ucap Bunga memberi semangat.


"Bismillahirrahmanirrahim, kami pergi dulu" ucap Catur sambil melangkahkan kakinya menuju perpustakaan bersama dengan Dira dan Via sang kekasih.


Dirga menatap nanar kepergian ketiga temannya, ada rasa takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan kepada temannya. Bahaya memang jika berurusan dengan hal-hal gaib.


"Yuk bergabung ke lapangan untuk doa bersama" ajak Bunga.


Dirga, Bunga, Novi dan Riki pergi ke lapangan untuk doa bersama. Riki tidak mengetahui jika ketiga temannya pergi ke perpustakaan sekolah, karena dirinya tidak bergabung untuk mencari misi pencarian data siswi misterius.


"Dir, tolong jaga pintu depan. Takutnya ada yang masuk, karena aku akan membuka pintu dengan kunci cadangan" perintah Catur pelan.


Setelah pintu terbuka, ketiganya melangkah masuk dengan pelan-pelan. Pintu kembali ditutup agar tidak ada yang mencurigai keberadaan mereka.


"Kita bagi tugas, periksa setiap rak nya. Temukan data angkatan kelulusan 2005" perintah Dira.


"Baik" ucap Catur dan Via.


Dira memang tau jika siswi misterius itu lulus di tahun 2005, saat itu Pak Anggi lah yang memberi tahunya. Dengan bermodalkan senter kecil yang ada di korek api, mereka mencari data-data siswa. Sengaja menggunakan senter kecil agar ruangan tetap gelap tak bercahaya.


Sejam berlalu, namun apa yang mereka cari belum juga ditemukan. Ada rasa lelah dan putus asa, akankah pencarian itu berhasil.


"Udah ada tanda-tanda belum?" tanya Catur ke Dira yang tak jauh darinya.


"Belum nih, udah pegel buka-buka semua map dan baca satu-satu di rak" keluh Dira.


"Sama, kalau Via nemu belum ya" gumam Catur.

__ADS_1


"Yuk samperin Via" ajak Dira.


Via sedang fokus melihat tumpukan album foto, dengan telaten dia membuka album satu persatu.


"Vi, apa udah nemu?" tanya Dira ketika menghampiri Via.


"Belum nih, kalian gimana" Via balik bertanya.


"Belum juga, nggak nemu jejak sedikitpun tentang angkatan kelulusan tiga tahun yang lalu" keluh Dira.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Via.


"Kalau kita nyerah, kita nggak dapat apa-apa dan pastinya mengecewakan mereka" ucap Catur.


"Gimana kalau kita coba satu jam lagi, kalau memang masih belum membuahkan hasil, kita keluar dari ruangan ini. Bahaya juga kalau lama-lama di sini, tentunya akan ada yang curiga" ucap Dira.


"Baiklah" jawab Catur dan Via bersamaan.


"Tebal sekali album foto ini" gumam Catur ketika melihat album berwarna merah hati.


"Album kelulusan siswa SMP N NUSA BANGSA" Via mengeja halaman pertama album yang di pegang oleh Catur.


"Guys, aku nemu data-datanya" teriak Dira kegirangan.


"Huuuusss, pelan-pelan. Nanti kalau ada yang dengan gimana" ucap Via kepada Dira.


"Ini data siswa yang lulus di tahun 2005, mereka angkatan siswa tahun 2002/2003" ucap Dira sambil menyerahkan map yang berisi data-data siswa kepada Via.


Via menerima map yang di ulurkan oleh Dira. Dua langsung membuka dan mencari data kelulusan tahun 2005.


"Ini dia, aku ketemu datanya" ucap Via tersenyum.


Nama: Anita Antasari


TTL: Cimahi, 25 September 1990


Alamat: Jl. Raya Cimahi, Kel.Citeurup, Kec.Cimahi Utara.


Kelas: IX B


Angkatan: 2001/2002


Nama Ayah: Wiranto


Nama Ibu: Mawar Sari

__ADS_1


"Alamat ini nggak jauh dari sekolah kita" ucap Via.


"Iya, aku akan mencatat alamatnya. Kita harus bisa menemui orang tuanya" jawab Catur.


"Ini fotonya" gumam Via sambil mengusap foto seorang siswi berambut sebahu yang berlesung pipi di sebelah kirinya.


"Dia cantik" puji Dira.


Seketika pandangan Via menggelap dan tak sadarkan diri. Dia kembali memasuki dimensi lain. Di hadapannya kini tersaji pemandangan yang sama dengan pembunuhan Haris. Semua terjadi sama persis, pembunuhan dengan kekerasan yang biadab.


"Kenapa harus aku yang menyaksikan semua ini" gumam Via sambil berlinang air mata.


Dua orang pria yang memakai jubah hitam langsung masuk ke ruang kepala sekolah. Entah kenapa, Via merasa penasaran dengan identitas mereka sehingga memutuskan untuk mengikuti keduanya.


Via langsung masuk ke ruangan kepala sekolah, tanpa harus membuka pintu.


"Wah, aku bisa masuk ke ruangan dengan cara menembus pintu tanpa rasa sedikit pun" gumam Via takjub.


"Hallo, saya minta jenazah yang di kirim ke rumah sakit Y atas nama Anita Antasari di tukar dengan jenazah tanpa keluarga" ucap pria berjubah hitam di telepon.


Via tidak dapat mendengar jawaban orang yang di telepon.


"Seperti biasa, alasan kalian adalah telah mengurus pemandian dan pengkafanan agar pihak keluarganya tidak curiga dan berusaha membuka kain kafan. Sekalian shalat jenazah di rumah sakit saja. Mereka tinggal menyiapkan pemakaman di TPU tempat biasa" ucap pria berjubah hitam lagi.


"Oke, segera bereskan. Nanti saya bayar seperti biasa. Dokter Dimas tunggu saja sore ini kami transfer uangnya" ucap pria berjubah hitam, lalu mengakhiri panggilan dan memasukkan ponsel ke sakunya.


Via tertegun, berusaha mencerna apa yang telah di dengarnya. Beberapa menit kemudian, dia telah berada di kamar mayat.


"Lho, kenapa aku ada di kamar mayat" ucap Via sambil bergidik.


Suasana mencekam, mayat berjejer dengan rapi di pembaringan. Ada rasa takut, namun Via penasaran mengapa dirinya justru berada di kamar mayat.


"Seperti biasa, kalian berdua harus menukar jenazah yang korban dari sekolah SMP N NUSA BANGSA dengan jenazah korban kecelakaan yang belum diketahui keluarganya bulan lalu" ucap seorang dokter laki-laki kepada dua dokter di hadapannya.


"Baik, Dok" jawab mereka serempak.


Keduanya dengan cekatan membungkus jenazah yang telah di awetkan sebelumnya.


"Jenazah korban dari sekolah itu kalian keluarkan dari sini menuju mobil pribadi, hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai ada yang mencurigai perbuatan kalian" pesan Dokter itu kemudian.


Setelah selesai, mereka membungkus jenazah Anita dengan bag yang telah disediakan. Keduanya dengan susah payah membopong jenazah dan membawanya keluar ruangan.


Perbuatan keduanya tanpa ada yang curiga, hingga memasukkan jenazah tersebut kedalam mobil. Via masuk kedalam mobil tanpa mereka ketahui.


"Aku bisa melihat mereka, tapi mereka nggak melihat keberadaan ku" gumam Via.

__ADS_1


"Kok mobil ini memasuki sekolahku?" gumam Via lagi ketika mobil memasuki halaman sekolahnya.


Terlihat dua orang dokter keluar dari mobil untuk menurunkan jenazah Anita. Mereka menggotongnya menuju ke arah gudang, di depan gudang telah berdiri dua orang pria yang memakai jubah hitam lengkap dengan penutup wajah.


__ADS_2