Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Teror Pocong


__ADS_3

Via mengerjap-ngerjapkan matanya, kepalanya begitu pusing akibat rasa shock melihat pocong.


"Alhamdulillah, kamu udah siuman, Dek" ucap Zein.


Via masih saja terdiam sambil melirik ke arah jendela kamarnya dan bergidik ngeri.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Zein karena melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Via.


"Tadi aku melihatnya di sana, Kak" ucap Via sambil berbisik.


"Siapa?" tanya Zein bingung.


"Jumping Candy, Kak" bisik Via kembali.


"Candy anaknya Tante Intan yang sexi itu?" tanya Zein.


"Iya, Kak. Saking sexi nya sampai aku pingsan" ucap Via menahan tawa.


"Horor kalau ketemu si Candy, ngeri ga kuat iman lihat bentuk tubuhnya" ucap Zein serius.


"Ya, Jumping Candy memang horor, Kak" jawab Via masih menahan tawa.


"Namanya Candy Anastasya, kok ada Jumping nya?" tanya Zein sambil mengernyitkan dahi karena dari tadi Via menyebut Jumping Candy terus.


"Candy Anastasya sih memang anak Tante Intan yang cantik dan sexi, tapi ini Jumping Candy beda tau" jelas Via sambil tertawa terbahak-bahak.


"Waras?" tanya Zein sambil menyentuh dahi Via menggunakan tangan kanannya.


"Tentu dong" jawab Via masih tertawa.


"Jadi Jumping Candy itu siapa?" ulang Zein.


"Jumping Candy itu si Mr. Pose Kak" jawab Via.


"Apa juga Mr. Pose itu?" tanya Zein semakin bingung.


"Masa ga tau sih" jawab Via kesal.


"Ya mana Kakak tau, kamu itu berbelit dari tadi. Saat baru siuman malah aneh, lirik sana sini sambil bergidik kayak lihat hantu, ketakutan gitu. Sekarang, kamu malah ketawa-ketawa karena Jumping Candy, tapi di tanya siapa si Jumping Candy malah jawab Mr. Pose. Kakak mana itu itu apaan si Mr. Pose. Yang suka bergaya di depan kamera kah?" ucap Zein sebal karena Via bertele-tele.


"Pocong, Kak. Menurut Dirga kan Pocong jelek terus ada readers yang ngasih nama Jumping Candy, katanya harus di kasih nama lain biar ga terlalu takut. Keren kan namanya si pocong jadi Jumping Candy, biar kebarat-baratan gitu, meskipun wajahnya ga sedap dipandang" jelas Via sambil terkekeh.


"Oh begitu, ada-ada saja ya. Lalu apa hubungannya antara Jumping Candy sama Mr. Pose?" tanya Zein lagi.


"Berhubung si readers protes untuk kata pocong di ganti dengan nama lain, makanya aku kasih nama Mr. Pose" jelas Via tersenyum.

__ADS_1


"Apa arti dari Mr. Pose?" tanya Zein lagi karena masih belum paham.


"Mr. Pose itu artinya Pocong Serem. Di kasih Mr karena si pocong kan laki-laki, Kak. Kalau Pocong itu perempuan maka namanya Mrs. Pose" jelas Via sambil tertawa.


"Oh Tuhan, kamu ini ada-ada saja" ucap Zein sambil menepuk jidatnya.


Jadi karena permintaan seorang readers untuk memberi nama pocong tersebut, maka mulai kini Via akan menyebutnya Mr. Pose.


"Eh, tadi mimpi apaan sih?" tanya Zein ketika menghentikan tawa nya akibat kelucuan sang adik.


"Mimpi buruk, buruk banget deh pokoknya, Kak" ucap Via dengan wajah sendu nya.


"Burukan mana dengan Mr. Pose?" goda Zein.


"Sama persis, keduanya sangat buruk" jawab Via cepat.


"Makanya kalau tidur jangan menjelang Maghrib, pamali tau kata orang-orang zaman dahulu" jelas Zein.


"Tadi juga nggak sengaja ketiduran" jawab Via tak mau kalah.


"Ada aja jawabnya" ucap Zein kesal.


"Maaf Den, Non, makanan nya udah siap" ucap Mbok Asih ketika masuk ke kamar dan menghampiri keduanya ketika asyik ngobrol.


"Non, makanan nya mau Mbok ambilkan atau langsung makan di bawah?" tanya Mbok Asih.


"Aku makan di bawah aja Mbok, biar bisa barengan" jawab Via.


"Mbok bantu untuk turun ya" pinta Mbok Asih.


"Gak usah Mbok, Via berat. Mbok ke bawah aja duluan" perintah Zein.


"Ih Kakak apaan sih, aku nggak berat tau" sungut Via.


"Yuk turun ke bawah, kita makan malam bareng" ajak Zein.


"Mami kapan pulang, Kak?" tanya Via yang membuat Zein mengurungkan niatnya untuk keluar kamar dan memilih kembali duduk.


"Belum tau, besok sore juga Kakak akan kembali ke Jakarta untuk kuliah" ucap Zein.


"Kita terakhir makan malam bareng sama Mami beberapa tahun lalu ya" ucap Via mengenang masa kecilnya.


"Udah ah, Mami kan sibuk" hibur Zein.


"Via kangen kayak dulu lagi, ga perlu tiap hari, minimal sebulan sekali aja Mami bisa luangkan waktunya untuk kita, Kak. Tapi, hal itu pasti langka banget karena uang telah merampas Mami dari sisi kita" ucap Via sambil berkaca-kaca matanya.

__ADS_1


"Kok jadi cengeng gini?" tanya Zein karena sesungguhnya ia pun merindukan sang Ibu.


"Sebentar lagi ulang tahun ku, Kak" lirih Via.


"Iya paham, nanti kita rayakan bersama. Kakak akan buatkan party kecil lagi kok" janji Zein. Zein selalu memberikan hadiah dan kejutan di hari ulang tahun Adik semata wayangnya, hanya ia yang selalu ada karena waktu sang Mami sangat minim di keluarga. Karir dan uang benar-benar berhasil memisahkan hubungan antara mereka bertiga.


"Makasih, Kak. Kakak selalu bikin aku senang. Semoga Kakak selalu ada di sisi aku selamanya dan nggak akan pernah pergi ninggalin aku" ucap Via sambil memeluk sang Kakak.


"Iya, Kakak akan melakukan apapun asal bidadari di hati Kakak ini bahagia" jawab Zein sambil mengencangkan pelukannya.


Kruuuukkkk.... Kruuuukkkk... Kruuuukkkk...


"Suara orgenan di mana itu?" tanya Zein melepaskan pelukannya.


"Cacing aku demo, Kak" jawab Via sambil nyengir.


"Huuuuhhh dasar, ayo kita makan. Mbok Asih pasti udah nungguin kita" ajak Zein.


"Oke, gendong ya turun nya" rengek Via seperti anak kecil.


"Baiklah tuan Putri" jawab Zein sambil bersiap menggendong adiknya.


Mereka makan malam bertiga, meskipun Mbok Asih seorang ART, namun tidak ada sekat bagi mereka. Mereka sudah seperti keluarga karena Mbok Asih telah bertahun-tahun merawat serta menjaga keduanya seperti anak sendiri.


Tidak ada obrolan apapun saat makan malam, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu di piring.


Jam menunjukkan pukul dua belas malam, Via yang kini tidur merasa ada yang sedang memperhatikan dirinya yang sedang terlelap. Seketika, matanya terbuka dan terjaga dari lelap tidur nya.


"Toooolllllloooooooooong"


Masih dengan suara yang sama, Via menajamkan pendengarannya, khawatir jika salah dengar. Suara itu benar-benar jelas, berulang kali dengan sangat menyayat hati.


Bau kemenyan serta bunga melati kembali tercium di Indra penciuman nya. Keringat mulai membasahi tubuh nya, badan nya terasa kaku serta suara tercekat di tenggorokan sehingga ia tidak dapat melakukan apa-apa selain berusaha memejamkan mata untuk menetralisir rasa takut yang mulai mendera.


Suara itu menghilang setelah beberapa menit, bahkan bau melati dan kemenyan itu menghilang tak berbekas.


"Alhamdulillah" ucap syukur Via di dalam hatinya.


Tak berselang lama kelegaan meliputi hatinya, tiba-tiba di kejutkan oleh jendela yang terbuka secara tiba-tiba. Angin berhembus begitu kencang, gorden tersibak dan memperlihatkan gelap nya malam di luaran.


Degup jantung Via kembali berpacu dengan sangat cepat, ada ketakutan yang kembali menghinggapi dirinya. Dalam gelap nya malam di luaran, bisa terlihat sangat jelas jika ada sosok yang berada di samping jendela nya.


Kini sosok itu berada tepat di depan mata Via, melompat-lompat bagaikan tak ada rasa lelah. Masih dengan kondisi menyeramkan bagi yang melihatnya.


Dengan sekuat tenaga Via berusaha berteriak, meminta pertolongan, namun sia-sia karena suaranya tercekat. Tak ada yang mampu di lakukan Via selain menangis hingga pingsan.

__ADS_1


__ADS_2