
Terik matahari mulai menyengat, di dalam tenda juga terasa sangat panas. Tidak ada AC maupun kipas angin untuk meminimalisir hawa panas.
Semilir angin menerpa permukaan kulit, menimbulkan rasa kantuk. Menggoyangkan dedaunan serta mampu mengibaskan rambut panjang milik seorang remaja yang memakai atribut Pramuka.
Sekembalinya dari mencuci piring di kamar mandi belakang kelas, tidak ada canda tawa ataupun obrolan. Hanya ada wajah murung dan kebingungan yang di tampilkan oleh Via.
"Via kenapa ya, kayak ada yang di sembunyikan dari kita?" tanya Bunga kepada teman-temannya.
"Nggak tau deh, aku perhatikan setelah kembali dari mencuci piring dia jadi murung" gumam Dira.
"Sebaiknya kita tanya aja langsung" ajak Dirga sambil menarik tangan Bunga dan Dira.
"Bro, kita samperin pacarmu yuk" ajak Dirga kepada Catur.
"Baiklah, aku akan mengambil jaket sebentar" jawab Catur langsung masuk ke tenda.
Via sedang duduk di samping kelas yang menghadap ke arah lapangan bola voli. Tepatnya di belakang tenda mereka, jaraknya kira-kira sekitar lima puluh meteran. Bunga dan yang lainnya berjalan menuju ke arah Via, Via pun tak menyadari kehadiran lima temannya karena keasyikan melamun.
"Jangan kebanyakan melamun, nanti kesambet lho" ucap Bunga sambil menepuk pundaknya.
"Eh kalian ini ngagetin aku aja" ucap Via kaget.
"Kamu ngelamunin apa, Sayang?" tanya Catur pelan sambil duduk di samping sang kekasih.
"Aku nggak ngelamunin apapun kok" jawab Via dingin tanpa melihat ke arah Catur.
"Bukannya dalam sebuah hubungan itu didasari oleh kejujuran dan saling terbuka. Apa kamu gak mau jujur dan terbuka sama aku?" tanya Catur memegang pundak Via dan mengarahkan tubuhnya ke hadapannya.
"Aku nggak bohong kok" Via mencoba untuk menutupi pikirannya tentang sesajen itu.
"Mulut kamu boleh berbohong, tapi sorot mata kamu menampilkan ekspresi yang lain. Aku bisa melihat jika kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku" ucap Catur sambil menatap dalam kedua netra Via.
"Memang ada yang sedang aku pikirkan, tapi aku nggak tahu apakah ini ada hubungannya dengan misteri kematian Haris atau tidak" jawab Via.
__ADS_1
"Kami akan mendengarnya, cobalah ceritakan" pinta Catur.
"Saat aku dan Novi pergi mencuci piring, aku melihat anak kelas IX C sedang memetik jagung. Aku berniat untuk membantu mereka. Aku pergi meninggalkan Novi mencuci piring sendirian dan berjalan ke arah kebun jagung milik kelas IX C. Di sana aku izin kepada Adi, dia pun tidak keberatan jika aku bergabung bersama mereka" ucap Via sambil menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan ceritanya.
"Awalnya nggak ada yang aneh, semua normal. Aku bersemangat sekali memetik satu persatu jagung dan memasukkan ke keranjang. Kini tinggal jagung yang paling ujung berung dipetik, aku terus berjalan sambil memetik jagung hingga ke ujung. Di ujung perbatasan dengan kebun warga yang ada pohon mangga nya, aku terdiam sambil terus mengamati pohon mangga tersebut. Tidak lama tercium bau kemenyan, semakin aku mendekati pohon mangga maka baunya semakin semerbak. Ku beranikan diri untuk terus berjalan mendekati pohon mangga, aku terkejutkarena dibalik pohon mangga terdapat sesajen yang masih ada asap nya. Sepertinya beberapa jam sebelum aku menghampiri pohon mangga itu, ada orang yang menaruh sesajen di situ. Aku nggak tahu siapa dan apa tujuan orang itu menaruh sesajen. Apa kalian tau?" tanya Via di akhir cerita.
"Aku justru baru tau jika di sana terdapat sesajen" jawab Dira.
Hening sejenak, semua hanyut dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara jangkrik dan kicauan burung. Udara yang cukup sejuk mampu membuat mereka nyaman serta berfikir dengan jernih.
"Aku ada ide" ucap Catur.
"Apa?" tanya Bunga dan Novi bersamaan.
"Kita ke pohon mangga itu untuk melihat sesajen apa yang ada di sana. Nanti, aku akan memotretnya dan mengirimkan ke Kakekku untuk di lihat. Siapa tau, Kakek bisa bantu kita" jelas Catur.
"Ayo, kita segera kesana karena udah nggak punya waktu yang banyak lagi" ajak Dira bersemangat.
Mereka langsung pergi terburu-buru ke kebun belakang sekolah untuk melihat sesajen. Tidak ada halangan apapun, karena semua orang sibuk dengan kegiatan perkemahan.
"Bukan di situ, tapi dibaliknya" ucap Via sambil menunjuk ke belakang pohon mangga.
Tempat sesajen itu memang tidak terlihat karena tempatnya yang tersembunyi, terhalangi oleh besarnya pohon mangga.
"Wow, sesajen yang aneh. Semua serba hitam dan komplit sekali" gumam Dira.
Catur langsung mengeluarkan ponselnya dan memotret beberapa bagian dari sesajen itu. Setelah dirasa cukup, dia langsung mengirimkan foto-foto itu kepada Neneknya untuk diperlihatkan kepada sang Kakek.
"Aku sudah memfotonya dan mengirimkan ke Kakekku" ucap Catur sambil memasukkan ponsel ke saku jaketnya.
Via mendekati wadah yang berbentuk seperti mangkuk yang terbuat dari tanah liat, di dalamnya terdapat cairan kental berwarna merah kehitaman yang telah mengering. Dia penasaran sekali sehingga mencoba untuk menyentuhnya. Namun, ketika dia berhasil menyentuh mangkuk tersebut, pandangannya menjadi gelap dan terduduk.
Kepalanya terasa berat dan pusing, namun ketika membuka matanya, dia terkejut karena tidak melihat sang kekasih dan teman-temannya. Via berusaha mengingat, bahwa dia memang beberapa waktu yang lalu masih berada di bawah pohon mangga dan sedang melihat sesajen.
__ADS_1
"Kenapa aku berada di lantai dua, harusnya kan di kebun belakang" gumam Via.
Via masih terdiam ditempatnya, dia belum paham dengan yang sedang dialaminya. Entah bagaimana dia bisa di lantai dua, tepat di dekat tangga paling pojok. Saat sedang melamun, terdengar suara ribut-ribut dari dalam kelas dekat tangga. Rasa penasaran menuntunnya untuk melihat yang terjadi didalam kelas tersebut.
Via berjalan dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara. Dia mengintip dari jendela yang gordennya terbuka, sehingga bisa melihat dengan jelas isi kelas.
Di dalam kelas terdapat seorang siswa laki-laki yang diikat di kursi, di depannya terdapat dua orang pria memakai jubah hitam dan wajahnya ditutupi oleh kain berwarna hitam.
"Siapa kalian?" teriak siswa yang diikat.
"Kami orang yang akan melenyapkan kamu" ucap pria berjubah hitam.
"Aku salah apa?" tanyanya lagi.
"Karena kamu bodoh dan telah memalukan pihak sekolah" jelas pria berjubah hitam sambil tertawa.
"Aku nggak bodoh, aku juga nggak pernah memalukan pihak sekolah" sangkal siswa itu.
"Apakah dengan tidak lulus sekolah itu bukan hal yang bodoh dan memalukan pihak sekolah" ucap pria berjubah hitam sambil menjembrengkan kertas kehadapan siswa itu.
"Kalaupun aku nggak lulus, kalian ga berhak untuk memperlakukan aku seperti ini" ucapnya lagi dengan nada emosi.
Melihat siswa itu emosi, maka si pria berjubah hitam memukul tepat di bagian perutnya.
"Buuukkkk".
Satu pukulan mendarat tepat di bagian perutnya, darah segar mengalir dari mulutnya akibat pukulan yang begitu kuat. Hanya suara rintihan dan erangan yang terdengar menyayat hati.
"Itu jelas sekali Haris, tapi kan Haris telah meninggal. Apa aku berada di dimensi lain yang menghubungkan dengan kejadian penyiksaan Haris, atau aku sedang menyaksikan Haris yang di siksa oleh malaikat?" Via hanya bertanya di dalam hati.
"Sebelum kami melenyapkannya mu, maka kami akan menyiksamu terlebih dahulu. Ayo kita nikmati permainan ini" ucap si pria berjubah hitam dengan seringai yang tajam.
Salah satu diantara mereka ada yang memegang pisau, yang satunya memegang balok. Beberapa kali balok di pukulkan ke beberapa bagian tubuh Haris, dia hanya mampu berteriak dan merintih menahan sakit di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Satu pukulan mendarat di kepala bagian depan, pria itu memukul menggunakan balok hingga dia pingsan.